Skip to content

Tuhan, Cukup Bagiku

 

Tuhan Yesus memberikan nasihat dalam Lukas 12:15, “Kata-Nya lagi kepada mereka: Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Ketamakan adalah sikap yang tidak pernah puas, tidak pernah merasa cukup bagi dirinya sendiri. Jika seseorang tidak dapat merasa puas dan cukup untuk dirinya sendiri, apalagi ia dapat puas demi orang lain? Ketamakan melahirkan sikap egosentris—keinginan untuk terus memuaskan diri. Alih-alih berbagi dengan sesama, apa yang dimiliki pun dirasakan tidak cukup, dan masih ingin ditambah lagi. Dalam konteks resolusi, komitmen, atau tekad untuk mengejar kekayaan, kemakmuran, dan kelimpahan materi, Tuhan Yesus menegaskan bahwa hidup manusia tidak tergantung pada kekayaannya.

Oleh karena itu, jangan menggantungkan hidup kepada apa yang disebut kekayaan, sebab itu bukan sandaran hidup manusia yang sesungguhnya. Kalimat “hidup manusia tidak tergantung daripada kekayaannya” menunjukkan bahwa hidup manusia bergantung pada sesuatu yang lain. Kekayaan, kemakmuran, dan kelimpahan berkat bukanlah gantungan utama dalam kehidupan manusia. Firman Tuhan dalam Matius 6:33 berkata, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Ayat ini menjelaskan bahwa kekayaan, kemakmuran, dan kelimpahan hanyalah tambahan, sebuah pelengkap—bukan hal utama yang dibutuhkan manusia. Karena itu, berjaga-jaga dan waspada adalah hal utama dalam resolusi dan komitmen kita untuk menemukan Kerajaan Allah serta kebenaran-Nya.

Kita harus berhati-hati. Alih-alih menemukan Kerajaan Allah dan kebenarannya, banyak orang bahkan tidak konsisten mencarinya, tidak memiliki komitmen kuat untuk menemukannya. Seseorang dapat merasa bahwa mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya adalah sesuatu yang sulit, mustahil, serta utopis atau hanya angan-angan belaka—bahkan dianggap sebagai urusan pemuka agama atau pendeta saja. Ini adalah bentuk kesesatan berpikir. Urusan Kerajaan Allah dan kebenarannya adalah bagian inheren, bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang percaya.

Jika seseorang hanya berhenti pada identitas sebagai “pemeluk agama Kristen,” maka kekristenan itu belum utuh, rapuh, dan mudah bergeser ke keyakinan lain. Tidak perlu ditutup-tutupi bahwa banyak orang yang beragama Kristen meninggalkan imannya dengan berbagai alasan. Jika seseorang meninggalkan iman Kristen dan memeluk keyakinan lain, sebenarnya itu menunjukkan bahwa ia belum pernah menemukan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Karena itu, lebih tepat dikatakan: ia belum pernah memiliki iman Kristen sejati.

Sebab, jika seseorang memiliki iman Kristen yang sejati—hidup dalam suasana Kerajaan Allah dan mengenakan kebenaran-Nya—maka meninggalkan Tuhan adalah sesuatu yang mustahil. Ia tidak mungkin menukarkan keindahan Kerajaan Bapa yang tidak tertandingi dengan hal-hal duniawi yang profan dan sementara.

Karena itu, penulis mengajak pembaca renungan harian Truth untuk memiliki resolusi dan tekad yang baru di tahun 2026: menjadi manusia yang semakin berkenan kepada Tuhan, dengan terus mencari Kerajaan Allah, menghidupi kebenaran-Nya, dan mewujudkannya dalam perilaku hidup setiap hari. Semua ini tidak berlangsung lama. Jika seseorang menghidupi kehendak Allah selama 70, 80, bahkan 100 tahun, maka ganjarannya adalah hidup dalam kemuliaan untuk selama-lamanya.