Ada kalanya manusia merasa bahwa penderitaannya tidak penting bagi Tuhan. Kita mungkin berpikir bahwa masalah kita terlalu kecil dibandingkan dengan persoalan dunia. Kita melihat begitu banyak penderitaan manusia sehingga kita bertanya, “Apakah Tuhan benar-benar peduli dengan apa yang sedang saya alami?” Matius 8:14–17 memberikan jawaban yang indah: Yesus peduli terhadap kelemahan manusia.
Ketika Yesus masuk ke rumah Petrus, Ia melihat ibu mertua Petrus sedang terbaring karena demam. Yesus tidak melewatinya begitu saja. Ia melihat. Kata “melihat” menjadi penting karena kepedulian selalu dimulai dengan perhatian. Yesus memperhatikan penderitaan orang yang ada di hadapan-Nya. Kemudian, Yesus menjamah tangannya. Sentuhan itu bukan hanya tindakan penyembuhan, melainkan juga menyatakan bahwa penderitaan manusia tidak diabaikan oleh-Nya. Demam mungkin terlihat seperti penyakit sederhana dibandingkan dengan penyakit berat lainnya. Namun, bagi perempuan tersebut, demam itu membuatnya tidak dapat menjalankan aktivitas seperti biasa. Ia terbaring dan tidak berdaya.
Yesus peduli bahkan terhadap kelemahan yang mungkin dianggap kecil oleh manusia. Ini merupakan penghiburan besar bagi kita. Mungkin orang lain menganggap masalah kita sepele, tetapi Tuhan tidak mengukur penderitaan kita berdasarkan penilaian manusia. Namun, kepedulian Yesus tidak berhenti pada perhatian. Ia bertindak. Ia menjamah tangan perempuan itu dan menyembuhkannya. Setelah itu, Matius menghubungkan pelayanan penyembuhan Yesus dengan nubuat Nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”
Pernyataan ini membawa kita kepada pemahaman yang lebih dalam tentang pelayanan Kristus. Yesus datang bukan sekadar sebagai penyembuh penyakit fisik. Ia datang untuk membawa pemulihan manusia secara menyeluruh. Kelemahan manusia pada akhirnya menunjuk kepada kebutuhan terbesar manusia: kebutuhan akan keselamatan dan pemulihan dari dosa. Karena itu, mukjizat penyembuhan dalam Injil tidak boleh hanya dilihat sebagai demonstrasi kuasa. Mukjizat tersebut merupakan tanda yang menunjuk kepada identitas dan karya Yesus. Ia adalah Mesias yang datang membawa Kerajaan Allah.
Di dalam Kristus, kita menemukan Tuhan yang tidak jauh dari penderitaan manusia. Ia masuk ke dalam dunia manusia. Ia melihat yang lemah, menjamah yang sakit, dan menerima yang tersingkir. Pada akhirnya, Ia sendiri menanggung penderitaan demi keselamatan manusia. Karena itu, ketika kita sedang lemah, jangan merasa bahwa Tuhan jauh. Mungkin kita sedang mengalami kelemahan fisik, kelelahan emosional, tekanan dalam keluarga, atau pergumulan dalam pekerjaan dan pelayanan. Mungkin ada beban yang tidak dapat kita ceritakan kepada siapa pun. Bawalah semuanya kepada Yesus.
Namun, kita juga perlu belajar bahwa kepedulian Tuhan tidak selalu berarti Ia akan menghilangkan setiap penderitaan seketika. Ada kalanya Tuhan menyembuhkan secara ajaib. Ada kalanya Ia menggunakan proses, dokter, keluarga, sahabat, dan berbagai sarana lainnya. Ada pula saat ketika Tuhan memberi kekuatan untuk bertahan di tengah penderitaan. Yang pasti, kehadiran Tuhan tidak bergantung pada hilangnya masalah. Tuhan dapat hadir bahkan ketika masalah belum selesai. Paulus pernah mengalami “duri dalam daging” dan belajar bahwa kasih karunia Tuhan cukup baginya. Ini mengingatkan kita bahwa kuasa Tuhan tidak hanya terlihat ketika kelemahan dihilangkan, tetapi juga ketika manusia dimampukan untuk tetap berdiri di tengah kelemahan.
Karena itu, jangan malu mengakui kelemahan. Kita tidak dipanggil untuk selalu terlihat kuat. Di hadapan Kristus, kita boleh datang dengan keadaan apa adanya. Tuhan tidak menolak manusia yang lemah. Justru di dalam kelemahan, kita belajar bahwa kita membutuhkan-Nya. Tuhan bukan hanya sebagai Pribadi yang memiliki kuasa, tetapi juga penuh belas kasih. Ia melihat, mendekat, menjamah, dan memulihkan. Ketika pemulihan belum datang seperti yang kita harapkan, Ia tetap menyertai.