Skip to content

Tidak Ada Tempat

 

Kita banyak menemukan kisah dalam Injil-Injil Sinoptik yang memperlihatkan posisi ahli-ahli Taurat yang senantiasa berseberangan dengan Tuhan Yesus. Ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi kerap mengkritik apa yang Tuhan Yesus ajarkan dan lakukan dengan berbagai argumentasi. Misalnya, ketika Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, berkumpul dan makan bersama para pemungut cukai yang dipandang sebagai orang-orang berdosa yang harus dijauhi, serta ketika berhadapan dengan berbagai adat istiadat Yahudi yang dijaga dengan ketat. Menyampaikan kritik tentunya tidak salah atau melanggar tata krama yang berlaku secara umum. Namun, yang terjadi antara ahli-ahli Taurat dan Tuhan Yesus menunjukkan sikap yang dapat disebut kontrarian: apa pun yang dikatakan dan dilakukan Tuhan Yesus selalu ditentang. Sikap semacam ini dapat mengarah pada kesesatan berpikir yang disebut argumentum ad hominem, yaitu ketika seseorang tidak membantah argumennya, tetapi justru menyerang pribadi yang menyampaikannya. Ahli-ahli Taurat tidak lagi sekadar menyampaikan kritik, tetapi cenderung menganggap apa pun yang dikatakan atau dikerjakan Tuhan Yesus sebagai sesuatu yang salah, menyimpang, bahkan menista agama Yahudi. Sikap tersebut bukan lagi didasari oleh pemikiran kritis, melainkan ketidaksukaan terhadap sosok Tuhan Yesus. Namun, ada hal menarik yang dicatat dalam Matius 8:19, “Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: ‘Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.’”

Jika berada pada posisi Tuhan Yesus, seseorang mungkin akan bersikap ekstra hati-hati terhadap pernyataan ahli Taurat tersebut. Bisa saja muncul dugaan bahwa perkataan itu tidak sungguh-sungguh, sekadar bercanda, atau bahkan merupakan strategi untuk menjatuhkan-Nya. Memang, kita sering membaca berbagai perilaku ahli Taurat yang mengganggu pelayanan Tuhan Yesus, tetapi tidak berarti semua ahli Taurat dapat disamakan. Jika melakukan generalisasi seperti itu, kita pun dapat terjerat dalam kesesatan berpikir yang lain. Seseorang yang hidup dalam dosa pada masa lalu belum tentu masih hidup dalam keberdosaannya hari ini. Bisa jadi ia telah bertobat dan berubah. Masa lalu seseorang tidak boleh dijadikan dasar untuk menutup kemungkinan adanya pertobatan. Mereka yang pernah berbuat dosa juga memiliki kesempatan untuk berubah. Tuhan Yesus tidak hanya melihat masa lalu, tetapi juga keadaan manusia pada saat ini. Ia tidak membalas kejahatan ahli-ahli Taurat dengan perkataan kasar. Bahkan ketika salah seorang dari mereka menyatakan keinginan untuk mengikut-Nya, Tuhan Yesus tetap menjawab dengan tulus sekaligus membuka pengertiannya.

Matius 8:20 mencatat, “Yesus berkata kepadanya: ‘Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.'” Sekilas, jawaban Tuhan Yesus tampak tidak menjawab pernyataan ahli Taurat tersebut. Ahli Taurat berkata, “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Jawaban sederhana yang mungkin diharapkan adalah “ya, boleh”, “silakan”, atau “jangan”. Namun, Tuhan Yesus tidak menjawab “ya” atau “tidak”. Ia memberikan pemaknaan yang jauh lebih dalam dengan menguji kesungguhan dan kedalaman komitmen ahli Taurat tersebut. Mengikut Tuhan Yesus bukan sekadar keputusan yang lahir dari kekaguman, melainkan kesediaan menerima konsekuensi dari keputusan tersebut.

Perkataan bahwa “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” menunjukkan bahwa mengikut Tuhan Yesus tidak selalu membawa seseorang kepada kenyamanan dan keamanan hidup seperti yang dibayangkan. Ahli Taurat itu perlu menghitung terlebih dahulu harga dari perkataannya sendiri, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Mengikuti Yesus ke mana saja berarti bersedia mengikuti-Nya bahkan ketika perjalanan itu membawa kepada ketidaknyamanan, kehilangan, pengorbanan, dan keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan pribadi. Tuhan Yesus tidak sedang menolak ahli Taurat tersebut, tetapi menolongnya memahami konsekuensi dari keputusan yang hendak diambilnya.

Allah tidak menolak orang yang datang kepada-Nya, menjadi bagian dalam keluarga orang percaya, bahkan mengambil komitmen untuk menjadi full-timer atau pekerja penuh waktu dalam pelayanan. Namun, Allah menghendaki agar keputusan itu tidak diambil secara gegabah. Seseorang harus benar-benar memahami apa artinya menjadi pengikut Kristus dan kemudian mengambil keputusan dengan kesadaran penuh. Tuhan Yesus tidak menawarkan pengiringan yang penuh kenyamanan, tetapi kehidupan yang menuntut penyerahan diri. Karena itu, sebelum berkata, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi,” setiap orang perlu memahami bahwa mungkin ada saatnya ia harus berjalan bersama Tuhan tanpa memiliki “tempat” yang memberikan rasa aman dan nyaman. Di situlah kualitas komitmen seorang murid mulai dibuktikan.