Salah satu hal yang lazim dilakukan manusia modern ketika memasuki pergantian tahun—seperti tahun 2026—ialah membuat berbagai resolusi, komitmen, atau kebulatan tekad untuk mencapai sesuatu di tahun yang baru. Ada yang bertekad untuk hidup lebih sehat dari tahun-tahun sebelumnya, lalu menyusun program olahraga rutin, mengatur pola makan, menentukan waktu istirahat yang cukup, dan sebagainya. Ada pula yang berkomitmen untuk melakukan pengetatan anggaran, dengan membeli hanya apa yang dibutuhkan, bukan sekadar yang diinginkan. Yang lain menyusun tekad untuk hidup lebih baik dalam hal ekonomi, relasi keluarga, dan banyak hal lainnya.
Singkatnya, semua resolusi tersebut berorientasi pada keinginan agar berbagai aspek kehidupan berjalan baik sepanjang tahun. Tidak ada yang salah dari resolusi, komitmen, atau tekad seperti itu. Tidak ada larangan, dan tidak ada batasan bagi manusia untuk menentukan apa yang ingin ia capai. Semua manusia memiliki kehendak bebas untuk mengupayakan apa yang dianggapnya penting. Namun, kita harus jujur bahwa semua tekad itu hanya menyentuh rentang hidup yang sangat singkat—70 tahun, 80 tahun, atau mungkin 100 tahun.
Sebagai manusia, kita memang perlu bersikap optimistis: optimistis untuk sukses, optimistis sehat, optimistis rumah tangga harmonis. Tetapi kita juga harus realistis, sebab tidak jarang harapan tidak selaras dengan kenyataan. Kenyataan yang tidak sesuai harapan sering melahirkan kecemasan, kegelisahan, dan ketakutan.
Penulis tidak sedang menebarkan aroma pesimisme atau keputusasaan, tetapi mengajak kita bersikap realistis, bukan optimistis yang berlebihan atau pesimistis yang mematikan. Marilah merenungkan realitas resolusi dan komitmen yang kita buat. Sesehat-sehatnya manusia, hidup ini tetap terbatas. Hanya sedikit manusia yang mencapai usia seratus tahun. Bahkan tidak jarang seseorang yang tampak sangat sehat—olah raga teratur dan hidup disiplin—meninggal mendadak, entah di lapangan bulu tangkis, jogging track, gunung, atau tempat lainnya.
Sekali lagi, ini bukan ajakan untuk bersikap negatif mengenai kesehatan. Kita harus bertanggung jawab atas kesehatan dengan olahraga rutin, konsumsi makanan bergizi, dan istirahat yang cukup. Tetapi semua itu berlangsung sebentar, “tidak lebih dari 70 tahun”—seperti rumput yang cepat layu. Inilah realitas hidup manusia: sangat singkat. Alkitab mengatakannya dengan gamblang dalam 1 Petrus 1:24, “Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput; rumput menjadi kering dan bunga gugur.” Semua yang hidup—termasuk manusia—adalah seperti rumput.
Karena itu, manusia berkomitmen untuk meningkatkan kualitas hidup dengan cara memiliki kekayaan tertentu. Namun kenyataannya, manusia tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Ketika ia memiliki seratus, ia merasa perlu seribu. Ketika mencapai seribu, ia mengejar sepuluh ribu, seratus ribu, sejuta, dan seterusnya tanpa pernah merasa cukup. Segala kekayaan, reputasi, dan pencapaian manusia—yang sering dikejar mati-matian—pada akhirnya hanyalah seperti bunga rumput: indah di awal, tetapi layu dan gugur pada akhirnya.