Skip to content

Tepat, Bukan Cepat

 

Seseorang yang tenggelam di dalam air akan mengalami kepanikan yang luar biasa. Dengan sekuat tenaga ia akan berteriak meminta pertolongan, walaupun air masuk ke hidung dan mulutnya. Dalam kepanikan dan ketakutannya, ia bahkan dapat meronta-ronta ketika seseorang sedang berusaha menolongnya. Bukan karena ia tidak mau ditolong, melainkan karena kepanikan dan ketakutannya membuat ia tidak dapat sepenuhnya menyerahkan diri untuk ditolong. Dalam keadaan seperti ini, yang membahayakan bukan hanya air yang dapat menenggelamkannya, melainkan juga perlawanannya terhadap pertolongan itu sendiri.

Sebagai orang percaya, kita tidak kebal terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di sekeliling kita. Allah tidak pernah menjanjikan bahwa langit kehidupan orang percaya akan selalu cerah; sebaliknya, awan hitam pekat dapat membayangi. Allah juga tidak pernah menjamin bahwa jalan hidup orang percaya akan selalu mulus tanpa gangguan; sebaliknya, jalan terjal dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Namun, bagaimana respons kita terhadap kenyataan tersebut akan membuktikan siapa yang kita percayai selama ini.

Demikian pula para murid Tuhan Yesus tidak dapat menghindarkan diri dari masalah. Mereka berseru dan berteriak meminta pertolongan. Sekilas, tidak ada yang salah dengan seruan dan permintaan tersebut. Itu manusiawi dan dapat diterima oleh akal sehat. Kita pun dapat meminta pertolongan Tuhan dengan seruan dan teriakan, walaupun hanya bergema di dalam batin. Yang keliru bukanlah permintaan tolong mereka, melainkan ketidakpercayaan yang tersirat dalam perkataan, “Kita binasa.” Inilah yang membuat Tuhan Yesus menegur murid-murid-Nya dengan berkata, “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Mereka belum binasa, tetapi merasa seolah-olah kebinasaan sudah pasti terjadi. Perahu mereka belum tenggelam, tetapi mereka merasa seakan-akan tidak ada lagi harapan. Selama Tuhan Yesus berada di dalam perahu, mereka memang tidak terhindar dari guncangan badai dan terpaan gelombang, tetapi mereka berada dalam pemeliharaan-Nya. Demikian pula kehidupan orang percaya: selama kita berada di dalam tangan Tuhan, badai dapat mengguncang, tetapi hidup kita tetap berada dalam kedaulatan-Nya.

Mengapa Tuhan Yesus menghardik angin dan danau setelah menegur murid-murid-Nya? Mengapa Ia tidak menenangkan angin dan danau terlebih dahulu, baru menasihati mereka? Ternyata, keadaan manusia jauh lebih penting daripada persoalan yang sedang dihadapinya. Keberadaan manusia di hadapan Tuhan jauh lebih penting daripada berbagai persoalan hidupnya. Tuhan berdaulat menolong manusia dari berbagai penderitaan, bukan berarti Tuhan kurang memberikan perhatian. Namun, di atas semua persoalan manusia, Allah lebih memberikan perhatian kepada manusia itu sendiri. Jangan sampai persoalan membuat kita tidak percaya, mencurigai-Nya, apalagi menuduh Tuhan sebagai penyebab berbagai masalah. Inilah yang menjadi perhatian Tuhan Yesus terhadap murid-murid-Nya: bagaimana mungkin mereka yang selama ini bersama-Nya ternyata masih kurang memercayai Dia?

Kiranya perjalanan kita bersama Allah Bapa dan Tuhan Yesus dilandasi oleh kepercayaan penuh kepada-Nya. Tuhan menghendaki kita berada dalam pemeliharaan-Nya dalam kebutuhan jasmani, terlebih dalam keadaan jiwa dan kerohanian kita. Karena itu, jangan lelah untuk tetap memercayai Dia. Bertahanlah dan nantikanlah pertolongan-Nya. Tuhan tidak selalu bekerja secepat yang kita inginkan, tetapi pertolongan-Nya datang pada waktu yang tepat. Sebab yang kita perlukan adalah pertolongan yang tepat menurut waktu-Nya, bukan pertolongan cepat menurut waktu kita.