Disadari atau tidak, banyak orang menganggap bahwa “Kristen warisan” sudah menjadi standar, sehingga mereka tidak menggunakan kehendak bebasnya secara benar dan bertanggung jawab. Ini berbahaya sekali. Mereka tidak menggunakan kehendak untuk memilih Tuhan dan Kerajaan-Nya. Kehendak yang seharusnya diarahkan kepada Allah justru menjadi liar. Apa yang mereka lihat dan anggap baik, membahagiakan, atau menguntungkan, itulah yang mengisi kehendak dan hasrat mereka. Maka manusia hidup berpindah dari satu keinginan ke keinginan lain: uang, gelar, kedudukan, barang, dan berbagai kenikmatan duniawi. Lama-kelamaan, kehendak manusia itu menjadi terbelenggu.
Karena kehendak berkaitan erat dengan selera dan cita rasa, maka cita rasa rohani orang percaya pun bisa tertawan oleh dunia. Inilah yang dimaksud 1 Yohanes 2:15–17 — “keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup.” Sampai pada titik tertentu, semua itu membuat hati tidak lagi bisa diarahkan kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Yesus juga mengingatkan dalam Matius 6:22, “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; tetapi jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu.” Dan sejatinya, banyak orang kini hidup dalam kegelapan rohani, meski mereka aktif dalam kegiatan keagamaan.
Kegelapan ini digenapi sebagaimana dinubuatkan dalam Alkitab — bahwa manusia akan mengumpulkan guru-guru yang menyenangkan telinga mereka. Mereka tidak lagi mau mendengar kebenaran. Karena itu, bila kita masih bisa mendengar tentang Tuhan, masih diberi kesempatan mengikuti ibadah, renungan, atau siaran rohani, kita harus bersyukur. Sebab banyak orang sudah menutup telinga dan hati mereka, bahkan di antara mereka ada yang aktif di gereja, menjadi pelayan, bahkan rohaniwan. Mereka hanya melestarikan pola hidup keberagamaan yang diwariskan, tanpa perjumpaan pribadi dengan Tuhan.
Orang yang tidak memilih Tuhan dan Kerajaan-Nya sebagai satu-satunya agenda hidupnya sedang berada dalam pasivitas rohani, dan itu sangat berbahaya. Alkitab jelas berkata, “Kamu bukan milik kamu sendiri,” dan, “Bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan.” Juga tertulis, “Baik kamu makan, minum, atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semuanya untuk kemuliaan Allah.” (1 Korintus 10:31). Sementara 2 Korintus 5:14–15 menegaskan bahwa Yesus telah mati untuk semua orang supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup bagi dirinya sendiri, tetapi bagi Dia yang telah mati dan bangkit untuk mereka.
Itu berarti kita hidup hanya bagi Dia yang telah mati untuk kita. Tidak boleh ada agenda lain selain hidup untuk Kristus. Prinsipnya jelas: “Bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan.” Namun untuk sampai pada keadaan ini, dibutuhkan perjuangan dan pilihan yang konsisten. Tuhan tidak meminta kita membela Dia dengan kekerasan, melainkan dengan mengenakan hidup-Nya dalam hidup kita. Itulah cara tertinggi membela Kristus — dengan menampilkan karakter, pikiran, dan perasaan-Nya dalam keseharian kita.
Inilah yang paling menyenangkan hati Tuhan: ketika kita melayani Dia dengan mengenakan hidup-NyaPerubahan demi perubahan yang terjadi dalam diri kita merupakan bentuk pelayanan sejati kepada Kristus, dan untuk itu dibutuhkan keputusan setiap hari. Pilihan demi pilihan kecil menentukan arah hidup kita. Bila arah hidup kita tertuju kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya, warna hidup kita akan tampak. Kita boleh bekerja, belajar, dan berkarier, tetapi semuanya harus berfungsi sebagai sarana untuk mengenakan hidup Kristus dalam keseharian.
Kesempurnaan yang dikehendaki Tuhan bukan berarti kita bisa menyamai Allah. Yesus sendiri bergumul, namun Ia taat sepenuhnya kepada Bapa. Ia menyelesaikan hidup-Nya dengan irama yang benar — segala perbuatan-Nya selalu selaras dengan pikiran dan perasaan Allah. Ketika kita hidup di dalam hakikat Allah, maka kita memiliki irama yang sama. Dimana kita memiliki kesabaran, pengertian terhadap orang lain, menerima orang lain sebagaimana adanya. Itulah pelayanan kepada Tuhan Yesus, dan untuk itu kita harus memilih. Tidak bisa tidak memilih.