Tuhan Yesus adalah Guru yang paling sakti, paling benar, Ia bisa membawa kita kepada perubahan kodrat, bukan hanya menjadi baik, namun perubahan kodrat sehingga kita memiliki manusia batiniah dengan standar Anak Allah. Dan ini kesempatan yang luar biasa, mahal sekali mengimbangi hal ini, karena ini skala luar biasa, ini tataran luar biasa. Maka kita tidak boleh terikat dengan dunia. Jadi, kita bisa mengerti mengapa Tuhan Yesus berkata, “Jika kamu tidak melepaskan dirimu dari segala milikmu, kamu tak dapat jadi murid-Ku. Kamu tidak bisa Kuubah, kamu tidak bisa Kudidik, kamu tidak bisa Kuarahkan menjadi seperti yang Aku mau.” Namun pada umumnya, orang mau hidup wajar, sedikit sekali orang yang benar-benar masuk proses menjadi murid Yesus.
Tetapi banyak orang Kristen merasa sudah menjadi murid karena ikut program pemuridan gereja selama 3 bulan, 6 bulan, atau 1 tahun. Sedangkan yang dimaksud Tuhan adalah menjadi murid-Nya Tuhan Yesus, yang masa pembelajarannya adalah sepanjang umur hidup, sampai jantung berhenti berdetak, sampai nadi berhenti berdenyut. Firman Tuhan dalam Ibrani 5:7-9 katakan, “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.”
Bapa di surga tidak membuat jalan mudah bagi Putra-Nya dan tidak nepotisme. Kalau bicara ratap tangis dan keluhan, ini adalah perjuangan. Dalam kitab Ibrani dikatakan bahwa Dia menjadi Imam Besar yang bisa merasakan apa yang dirasakan oleh umat. Kenapa? Sebab Dia belajar dari kelahiran-Nya, Dia belajar dari pembaptisan-Nya, Dia belajar dari tiga pencobaan di padang gurun, Dia menghadapi krisis perkawinan di Kana ketika kehabisan anggur, sampai Dia menghadapi Getsemani, dan Via Dolorosa. Maka kita harus teliti melihat apa yang pernah terjadi dalam hidup Tuhan Yesus dan apa yang Dia ajarkan, karena dari situlah kita belajar.
Tetapi masalahnya, apakah kita mengasihi Tuhan? Karena hanya orang yang mengasihi Tuhan yang mengalami berkat dari segala sesuatu yang diizinkan Tuhan terjadi. Seperti firman mengatakan, “Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi-Nya.” Jadi mekanismenya adalah: kita kosongkan dulu, maka Tuhan akan isi. Setiap kita belum sempurna, tapi kita harus bersedia meninggalkan dunia; daging kita ini belum mati, tapi kita harus sangat bersedia untuk membunuhnya. Itu merupakan bukti bahwa kita mengasihi Tuhan. Orang yang mengasihi Tuhan bukan berarti sudah sempurna, melainkan punya tekad untuk mengosongkan diri, melepaskan segala sesuatu, sehingga bisa diubah.
Kalau orang tidak mau melepaskan segala sesuatu, masih ada yang digenggam, sangat mengganggu. Itu sebabnya, dikatakan di dalam Ibrani 12, itu adalah beban dan dosa yang sangat merintangi. Jadi, seiring dengan beban dan dosa yang harus kita tanggalkan, maka rintangan itu juga ditanggalkan. Kita belum mati dagingnya, tapi bersedia mati. Kita melihat dunia ini masih ada keinginan, tapi bersedia tidak memiliki. Seiring dengan pertumbuhan rohani kita, pengertian kita akan kebenaran dan kemauan kita menanggalkan beban dan dosa itu, maka rintangan itu juga akan tertanggalkan serta proses ini bisa terus berlangsung.
Setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup Tuhan Yesus, pasti mengandung kebenaran, dan Tuhan mengajarkan itu kepada kita. Seakan-akan Tuhan berkata, “Tidak percuma Aku mengalami semua ini, supaya Aku bisa mengajarkannya kepadamu.” Maka Dia menjadi Imam Besar yang bisa merasakan apa yang dirasakan oleh umat, karena Dia pernah menjadi manusia. Dia tahu bagaimana menolong orang, bukan menolong dari persoalan-persoalan jasmani, melainkan persoalan-persoalan batiniah; yaitu bagaimana bisa mengubah orang tersebut. Maka, persoalkan dengan Tuhan masalah-masalah kekekalan, masalah abadi, yaitu manusia batiniah. Kita masih belum sempurna, masih ingin menikmati dunia, tapi jangan dituruti.
Kalau Tuhan Yesus tidak pernah hidup di dunia ini, kita tidak tahu bagaimana mengikut Dia. Apa yang kita ikuti? Tentu perjalanan hidup-Nya, teladan hidup-Nya. Dia mengajar, “jika kamu ditampar pipi kanan, beri juga pipi kiri.” Dia juga mengajar, “Kasihi musuhmu.” Dia mendapatkan cobaan untuk menikmati dunia, tapi Dia berkata, “Kamu harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia saja kamu berbakti.” Kita juga mengalami hal itu. Yesus masuk Taman Getsemani, bergumul antara kehendak-Nya sendiri dan kehendak Bapak di surga. Kita juga masuk pergumulan itu, dan kita harus mencontoh Tuhan Yesus yang mengatakan, “Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”