Skip to content

Tanpa Batas

 

Orang yang memiliki nurani bersih dan dipimpin oleh Roh Kudus akan mengerti bahwa suatu hari, ketika kita berhadapan dengan Tuhan, apa pun yang kita miliki tidak akan cukup untuk dipersembahkan kepada-Nya. Kalaupun, misalnya, kita memiliki seribu—dan kita memberikan semuanya—ketika kita ada di hadapan Tuhan, ternyata seribu itu tidak cukup, atau belum cukup.  Kita tidak akan pernah menemukan batas dari seberapa besar yang layak diberikan kepada-Nya, karena Allah terlalu agung, Mahamulia, Mahabesar, tidak terbatas. Ketika kita merasakan, menikmati, dan menyaksikan keagungan Allah yang dahsyat—yang tak tergambarkan—maka berapa pun yang kita berikan tidak akan pernah cukup.

Jadi, apa yang dapat kita berikan? Walaupun seluruh hidup kita, itu pun tidak akan mencukupi. Namun, ada satu hal yang dapat memuaskan hati-Nya: bukan jumlah uang—karena uang dapat dihitung; bukan emas, perak, atau permata—karena semuanya bisa dinilai.  Apa pun bentuk materi, tidak akan cukup.  Tetapi, ada satu hal yang dapat diberikan tanpa batas dan dapat memuaskan hati Allah, yaitu cinta kita. Segala harta benda tidak akan mampu membalas kebaikan Tuhan. Maka, sangat keterlaluan jika seseorang berhitung dengan Tuhan, atau memberi hanya supaya dilihat orang lain, dinilai, lalu menjadikannya kebanggaan pribadi.  Untuk orang seperti ini, firman Tuhan mengatakan: “Dia sudah mendapat upahnya.”

Jika seseorang mengerti kebenaran ini, maka berapa pun yang telah ia berikan untuk Tuhan—uang, tenaga, waktu, fisik—itu belumlah seberapa. Kita sering merasakan bahwa Tuhan hanya menggenggam bagian-bagian tertentu dalam hidup kita, tetapi tidak semua. Mengapa? Karena Tuhan ingin agar kita mencintai Dia dalam kelemahan, dalam sakit, dalam ketidakberdayaan.  Kita tidak harus menunggu sehat baru bisa menyembah dan bersyukur kepada-Nya. Seperti yang dikatakan oleh pemazmur: “Sekalipun dagingku dan hatiku habis, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” (Mazmur 73:26)

Dan kelak, ketika kita bertemu Tuhan, semua yang kita lakukan di dunia ini belum sebanding. Sampai kepada rupiah terakhir, keringat terakhir, napas terakhir—kalaupun kita rela memberikan semuanya, itu pun belum mencukupi.  Tetapi ada satu hal yang bisa kita berikan, yang tidak bisa dihitung, tidak bisa dinilai dengan nominal, yaitu cinta kita kepada Tuhan. Cinta ini harus diperbarui setiap hari.  Jangan takut untuk berjanji mencintai Tuhan! Sampai kita berani berkata: “Terkutuklah aku jika aku tidak mencintai Tuhan.” Cinta itu bisa dinikmati oleh Tuhan, dan kita pun dapat menikmati cinta kita kepada-Nya.

Jika kita memberikan sesuatu kepada seseorang tanpa cinta, maka kita tidak akan menikmati apa yang kita berikan. Tetapi jika pemberian itu dilandasi cinta, kita menikmati pemberian itu bersama-sama.  Bahkan sekadar menyapa dengan kasih, seperti:      “Selamat pagi, apakah kalian baik-baik saja?”  Jika dilakukan dengan hati yang mencintai, kita menikmati cinta itu, dan orang yang menerimanya juga dapat merasakan cinta tersebut. Bukan pada barangnya, sebab bisa jadi barang itu tidak dibutuhkan, atau makanan itu tidak dimakan karena sudah kenyang—tetapi kasih yang mengalir melalui pemberian itu dirasakan oleh hati. 

Apalagi kepada Tuhan. Meskipun kita tidak punya uang atau barang, selama hati kita mencintai Dia, maka kita tetap bisa menikmati cinta itu, dan Tuhan juga menikmatinya.  Berapa banyak yang dapat kita berikan kepada Tuhan? Apalah artinya uang, tenaga, bahkan pelayanan fulltimer, jika tidak disertai cinta?  Dalam Alkitab, Nuh disebut sebagai anak penghiburan. Di tengah dunia yang jahat dan egois, Tuhan merasakan kasih Nuh, dan itu memuaskan hati-Nya.  Apalagi jika cinta kita tidak terbatas—cinta yang pasti disertai kesediaan melakukan apa pun yang Tuhan kehendaki—itu akan menyentuh hati Allah.  Jadilah manusia seperti ini. Jangan sia-siakan kesempatan berharga ini.