Skip to content

Tidak Berani Berkomitmen

 

Orang muda kaya dalam Matius 19 berkata, “Tuhan, apa yang harus aku lakukan supaya aku beroleh hidup yang kekal?” Tuhan menunjukkan jalan bahwa ia harus menjadi orang yang menuruti hukum; ia harus taat kepada hukum. Orang muda kaya ini ternyata bukan hanya kaya, melainkan saleh juga di mata orang beragama. Ia berkata, “Semua sudah kulakukan, Tuhan. Kurang apa lagi?” Tuhan tidak membantah; Tuhan mengakui bahwa ia sudah melakukan hukum. Namun ketika ia bertanya, “Apalagi yang kurang?”, Tuhan melihat bahwa ia menginginkan porsi yang lebih sempurna. Maka Tuhan berkata kepadanya, “Juallah segala milikmu, bagikan kepada orang miskin, datanglah ke mari, ikutlah Aku.” Seandainya orang itu melakukan apa yang Tuhan perintahkan, apakah sekaligus ia menjadi sempurna? Pasti tidak. Apakah itu berarti ia langsung bisa meninggalkan kecintaannya pada harta? Tidak mungkin. Ia sudah hidup dengan gaya berpikir seperti lingkungannya; tidak mungkin ia berubah secara mendadak. Tetapi jika ia berani saja berkata, “Ya, Tuhan,” pasti Tuhan akan memimpin dia.

Karena itu Tuhan berkata dalam Lukas 14:33, “Kalau kamu tidak melepaskan dirimu dari segala milikmu, kamu tidak dapat menjadi murid-Ku.” Tinggalkan dulu, berkomitmen dulu. Ini bukan berarti kita harus secara harfiah meninggalkan rumah atau memberikan semua uang ke gereja. Bukan. Yang dimaksud ialah komitmen bahwa kita dipanggil Tuhan dan menjadi milik-Nya. Seratus persen hidup kita milik-Nya, bukan milik kita sendiri. Kita mau hidup suci, tidak bercacat dan tidak bercela. Kita hidup hanya untuk mengabdi kepada Tuhan. Dunia bukan rumah kita; rumah kita di surga, dan kita mau pulang. Itu dulu.

Jika kita tidak berani berkomitmen, kita tidak akan pernah berubah secara benar. Karena itu Ibrani 12:1 berkata, “Tanggalkanlah segala beban dan dosa.” Mungkin ada di antara kita yang bertanya bagaimana menanggalkan beban dan dosa, sebab itu sulit. Kita harus berkomitmen lebih dahulu, dengan mata yang memandang kepada Yesus; barulah Bapa dapat mendidik kita. Namun sejujurnya, kita takut berkomitmen demikian, apalagi jika kita sudah curiga terhadap gereja. Padahal komitmen ini tidak membuat kita harus memberi uang kepada gereja atau menjadi pendeta. Jika sudah bicara sampai level ini, kita tidak lagi bicara soal perpuluhan. Itu bukan masalah sama sekali. Segenap hidup kita milik Tuhan. Lagi pula Tuhan tidak mempersoalkan apakah kita seorang pedagang atau pengkhotbah di mimbar; Tuhan mempersoalkan sikap hati kita.

Hamba Tuhan sangat berpotensi menjual nama Tuhan untuk kepentingan pribadi atau organisasi. Semua bisa memakai nama Tuhan. Tetapi sekarang kita sadar bahwa yang penting adalah menjadi mempelai Tuhan. Kita harus berani cut off. Komitmen seperti ini harus kita miliki terlebih dahulu, baru Tuhan membentuk kita. Pergi ke gereja dengan segala kegiatannya itu percuma dan sia-sia jika kita tidak memiliki komitmen. Nanti bertahun-tahun menjadi orang Kristen, menjadi majelis, aktivis, bahkan pendeta, kita tetap tidak akan sampai pada titik puncak yang Allah kehendaki. Soal bagaimana memenuhinya, belajarlah kepada Tuhan Yesus. Karena itu Alkitab berkata dalam Roma 8:12–14 bahwa “kita berutang,” bukan hidup menurut daging, melainkan menurut Roh. Dalam Roma 7, firman Tuhan mengatakan, “Dengan akal budiku aku melayani hukum Allah; dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.”

Jadi, dalam Matius 19, orang muda kaya tersebut akhirnya pergi, dan Tuhan tidak menurunkan standar-Nya. Tuhan Yesus bukan seperti pedagang di pasar yang masih bisa tawar-menawar. Standar orang Kristen dalam gereja mula-mula pun tidak diturunkan meskipun itu gereja baru. Tuhan mengondisikan suasana sehingga situasinya “diangkat ke atas” (dieskalasi); situasinya dibuat berbeda, tetapi standarnya tidak. Pada waktu itu belum ada Alkitab Perjanjian Baru, belum ada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, belum ada doktrin gereja yang mapan. Sekarang kita memiliki begitu banyak warisan iman yang mestinya cukup membuka mata kita untuk mengerti apa yang Allah kehendaki.

Meninggalkan dunia bukan berarti kita meninggalkan harta kekayaan lalu memberikannya kepada gereja. Meninggalkan dunia berarti: pertama, hati kita tidak terikat pada dunia. Kita menikmati dunia tanpa terikat; kebahagiaan kita jangan ditentukan oleh dunia. Kedua, jangan terikat pada daging. Seks dan makan dapat dinikmati, tetapi penyimpangan adalah kejahatan. Jangan menyimpang. Roh Kudus akan memimpin kita. Harus ada komitmen untuk meninggalkan dunia, barulah Tuhan akan memimpin kita.