Setelah mendengar bahwa Yohanes Pembaptis ditangkap, Yesus menyingkir ke Galilea. Secara sekilas, ini tampak seperti langkah mundur. Yerusalem adalah pusat keagamaan, tempat para pemimpin agama, dan tempat Bait Allah berdiri megah. Jika seseorang ingin memulai pelayanan besar, secara logika ia akan pergi ke pusat, ke tempat yang strategis, ke tempat yang “terlihat.” Namun Yesus justru pergi ke Galilea.
Galilea bukanlah tempat yang prestisius. Ia dikenal sebagai wilayah pinggiran, bahkan sering dipandang rendah oleh orang-orang Yehuda. Dalam Yohanes 1:46, Natanael pernah berkata, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Ini menunjukkan bagaimana daerah itu dipandang—bukan sebagai tempat lahirnya sesuatu yang besar. Namun justru di sanalah Yesus memulai pelayanan-Nya. Matius kemudian mengutip nubuat dari kitab Yesaya: “Tanah Zebulon dan tanah Naftali… bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.” Ini bukan kebetulan. Ini adalah penggenapan rencana Allah. Apa yang tampak tidak penting di mata manusia, justru menjadi pusat pekerjaan Tuhan.
Kegelapan yang dimaksud di sini bukan hanya kondisi geografis atau sosial, tetapi juga kondisi rohani. Galilea adalah daerah yang bercampur dengan bangsa-bangsa lain, penuh pengaruh non-Yahudi, dan dianggap kurang “murni” secara religius. Ia menjadi simbol kehidupan yang jauh dari terang Tuhan. Namun justru di tempat seperti itulah terang Tuhan bersinar. Tuhan tidak terbatas pada tempat yang kita anggap “layak.” Ia tidak hanya bekerja di tempat yang suci menurut standar manusia. Ia hadir di tengah kegelapan, dan justru di sanalah terang-Nya menjadi paling nyata.
Sering kali kita berpikir bahwa Tuhan hanya bekerja dalam situasi yang ideal—ketika hidup kita tertata, ketika kita merasa rohani, dan ketika segala sesuatu berjalan baik. Namun bagaimana dengan saat-saat ketika hidup terasa gelap? Ketika kita merasa jauh dari Tuhan? Ketika kita berada di tempat yang tidak kita inginkan? Terang Tuhan tidak menunggu kegelapan hilang tetapi datang ke dalam kegelapan. Yesus tidak berkata, “Tunggu sampai kalian berubah, baru Aku datang.” Ia datang justru ketika mereka masih dalam kegelapan. Ia tidak memilih tempat yang terang untuk bersinar, tetapi membawa terang ke tempat yang gelap.
Sering kali kita mencoba “membersihkan diri” terlebih dahulu sebelum datang kepada Tuhan. Kita berpikir bahwa kita harus menjadi lebih baik dulu, lebih rohani dulu, baru kita bisa mengalami hadirat-Nya. Namun Injil menunjukkan hal yang sebaliknya: Tuhan datang lebih dahulu, lalu Ia mengubahkan. Terang tidak menunggu gelap menjadi terang; teranglah yang mengusir kegelapan. Ketika Yesus hadir, hidup tidak dapat tetap sama.
Kita dipanggil tidak hanya untuk menerima terang, tetapi juga untuk menjadi pembawa terang. Seperti Yesus datang ke Galilea, kita juga dipanggil untuk hadir di tengah “kegelapan” dunia ini—bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menerangi; bukan untuk menjauh, tetapi untuk hadir; bukan untuk mengutuk, tetapi untuk membawa harapan. Kadang kita ingin melayani di tempat yang nyaman, di lingkungan yang sudah rohani, di komunitas yang mendukung. Terang tidak berarti banyak jika hanya berada di tempat yang sudah terang. Nilai terang justru terlihat ketika ia hadir di tengah kegelapan.
Jangan menunggu situasi berubah untuk mengalami Tuhan. Biarkan Tuhan masuk ke dalam situasi itu sekarang. Dan jika terang itu sudah menyentuh hidup kita, marilah kita menjadi saluran terang bagi orang lain. Terang bagi orang-orang terluka, tersesat, atau jauh dari Tuhan. Yesus memulai dari sana.