Skip to content

Tidak Punya Keinginan Lagi

 

Bisa dikatakan, hampir semua orang ketika hari senja dalam usia hidupnya, saat di mana kondisi hidupnya—fisik dan psikis (kejiwaan) —dan mungkin juga kondisi lingkungan, menempatkan dirinya tidak bisa lagi memiliki keinginan. Kalaupun ada, ia tidak akan dapat memuaskan, memenuhi, dan mencapainya pada saat seperti itu. Kalau sejak muda ia hidup hanya untuk memenuhi keinginannya, dia bisa mati dalam kemalangan atau kemiskinan. Mungkin dia tidak pernah bisa menyaksikan kepada orang lain kesepian hebat yang dia alami akibat kemiskinan keadaan dirinya. Belum lagi kalau kondisi lingkungan juga menempatkan dirinya dalam keadaan dia tidak dapat atau tidak bisa memiliki keinginan. Betapa malangnya hari senja orang-orang seperti ini.

Sementara itu, selama ini dia telah menghabiskan umur hidupnya untuk keinginan-keinginannya sendiri; yaitu dari satu keinginan ke keinginan yang lain. Ternyata apa yang diperoleh di perjalanan hidup—sebanyak apa pun itu—harus dia lepaskan dan tidak bisa dia nikmati lagi. Belum lagi kalau itu berupa harta yang membuat anak cucu berkelahi, makin tragis lagi. Namun, apa yang diajarkan Tuhan Yesus—walau berat sekali—adalah kunci kebahagiaan, kemerdekaan dan kebebasan yang sejati. Mestinya kita sebagai orang Kristen tidak boleh punya keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, baik perkara kecil maupun perkara besar. Mestinya kita dalam segala hal yang kita ingini harus presisi atau tepat seperti apa yang Allah inginkan. 

Kalau seorang hamba Tuhan mau menjadi alat Tuhan yang maksimal, maka ia harus: (1) hidup kudus; (2) tidak boleh punya keinginan kecuali itu kehendak Tuhan. Sebab saat dua hal ini dimiliki seorang hamba Tuhan, maka kehadirannya adalah kehadiran Tuhan, perkataannya adalah perkataan Tuhan. Ia akan memiliki kuasa dan wibawa Allah, karena Tuhan akan memercayakan kuasa-Nya kepada hamba Tuhan seperti ini. Dia tahu kapan berkata, “Dalam nama Yesus, sembuh.” Atau kapan dia berkata, “Tuhan, tolong.” Sejatinya, standar ini bukan hanya untuk pendeta, melainkan untuk kita semua. Karena Firman Tuhan mengatakan, “Tubuhmu adalah bait Roh Kudus.”

Sebagaimana Tuhan Yesus berkata di Yohanes 2:19, “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Maksudnya adalah ketika Tuhan Yesus mati, dalam 3 hari Ia bangkit. Yesus menyamakan diri-Nya dengan bait Allah, dan itu dikemukakan oleh Paulus, “Atau tidak tahukah kamu bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu.” Tubuh kita adalah tempat atau sarana di mana Allah dimuliakan dan ini kehormatan serta anugerah yang luar biasa. Juga dalam 1 Korintus 6:19-20, “Kamu telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar, bahwa kamu bukan milik kamu sendiri. Tubuhmu itu bait Allah. Oleh sebab itu, muliakanlah Allah di dalam dan dengan tubuhmu!”

Entah mengapa, selama ini kalimat itu tidak berkuasa, tidak berwibawa dan tidak merebut kita untuk sungguh-sungguh hanya bagi kemuliaan Allah. Kalau tubuh kita menjadi bait Roh Kudus, maka tidak ada bagian bagi kita, karena semua untuk kemuliaan Allah. Sehingga saat di hari tua kita nanti, walau kita sudah berkeadaan tidak bisa punya keinginan lagi, namun karena sepanjang hari hidup kita hanya memenuhi keinginan Tuhan, kita jadi kaya dengan karya-karya yang berguna untuk Tuhan.

 

Tidak tahu bagaimana ya, banyak orang Kristen yang merasa masih punya hak untuk menikmati kehidupan dengan cara atau polanya sendiri. Memang, dalam hidup ini kita pasti memiliki kebutuhan—ada kebutuhan umum, kebutuhan dasar dan kebutuhan khusus—akan tetapi semua itu pun tentu dalam kontrol Allah.

Kebutuhan dasar seperti, tunangan, punya pasangan hidup, punya anak dan membesarkan sampai mandiri, memang harus diperjuangkan. Jika kita bekerja baik-baik, menjaga pola makan dan pola hidup dengan baik, pasti Tuhan akan penuhi. Jangan kita takut dan jangan juga khawatir. Dalam hal ini gereja tidak boleh menyesatkan dengan mengajarkan bahwa, kalau ke gereja dan berdoa atau didoakan akan membuat rezeki tambah banyak dan jalan lebih mudah. Itu menyesatkan. Belajarlah untuk terus berjalan bersama Tuhan dan kalau ada kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar, maka sejatinya itu adalah bagian dari proses yang mendewasakan kita. Ini adalah filosofi Alkitabiah yang luar biasa. Jadi, mestinya kita dari muda mengerti hal ini.

Kalau anak-anak belum mengerti, namun karena melihat orang tua yang sudah membuat model dan gaya hidup yang benar, mereka akan meneruskan itu sebagai warisan abadi. Tentu ini seiring dengan umur anak yang bertambah dan pengerti anak tentang filosofi atau prinsip-prinsip hidup orang tuanya. Karena itu, di dalam proses pemenuhan kebutuhan dasar kita itu, semua harus kita lakukan untuk Tuhan. Sehingga, kita bisa efektif di mana pun berada dan kita bisa menjadi saksi. Sebab, pemenuhan kebutuhan dasar ini tujuannya bukan sekadar memenuhi kebutuhan dasar dibumi yang ini, melainkan agar kita mempersiapkan diri memasuki Langit baru bumi baru. Karenanya, tujuan hidup kita harus diarahkan dulu ke Langit baru bumi baru. Dan ternyata, tujuan ini yang tidak dimiliki hampir semua orang, termasuk orang-orang Kristen.