Skip to content

Ukuran Kehidupan

 

Salah satu yang membuat bodoh banyak orang beragama, juga orang-orang Kristen, adalah ketika berpikir ada ukuran ganda dalam gereja. Hal ini juga terkait dengan jabatan imam atau jabatan hamba Tuhan. Kita harus mengerti bahwa semua orang Kristen hanya memiliki satu ukuran; yaitu kehidupan Yesus atau berkenan di hadapan Allah. Dan di dalam kekristenan tidak ada pemisahan antara imam dan awam. Kalau di zaman Perjanjian Lama ada kelompok imam—yang berasal dari keluarga suku Lewi—lalu ada suku-suku lain yang tidak menduduki jabatan imam. Namun hal itu tidak boleh terjadi dalam kehidupan orang Kristen hari ini.

Ada kelompok imam yang disebut para hamba Tuhan dan pendeta, dan kelompok awam yang tidak pernah berani menyebut dirinya hamba Tuhan. Jabatan hamba Tuhan dipandang begitu sakral, begitu tinggi dalam kehidupan rohani. Ini sebenarnya pembodohan yang dapat membuat pikiran kita menjadi sesat. Ukuran moral dan ukuran kesucian kita itu sama. Pendeta, aktivis dan jemaat, sama, yaitu berkenan di hadapan Allah atau serupa dengan Yesus. Jadi semua kita ini semestinya adalah imam-imam atau hamba-hamba Tuhan, sebagaimana ditulis dalam 1 Petrus 2:9, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kemempunyaian Allah.”

Di satu sisi kita harus mengerti bahwa tidak semua manusia menjadi umat pilihan. Kita menjadi Kristen ini memang karena ditentukan oleh Allah; hidup di zaman Perjanjian Baru, setelah Yesus naik ke surga, mendengar Injil dengan lengkap, memiliki keadaan jasmani dan rohani yang baik, yang bisa menangkap kebenaran Injil, dan kita bisa melakukannya. Kecuali seseorang cacat fisik—buta, tuli, atau lainnya—dan keterbelakangan mental, mereka pasti tidak bisa mencapai sempurna. Tentu nanti kalau mereka meninggal dunia, Tuhan tidak memberi penghakiman dengan ukuran yang sama dengan kita yang sehat sempurna ini.

Walaupun kita ini orang yang dipilih, namun bukan berarti kita pasti masuk surga. Kita wajib masuk perlombaan; artinya kita adalah orang-orang yang harus berjuang untuk mencapai kehidupan sebagai anak-anak Allah. Kehidupan sebagai anak-anak Allah itu bukan hanya sebuah status, melainkan keberadaan. Dalam bahasa Yunani disebut huios (uiov) artinya anak yang sah, yang juga bisa berarti pangeran-pangeran yang melayani Sang Bapa, Sang Maha Raja. Pangeran-pangeran yang sekaligus menjadi hulubalang-hulubalang. Kita adalah hulubalang-hulubalang dari Allah Bapa kita yang harus meneruskan karya keselamatan Allah yang dikerjakan Yesus dan diestafetkan kepada kita. Kita teruskan sampai ke ujung bumi. 

Dulu kita adalah hamba dosa yang hidup hanya untuk melakukan keinginan dan kesenangan sendiri. Namun sekarang kita adalah hamba Allah, artinya kita hidup hanya untuk melakukan kehendak Allah. Jadi, semua kita ini adalah hamba-hamba Tuhan, imam-imam, musketeers (hulubalang-hulubalang) Allah. Jadi, kita harus bisa membedakan kekristenan dengan agama pada umumnya. Agama itu atributnya, di mana yang pertama merupakan atributnya hukum. Agama di mana-mana ada hukum halal-haram, boleh-tidak boleh. Tetapi kekristenan tidaklah demikian. 

Dalam kekristenan, hukumnya bukan halal-haram atau boleh-tidak boleh, melainkan perasaan Allah—berkenan kepada Allah atau tidak—yang berangkat dari pikiran dan perasaan Allah, maka orang Kristen harus bersekutu dengan Tuhan. Dan setiap orang Kristen diberi Roh Kudus, yang kalau diaktifkan, Dia pasti bisa mengerti ini kehendak Allah atau bukan. Jadi, dosa bukan hanya mencuri, membunuh, berzina, berjudi, atau pelanggaran moral yang lain, lebih dari itu. Setiap tindakan yang tidak tepat, tidak presisi seperti yang Allah kehendaki adalah dosa.