Skip to content

Tidak Ada Usaha

 

Roma 5:10

“Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!”

Ayat ini menunjukkan bahwa ketika kita belum mengenal Yesus, belum bertobat, atau seperti Paulus yang dahulu masih menganiaya orang-orang Kristen, kita semua telah diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus mati untuk semua orang, bukan hanya untuk sebagian orang. Alkitab dengan jelas mengatakan, “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya.” Yang mengucapkan atau menuliskan hal ini adalah Rasul Paulus, yang sebelum bertobat bernama Saulus, seorang penganiaya orang-orang Kristen.

Hal ini senada dengan yang dikatakan dalam 2 Korintus 5:19–20, “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” Hal ini harus diketahui oleh semua bangsa. Oleh karena itu, Paulus mengatakan bahwa dirinya dan orang-orang yang dipanggil seperti dirinya mendapat kepercayaan untuk menyampaikan berita tersebut. Paulus dan orang-orang yang terpanggil untuk memberitakan Injil adalah utusan-utusan Kristus. Selanjutnya, dengan tegas Paulus, dalam nama Kristus—dalam nama Tuhan—menasihati orang-orang yang sudah percaya—yang dimaksud adalah umat pilihan—“Berilah dirimu didamaikan.” Kata “diperdamaikan” atau “didamaikan” dalam ayat-ayat ini semuanya menggunakan satu kata, yaitu katallassō (Yun. Καταλλάσσω), yang dalam hampir semua terjemahan Alkitab bahasa Inggris diterjemahkan reconcile. Dalam ayat-ayat di atas, dengan jelas ditunjukkan kepada kita adanya dua aspek, atau dapat dikatakan dua pihak, dalam pendamaian itu.

Yang pertama adalah dari pihak Allah, dan yang kedua dari pihak manusia. Pertama, ketika kita masih seteru, belum bertobat, dan mungkin belum mengenal Yesus—seperti Paulus yang dahulu bernama Saulus dan masih menganiaya orang-orang percaya—kita diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Yesus. Yang kedua adalah dari aspek atau pihak kita. Ketika firman Tuhan dalam 2 Korintus 5:19 mengatakan, “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah,” berarti ada tanggung jawab dari pihak kita untuk memberi diri didamaikan dengan Allah. Namun, kenyataan yang kita saksikan dalam kehidupan banyak orang Kristen hari ini, mereka tidak mengerti adanya tanggung jawab ini.

Banyak orang Kristen merasa sudah diperdamaikan dengan Allah sehingga tidak ada usaha yang berarti dalam mengisi hidup kekristenannya. Mereka percaya bahwa Yesus adalah Juru Selamat yang mati di kayu salib, mengangkut dosa manusia, dan menjadi pendamai antara Allah dan manusia. Mereka yang merasa sudah memercayai karya keselamatan tersebut lalu merasa sudah berada dalam keadaan diperdamaikan dengan Allah. Padahal, faktanya memang Yesus membawa perdamaian, tetapi banyak orang Kristen belum memberi dirinya didamaikan dengan Allah. Inilah yang dimaksud dengan tidak adanya usaha dari pihak orang percaya untuk membangun perdamaian itu. Akibatnya, mereka merasa bahwa hidupnya memang sudah berdamai dengan Allah.

Perhatikan, pada waktu Natal, semua orang Kristen mengatakan bahwa Yesus telah datang dan kedatangan-Nya menyelamatkan manusia. Semua mengucap syukur, euforia dalam suasana sukacita, merayakan Juru Selamat yang datang, dan terkesan bahwa semua yang merayakan telah memiliki keselamatan. Padahal, faktanya banyak dari mereka belum memberi diri diselamatkan. Banyak orang Kristen berpikir bahwa keselamatan diterima secara otomatis ketika seseorang mengakui bahwa Yesus adalah Juru Selamat. Ini sama dengan merasa sudah berdamai dengan Allah karena mengakui Yesus sebagai sarana pendamaian antara Allah dan manusia. Doktrin teologi memformat hal tersebut, lalu jemaat pun terformat dalam pikirannya bahwa mengakui Yesus sebagai sarana pendamaian Allah dan manusia berarti sudah berada dalam keadaan berdamai dengan Allah.

Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang Kristen hanya melihat satu aspek keselamatan, yaitu satu aspek dari pendamaian, yakni aspek pasif: bahwa Allah telah mendamaikan diri-Nya dengan kita pada waktu kita masih berseteru dan berkeadaan memusuhi Allah. Mereka hanya melihat satu aspek, padahal masih ada aspek lain yang menyertainya, yaitu, “berilah dirimu didamaikan.” Ini pada hakikatnya sama dengan pemahaman, “Yesus mati di kayu salib menebus dosa manusia, lalu jika seseorang mengaku bahwa Yesus adalah Penebus dosa, otomatis dosanya sudah ditebus dan ia sudah memiliki keselamatan.”