Tidak Siap

Kenyataan yang dapat kita lihat dan buktikan, bahwa banyak orang yang tidak tergetar terhadap realitas kekekalan. Mereka adalah orang-orang yang tidak bisa menghargai Allah secara benar, orang-orang yang tidak percaya kepada Allah secara benar. Orang yang tidak menghayati bahwa dirinya makhluk kekal dan ada realitas kekekalan, tidak tergetar oleh hal ini sehingga dia tidak berusaha berkenan kepada Tuhan. Seperti hewan yang tidak menyadari kekekalan, cenderung menjadikan sesamanya sebagai mangsa. Demikian pula sebagian besar manusia yang tidak mengenal dirinya sebagai makhluk kekal. Lihat saja, mereka bersikap sewenang-wenang terhadap sesamanya tanpa peduli bahwa ada Hakim yang akan meminta pertanggungjawaban. Kesadaran terhadap realitas bahwa manusia adalah makhluk kekal harus dihubungkan dengan realitas kematian yang akan dialami manusia. Sepasti matahari yang terbit di ufuk timur, sepasti itu pula kematian yang kita akan alami. Masalahnya, kepastian mengenai kematian ini sering dilupakan orang. Mereka tidak berusaha memikirkannya. Bahkan, mereka meminta supaya menghentikan percakapan mengenai kematian. Mereka tidak sanggup. Suatu hari, mereka akan menyesal. 

Khotbah dan lagu mengenai kematian mengingatkan kita terhadap realitas kematian yang pasti kita hadapi, dan kekekalan yang kemudian kita akan alami. Hampir bisa dipastikan bahwa orang yang takut mendengar hal kematian, sejatinya adalah orang yang tidak siap menghadapi kematian. Orang-orang seperti ini sebenarnya orang-orang yang sangat malang. Dia tidak ingin mendengar hal yang menyangkut kematian. Padahal, suatu saat dia pasti mengalaminya. Betapa takut dan mengerikannya keadaan orang-orang yang ketika masih hidup tidak suka mendengar hal kematian. Waktu di ujung maut, mereka tidak akan siap menghadapi kematiannya dan tidak akan punya kesempatan untuk masuk dalam realitas kekekalan. Sebaliknya, orang yang akrab dengan tema “kematian dan kekekalan,” siap menghadapi realitas. Mereka akan kokoh menghadapi kematian karena sudah mempersiapkan diri. Mereka adalah orang-orang yang telah mematikan keinginan dirinya sendiri, dan hidup melakukan kehendak Allah. 

Kematian adalah masa transisi dimana manusia berpindah dari dunia fana ini kepada kekekalan. Transisi yang dinantikan oleh mereka yang telah menghayati dirinya adalah makhluk kekal, dan telah berusaha hidup berkenan di hadapan Tuhan sebagai persiapan untuk memasuki kekekalan. Sebaliknya, kematian menjadi sesuatu yang menakutkan bagi orang-orang yang tidak menghayati realitas kekekalan, sebab ia tidak mempersiapkan diri untuk menjadi manusia yang benar-benar berkenan di hadapan Tuhan. Sesuatu yang tidak logis; jika kendaraan yang belum tentu menabrak atau ditabrak, namun kita asuransikan, lalu mengapa untuk hal kematian yang pasti, tidak kita persiapkan? Orang-orang yang tidak mempersiapkan kekekalan adalah orang-orang yang celaka; tidak memiliki pengharapan di kekekalan. Pengharapannya ada di dunia hari ini. Kalau kita membaca Alkitab, kita menemukan model orang percaya yang sungguh-sungguh telah mempersiapkan diri menghadapi kekekalan. Dalam 2 Timotius 4:7-8 Paulus mengatakan, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” 

Ayat ini sering dicantumkan pada berita duka atau berita kematian. Menjadi pertanyaan bagi kita semua, apakah orang yang meninggal dunia tersebut sudah berjuang seperti Paulus? Orang yang belum sungguh-sungguh melakukan pertandingan yang baik, belum mencapai garis akhir, dan tidak memelihara iman, tidak pantas menerima mahkota kebenaran. Sejujurnya, banyak orang yang sebenarnya tidak layak menerima mahkota kebenaran, tetapi mereka mengaku—atau biasanya keluarganya yang masih hidup yang menyatakan—bahwa mereka yang meninggal layak mendapatkan mahkota tersebut. Ada pula yang menulis, “Telah pulang dengan damai ke Rumah Bapa.” Sejujurnya, apakah benar orang tersebut pulang dengan damai ke Rumah Bapa? Jangan-jangan, pulang dengan ketakutan ke rumah yang lain, bukan Rumah Bapa. Jika selama hidup, ia hanya hidup untuk memuaskan kesenangannya sendiri, tidak mungkin bisa pulang dengan damai dan bermartabat. Orang seperti ini pasti pulang dengan ketakutan, sebab masih terikat dengan dunia. Tidak mungkin seseorang dapat pulang dengan damai, kalau selama hidup tidak melakukan kehendak Bapa. Maka selagi masih ada kesempatan, kita berbenah diri, agar ketika tiba giliran kita, kita pulang dengan damai dan bermartabat.

Orang yang takut mendengar hal kematian, sejatinya adalah orang yang tidak siap menghadapi kematian.