Skip to content

Tidak Perlu Memilih

 

Banyak orang Kristen merasa dirinya sudah berbeda dengan orang lain. Beda hanya karena mereka mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, sedangkan orang non-Kristen tidak. Padahal, Tuhan Yesus bukan Tuhan yang picik. Ia adalah Tuhan yang agung dan mulia. Ia tidak dipuaskan hanya dengan pengakuan lisan bahwa kita percaya kepada-Nya. Pengakuan semacam itu tidak memiliki arti kecuali dalam konteks tertentu, seperti pada zaman gereja mula-mula. Di masa itu, ketika seseorang menyatakan iman percaya kepada Kristus, di dalam kata “percaya” sudah terkandung satu paket lengkap: penderitaan, kehilangan, dan bahkan kematian.

Menjadi orang Kristen di zaman gereja mula-mula berarti siap memikul salib sejak hari pertama. Anak-anak yang lahir dari keluarga Kristen pun sadar bahwa di depan mereka sudah tersedia jalan salib. Allah sendiri yang telah menyiapkan “kurikulum” hidup untuk mendidik mereka agar serupa dengan Kristus. Karena itu, orang tua memiliki peran yang sangat penting untuk menjadi mentor dan pengarah, agar anak-anak mengalami proses keberimanan sejati. Paulus menulis kepada Timotius bahwa ia mewarisi iman dari nenek dan ibunya. Namun itu tidak otomatis. Timotius melihat teladan hidup mereka, terbimbing oleh arahan rohani, dan akhirnya membangun hubungan pribadi dengan Allah.

Dengan demikian, iman bukan sesuatu yang mistis atau adikodrati yang secara tiba-tiba Allah taruh dalam hati seseorang. Iman harus ditumbuhkan, dilatih, dan dikembangkan. Karena itu Alkitab menyebutnya sebagai “perlombaan yang wajib.” Yang lain tidak wajib, tetapi perlombaan iman wajib dijalani. Ketika seseorang menjadi orang Kristen — entah karena lahir dalam keluarga Kristen atau karena pertobatan pribadi — sesungguhnya sudah tersedia kemuliaan bersama Kristus. Namun kemuliaan itu memiliki harga, sebagaimana tertulis dalam Roma 8:17: “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, yaitu orang-orang yang berhak menerima janji Allah bersama-sama dengan Kristus, jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.”

Karena itu, berbahagialah kita yang menjadi orang Kristen. Kita memiliki dinamika hidup yang luar biasa sebagai anak-anak Allah. Seperti seorang anak yang sejak lahir sudah menjadi ahli waris, warisan rohani itu sudah tersedia. Tetapi pertanyaannya, apakah kita mau menderita bersama dengan Kristus? Sebab untuk mencapai kemuliaan itu, seseorang harus mengalami kedewasaan rohani. Gereja mula-mula cepat dewasa karena penderitaan membuat mereka berhenti berbuat dosa dan hidup hanya bagi Allah. Penderitaan menjadi sarana Allah memurnikan iman mereka agar efektif bagi pekerjaan Kerajaan-Nya.

Karena itu, marilah kita bertobat dan memilih Tuhan. Jangan merasa sudah Kristen sehingga tidak perlu lagi memilih. Kita harus memilih! Setiap hari, kita harus memperbarui komitmen untuk berjalan bersama Kristus. Bersyukurlah bila hari ini Tuhan masih memproses kita, sekalipun melalui situasi yang tidak menyenangkan. Kitalah saksi-saksi dan utusan Kristus di tengah dunia yang semakin fasik. Jangan terbawa arus zaman. Mari kita menghabiskan sisa hidup ini untuk menjadi pengikut Kristus yang sejati — anak-anak Allah yang berkenan di hadapan-Nya.

Kita juga memiliki tanggung jawab besar untuk mewariskan iman kepada anak-anak. Itu tidak terjadi secara otomatis. Agama Kristen memang bisa diwariskan secara tradisi, tetapi iman tidak bisa diwariskan. Anak-anak harus mengembangkannya sendiri melalui bimbingan dan teladan yang nyata. Karena itu, orang tua harus menjadi pola yang hidup, contoh yang konkret tentang bagaimana iman bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, iman yang hidup bisa ditangkap, bukan hanya diajarkan.

Sesungguhnya, ada kuasa besar di dalam pilihan. Namun sayangnya, banyak orang Kristen tidak memahami pengertian iman dengan benar. Iman sering dipersempit menjadi sekadar keyakinan, pengakuan, atau persetujuan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat. Padahal, iman sejati bukan sekadar mengakui, tetapi menyerahkan diri sepenuhnya kepada Kristus, memilih untuk mengikut Dia, dan menderita bersama-Nya. Inilah iman yang menyelamatkan, iman yang bertumbuh, dan iman yang berbuah bagi kemuliaan Allah.