Titik Terendah

Saudaraku sekalian yang kekasih,

Mungkin ada di antara Saudara yang pernah mengalami bagaimana masuk penjara; tetapi sebagian besar pasti tidak pernah dan jangan pernah. Ketika saya sakit 15 hari saya merasa ada di dalam penjara, karena tangan saya diinfus, saya tidak bisa bergerak banyak. Nah, betapa tidak menyenangkan keadaan di penjara itu. Apalagi dalam kondisi sakit yang tidak boleh dibesuk, tidak boleh didampingi, tidak ada siapa-siapa. Pada momentum kita dalam suasana terpenjara, sejatinya merupakan saat kita bisa merenungkan kehidupan. Dan dalam situasi seperti itu, kita bisa fokus kepada Tuhan. 

Saat-saat seseorang dalam keadaan seperti itu mudah sekali bertobat, mudah sekali membereskan diri di hadapan Allah, mudah sekali membereskan diri dengan sesama, berdamai dengan orang, minta ampun kepada Tuhan, bertekad untuk hidup suci, memperbarui diri. Tetapi setelah sembuh dari sakit, ketika dunia terbuka untuk kita raih, ketika banyak kesenangan yang bisa kita nikmati, ketika kita bebas mengekspresikan perasaan, kita berubah. Waktu sakit, waktu dipenjara, waktu di ujung maut, orang bisa berkata, “kuampuni, kumaafkan orang yang bersalah kepadaku.” Tetapi ketika sudah di luar, itu bisa berubah. 

Di sini kita harus benar-benar memiliki integritas, bertekad, berjuang, bertekun untuk tetap ada di jalur yang benar. Kalau Tuhan sudah membawa kita di situasi-situasi tertentu—bukan hanya di penjara, bukan hanya waktu sakit dan mau mati—tetapi di situasi/momentum tertentu di mana Tuhan membawa kita di titik rendah, kita harus menjaga suasana rohani tersebut bahkan kita harus bisa meningkatkannya ketika kita tidak lagi di situasi itu. Ketika kita berada di titik terendah, di situ ada momentum-momentum yang bagus. Ketika kita dalam keadaan putus asa, dalam keadaan tidak punya harapan, rasa tinggal tetes terakhir hari hidup kita, tetapi tetes itu manis, itu madu, itu keindahan untuk Tuhan dan untuk kita, maukah? Tetes ini yang harus dipertahankan. 

Terkait dengan hal ini, saya membayangkan kalau nanti orang di hadapan Tuhan, itu merupakan titik terendah dari segala titik. Dan orang baru bisa menghayati hidup. Tetapi kita tidak usah menunggu di hadapan Allah. Sejak sekarang kita bisa membawa diri kita ke momentum itu. Kapankah itu? Dalam suasana tertentu; seperti sakit, mau mati, masuk penjara dan lain-lain, namun juga pada waktu kita berdoa, waktu kita merenungkan Tuhan, kita bisa sampai titik tersebut. Dan di titik itu ada suasana indah, ada momentum luar biasa di mana kita bisa menghayati kehidupan lalu melahirkan komitmen-komitmen yang bernilai abadi dan itu bisa kita lestarikan

Seperti hari ini, Minggu 14 November 2021, kita berjanji untuk menjadi anak yang berkenan, menjadikan hari ini hari yang lebih baik dari hari kemarin, hidup tidak bercacat tidak bercela. Titik terendah bukan karena kita putus asa, sedang kecewa, sedang dilanda problem, melainkan waktu kita berada di hadirat Allah. Karenanya jangan berubah kalau Tuhan membawa kita ke titik rendah, hayati suasana itu dan bawa terus karena itu merupakan sarana Allah mengeskalasi (mengangkat) kita. Dan temukan titik-titik/momentum-momentum seperti itu waktu kita berdoa, tidak perlu harus sakit, dipenjara, menderita, pahit, depresi, dan lain-lain; tidak perlu lewat itu. 

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono

Jangan berubah kalau Tuhan membawa kita ke titik rendah, hayati suasana itu dan bawa terus, karena itu merupakan sarana Allah mengangkat kita