Skip to content

Tenggelam dalam Komitmen yang Salah

 

Masih dalam narasi Musa yang diutus oleh Allah untuk membebaskan bangsa Israel, Keluaran 4:21 mencatat firman Tuhan kepada Musa: “… tetapi Aku akan mengeraskan hatinya, sehingga ia tidak membiarkan bangsa itu pergi.” Pengerasan hati Firaun sering menjadi masalah bagi pembaca Alkitab modern. Bila Allah dapat mengeraskan hati Firaun, berarti Ia dapat mengendalikan kehendak bebas manusia. Dengan kata lain, Allah dapat merancang sebagian manusia dengan hati yang lembut untuk diselamatkan dan sebagian lainnya dengan hati keras untuk dibinasakan.

Harus disadari bahwa perdebatan seperti ini lahir dari premis modern tentang kehendak bebas. Pada zaman penulisan kitab Keluaran, doktrin mengenai kehendak bebas belum eksis. Untuk memahami maksud penulis, kita perlu mendekat kepada cara berpikir kuno tentang Allah dan tindakan-Nya. Dalam konteks Timur Dekat Kuno—yang menjadi latar kitab Keluaran—ilah apa pun selalu dipahami memiliki derajat lebih tinggi daripada manusia. Karena itu, ilah dianggap lebih berkuasa, dan salah satu bentuk kuasa itu ditunjukkan melalui kemampuannya “mengendalikan” perbuatan manusia. Dalam mitologi Mesir, dewa Amun dan Ra disebut sebagai pihak yang “menanamkan kehendak di hati raja” atau “menguatkan hati raja untuk bertindak.” Di Babilonia, dewa Marduk disebut sering “menetapkan pikiran” raja untuk berperang.

Dari sudut pandang kuno, konsep ilah yang mengarahkan hati manusia ini tentu dapat diterima. Namun dari sudut pandang modern, jelas bahwa keputusan seorang raja untuk berperang berasal dari ambisinya sendiri untuk berkuasa dan mendominasi. Karena itu, contoh dari Mesir dan Babilonia—yang paralel dengan tulisan Keluaran—dimaksudkan untuk menegaskan otoritas ilahi di atas otoritas manusia. Pesan utamanya ialah otoritas, bukan doktrin bahwa Allah memanipulasi keadaan batin seseorang. Andaikata Allah “mengeraskan” atau “melembutkan” hati seseorang secara mutlak, maka respons manusia kepada Allah tidak dapat lagi disebut kasih, melainkan paksaan. Dalam kasus Firaun, kekerasan hatinya bukan muncul karena Allah memaksanya menjadi keras, melainkan karena ia telah lama hidup dalam kefasikan sehingga hatinya menjadi tumpul.

Maka, pernyataan “Aku akan mengeraskan hati Firaun” lebih tepat dipahami sebagai penegasan otoritas Allah di atas Firaun. Seolah-olah Allah berkata kepada Musa: “Meskipun Firaun akan menolakmu dalam kekerasan hatinya, ketahuilah bahwa Aku lebih berkuasa darinya. Aku memegang kendali atas keadaan.” Allah memegang kendali bukan dengan “mengotak-atik” batin Firaun, tetapi dengan menampilkan mukjizat-mukjizat yang kelak memaksa Firaun menyerah pada realitas kuasa-Nya. Dan benar, akhir kisah Firaun adalah menyerahnya ia di hadapan kuasa Allah. Ia harus menelan pukulan demi pukulan melalui tulah-tulah yang Allah timpakan. Kekerasan hati yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit—melalui pilihan hidup yang jahat dan keras—membuat ia tak berdaya berubah sebelum bencana itu datang.

Secara negatif, kita dapat berkata: Firaun adalah orang yang tenggelam dalam komitmennya—tetapi dalam komitmen yang salah. Namun dari sisi positif, ini menjadi pelajaran bagi kita. Jika kekerasan hati Firaun dibangun dari rangkaian kecil pilihan-pilihan fasik yang ia lakukan, maka kita pun dapat membangun komitmen yang benar melalui rangkaian kecil pilihan-pilihan yang benar. Kita dapat “mengeraskan hati” untuk menaati Allah di tengah ketidakbenaran, dengan menabung satu per satu tindakan yang sesuai kehendak-Nya. Akhirnya, semuanya kembali pada pilihan kita hari ini: Apakah kita menabung pikiran dan perbuatan yang benar, atau sebaliknya?