Skip to content

Tidak Mudah Dicapai

 

Ada tiga hal penyebab mengapa kita sulit untuk memenuhi apa yang Bapa inginkan, yaitu: yang pertama, Allah tidak kelihatan. Bagaimana kita mengerti apa yang Dia ingini karena sulit untuk bisa berdialog, sulit untuk berinteraksi dengan sosok yang tidak kelihatan, bukan? Oleh sebab itu, kalau kita tidak sungguh-sungguh memburu pengenalan akan Tuhan dan pengalaman pribadi yang eksklusif dengan Tuhan, sulit orang mengerti apa yang Bapa ingini atas hidupnya. 

Yang kedua, pengaruh dunia yang jahat. Menjadi jahat itu gampang di dunia yang jahat ini; otomatis kita bisa menjadi jahat. Pengaruh dunia, di mana tiap hari tanpa sadar, kita berinteraksi dengan dunia. Seseorang akan meniru apa yang dilakukan orang lain, mengadopsi apa yang dia lihat, dan beradaptasi dengan lingkungan yang fasik ini, dan itu bisa mempengaruhi gaya hidupnya.

Yang ketiga, sinful nature atau kodrat dosa. Kalau Allah kelihatan, maka akan mudah berinteraksi dan mudah pula untuk tahu apa yang Dia inginkan. Kalau dunia tidak jahat atau dunia sekitar kita baik, maka otomatis kita menjadi baik. Apalagi, kalau kita tidak punya kodrat dosa. Tapi kenyataannya, Allah tidak kelihatan, pengaruh dunia kita jahat, dan ada sinful nature di sini, ada kodrat dosa. 

Tidak mudah dicapai, bukan berarti tidak bisa dicapai. Kalau seseorang memperjuangkan dengan sungguh-sungguh, maka akhirnya akan bisa dicapai juga, yaitu menjadi anak-anak Allah seperti yang Allah inginkan. Untuk itu, kita harus benar-benar mempersoalkan, apakah kita sudah menjadi anak-anak yang diinginkan oleh Allah Bapa atau belum. Kebaikan orang tua harus diimbangi dengan tindakan nyata anak-anak membalas kebaikan orang tua. Sekarang, kebaikan Tuhan harus kita balas dengan tindakan. Dalam hal ini, kita sudah mulai tidak peduli apakah kita seorang pendeta atau bukan, apakah kita diakui sebagai rohaniwan atau tidak. Karena itu sudah menjadi tidak penting sama sekali. Akan tetapi yang penting adalah, apakah kita sudah menjadi anak seperti yang diinginkan oleh Allah Bapa di surga? Coba kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Ini masalahnya.

Dari muda kita sekolah, kuliah, kerja, dapat jodoh, dapat rumah, punya kendaraan, punya fasilitas, masih kurang apa lagi? Mau minta apa lagi sama Tuhan? Kalau mau urusan dengan Tuhan, masih mau berkat jasmani? Kurang apa? Kita telah buktikan bahwa Tuhan memelihara kita sempurna, bukan? Coba ingat siapa kita dulu. Memang ada anak yang lahir dari keluarga orang kaya, tapi tidak sedikit yang lahir dari keluarga tidak mampu. Apa kita berurusan dengan Tuhan hanya karena kita mau dapat berkat materi? Kurang percaya apa? Kita tahu yang pegang hari esok adalah Tuhan. Kalau kita selalu merasa kurang, maka sampai kapan pun tidak akan pernah berkata cukup, tidak pernah merasa cukup. Sekarang coba kita periksa, apakah kita sudah menjadi anak-anak yang diinginkan oleh Bapa? Kalau kita kilas balik apa yang kita telah jalani di hari-hari hidup dan tahun-tahun yang kita lalui, maka kita akan menyadari: siapakah kita sampai bisa menjadi seperti hari ini? 

Tuhan Yesus berfirman, “Bukan orang yang memanggil Aku Tuhan, Tuhan, masuk Kerajaan Surga, tetapi orang yang melakukan kehendak Bapa.” Sebab ada banyak orang yang memanggil Dia, “Tuhan, Tuhan,” bahkan seakan-akan sudah berbuat sesuatu bagi Tuhan, tapi Tuhan Yesus berkata, “Aku tidak kenal kamu, I never knew you.” Artinya orang-orang itu tidak mendapatkan pengakuan, bahkan dikatakan, “Hai, kamu yang berbuat jahat!” Kalau kita begitu lancar berbicara bahwa keselamatan bukan karena perbuatan baik, satu sisi kita setuju, karena Alkitab katakan begitu. Keselamatan ada karena kematian Tuhan Yesus di kayu salib. Tapi bukan berarti kita boleh tidak berbuat baik. Orang yang telah diselamatkan oleh Tuhan Yesus itu berutang untuk hidup menurut roh, bukan menurut daging. Kita harus bukan hanya baik, tapi sempurna.

Dunia kita jahat, sehingga otomatis orang menjadi jahat karena pengaruh dunia. Menjadi jahat itu otomatis di dunia hari ini, tapi menjadi baik itu pilihan dan perjuangan. Menjadi baik saja pilihan dan perjuangan, apalagi menjadi sempurna? Semakin tidak mudah dicapai, namun bukan berarti tidak bisa.