Ketika Tuhan Yesus berbicara mengenai kelahiran baru kepada Nikodemus, Ia berkata, “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh” (Yoh. 3:8). Maka ciri orang yang lahir baru adalah memiliki tujuan yang kokoh, yaitu Kerajaan Surga, dan hal itu pasti terekspresi secara kuat dalam hidupnya. Ada banyak agama yang mengajarkan adanya surga. Mereka juga memiliki perbuatan-perbuatan yang tampak mengesankan bahwa mereka sedang menuju surga, menyenangi surga, mengharapkan upah di surga, atau memiliki tujuan menuju surga. Namun mereka tidak memengaruhi orang lain. Kehidupan orang Kristen seharusnya memancarkan cahaya yang membuat surga dapat “dilihat” oleh orang lain; melalui hidup kita orang dapat menemukan tujuan hidup yang benar.
Kita harus jujur mengakui bahwa bertahun-tahun menjadi orang Kristen, kita belum memancarkan surga sebagai tujuan hidup. Atau jika sudah, hal itu belum terlihat secara kuat. Kita harus lebih sungguh-sungguh lagi. Tanpa banyak berbicara, orang seharusnya dapat merasakan bahwa hidup kita menunjukkan surga kepada mereka. Namun harus diakui dengan jujur, tidak banyak orang yang kehidupannya memancarkan cahaya yang menunjukkan realitas adanya Yerusalem Baru. Kolose 3:1–4 mengatakan, “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.”
“Kita dibangkitkan” berarti kita harus mati terlebih dahulu. Tidak akan ada kehidupan tanpa kematian. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa kita telah mati. Kita tidak akan pernah memancarkan cahaya yang membuat orang menemukan surga sebelum kita sungguh-sungguh dibangkitkan. Setelah seseorang dilahirkan baru oleh kebenaran firman—perlu diingat bahwa kelahiran baru bukanlah satu titik, melainkan sebuah garis panjang, suatu proses yang misterius—barulah ia mengetahui ke mana tujuannya. Jika kita telah dibangkitkan—yang berarti kita telah mati terhadap hidup yang lama—barulah kita dapat mengerti.
Orang Kristen yang memiliki sikap radikal secara positif seperti ini pasti akan memancarkan kemuliaan surga dalam hidupnya. Bagi orang yang merindukan surga, pribadi seperti ini akan dicari. Namun bagi orang yang tidak menginginkan keselamatan, pribadi seperti ini justru dianggap mengganggu. Walaupun demikian, Tuhan menghendaki kita hidup demikian. Jika tidak sampai pada tingkat kesungguhan seperti itu, kita tidak akan menjadi terang. Kita masih hidup di dunia, tetapi seharusnya tidak hidup menurut cara dunia. Jangan heran jika orang-orang yang tidak menyukai Kerajaan Surga, yang tidak berani bersikap militan dan sepenuhnya bagi Tuhan Yesus, akan menuduh kita sebagai orang yang ekstrem, berlebihan, atau fanatik. Jangan memperhitungkan orang seperti itu dan jangan terlalu mempertimbangkan ucapan mereka. Kita harus menghargai perkataan Tuhan. Yang harus kita pikirkan adalah kemuliaan bersama Kristus.
Sebagaimana ketika kita bertemu seseorang yang memiliki hobi tertentu dan sangat fanatik terhadap hobinya—misalnya memancing—ketika kita melihat orang tersebut, kita langsung teringat pada kegiatan memancing. Sekarang pertanyaannya, bagaimana reaksi seseorang ketika ia melihat kita? Apakah ia langsung teringat kepada surga? Bahkan tanpa melihat wajah kita, ketika mendengar nama kita saja, apakah ia langsung teringat kepada surga? Itulah gambaran seseorang yang benar-benar menjadi terang. Hidupnya begitu kuat memancarkan tujuan hidup sehingga orang lain diarahkan untuk menemukan tujuan yang benar.
Untuk sebuah mobil yang belum tentu hilang saja, kita sering mengasuransikannya. Untuk apa? Supaya ada kepastian bahwa jika mobil itu hilang, ada jaminan penggantinya. Lalu untuk hal yang jauh lebih penting—yaitu keselamatan—kita tidak boleh bersikap seolah-olah mempertaruhkan nasib. Namun sejujurnya, banyak orang tidak memiliki kepastian keselamatan. Bagaimana dengan kita?