Skip to content

Tanggung Jawab

 

Filipi 2:12

“Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar”

Ada orang berkata bahwa kita memang harus mengerjakan, tetapi Allah yang mengerjakan di dalam kita. Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat bahasa aslinya. Ungkapan “kerjakan keselamatanmu” menggunakan kata katergazesthe, yang artinya finish it, kerjakan sampai tuntas. Sementara itu, frasa “Allah yang mengerjakan” menggunakan kata energeō, yang berarti Allah memberikan energi atau daya kerja. Jadi, Allah memberi energi, tetapi manusialah yang harus mengerjakannya. Jika kita tidak mengerjakan, energi itu tidak bekerja. Harus ada respons dari pihak manusia. Karena itu, kehidupan Yesus yang menjadi dasar keselamatan kita harus menjadi kehidupan kita juga. Orang percaya bukan hanya diperdamaikan secara status, tetapi juga harus berjuang untuk diperdamaikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, supaya ia benar-benar berada dalam keadaan berdamai dengan Allah.

Ibarat dua orang yang bermusuhan lalu berdamai, setelah rekonsiliasi itu harus ada perubahan sikap agar rekonsiliasi tersebut sungguh-sungguh nyata. Sebab itu, jika ada suami istri yang bertengkar lalu didoakan oleh pendeta, tetapi tidak mengubah sikap hidup mereka, maka konflik akan terulang. Dua bulan kemudian bertengkar lagi, didoakan lagi; satu bulan kemudian bertengkar lagi; akhirnya bercerai. Mengapa? Karena tidak ada perubahan sikap, sehingga tidak tercipta keharmonisan. Kita harus berubah. Allah tidak perlu mengubah diri-Nya. Itulah sebabnya Alkitab berkata, “Keluarlah kamu dari antara mereka, janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu sebagai anak-anak-Ku laki-laki dan perempuan.” Dan juga, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”

Banyak orang Kristen berpikir bahwa mereka sudah diperdamaikan, lalu menjalani hidup secara wajar seperti manusia lain, tanpa perjuangan yang memadai untuk memiliki perdamaian yang harmonis dengan Allah. Padahal, untuk sungguh-sungguh berdamai dengan Allah, orang percaya harus memiliki kehidupan seperti yang dijalani oleh Yesus. Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan bahwa kita “diselamatkan oleh hidup-Nya.” Oleh kematian-Nya kita diperdamaikan, dan oleh hidup-Nya kita diselamatkan. Apa maksudnya? Jika Yesus tidak berhasil menjalani kehidupan yang sempurna, saleh, dan taat kepada Bapa, Ia tidak dapat menjadi pokok keselamatan. Ia tidak dapat mengubah kita, tidak dapat membentuk kita, dan tidak dapat menjadi teladan hidup yang sesuai dengan rancangan Allah semula.

Karena Yesus berhasil mencapai kehidupan sesuai dengan rancangan Allah, Ia menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Ia menjadi pionir, yang memulai jalan itu, lalu kita mengikuti Dia. Sebelumnya, tidak ada seorang pun yang mampu taat sepenuhnya kepada Bapa dan hidup dalam kesalehan sesuai standar manusia yang dirancang Allah semula. Adam pertama gagal menjadi pokok keselamatan. Alkitab mengatakan bahwa karena dosa Adam, semua manusia hidup di bawah bayang-bayang maut. Sekarang, oleh satu Pribadi yang taat, yaitu Yesus, manusia menerima kasih karunia. Apakah kasih karunia itu? Kasih karunia bukanlah anugerah yang murah atau anugerah tanpa tanggung jawab. Anugerah memang gratis, kasih karunia memang cuma-cuma, tetapi mengenakannya menuntut tanggung jawab dan perjuangan.

Firman Tuhan mengatakan bahwa Yesus menjadi “pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.” Jadi, keselamatan tidak bersifat otomatis. Jangan berpikir bahwa menjadi orang Kristen berarti secara otomatis bisa berdamai secara harmonis dengan Allah. Pemahaman seperti itu keliru. Ungkapan “taat kepada-Nya” menunjukkan kepatuhan kepada Yesus, dan itu berarti meneladani hidup-Nya. Hanya orang-orang yang meneladani hidup Yesus yang sungguh-sungguh mengalami pendamaian dengan Allah.

Sesungguhnya, ada tiga jenis orang Kristen. Pertama, orang Kristen yang meninggalkan segala sesuatu, menyangkal diri dengan benar, dan mengenakan hidup Yesus. Mereka dapat berkata, “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Inilah orang Kristen yang dibenarkan. Kedua, orang Kristen yang tidak berani all-out. Mereka belum tentu masuk neraka, tetapi hanya menjadi anggota masyarakat di dunia yang akan datang. Ketiga, orang Kristen yang jahat. Mereka ini masuk neraka.

Ketiganya sama-sama mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Namun, yang pertama hidup all-out sesuai proporsi yang diajarkan Tuhan Yesus, taat kepada-Nya, dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Pribadi yang dipercayai. Yang kedua mirip bangsa Israel: menaati hukum, memuji dan menyembah Allah, tetapi tidak all-out. Mereka bisa masuk dunia yang akan datang sebagai anggota masyarakat. Yang ketiga masuk kategori orang jahat. Dan faktanya, tidak sedikit orang Kristen yang masuk kategori ini.