Skip to content

Tanggung Jawab Manusia dan Ketergantungan kepada Tuhan

 

Untuk hidup bergantung kepada Tuhan, kita harus berani melakukan sebuah pertukaran. Kita rela melepaskan berbagai kesenangan dan kegemaran yang selama ini menguasai hati kita, lalu menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber sukacita yang sejati. Hanya Dialah yang seharusnya menjadi kebahagiaan terbesar dalam hidup kita. Perjumpaan dengan Tuhan bukanlah sesuatu yang bersifat khayalan atau dongeng, melainkan pengalaman nyata yang dapat dialami oleh setiap orang yang sungguh-sungguh mencari-Nya.

Ketika seseorang mengalami perjumpaan yang nyata dengan Tuhan, Roh Kudus akan mengaruniakan hikmat kepadanya. Hikmat itu bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi menerangi hati dan pikirannya sehingga mampu membedakan kebenaran dari kepalsuan, serta mengambil keputusan yang sesuai dengan kehendak Allah. Karena itu, marilah kita berkomitmen untuk menjadikan Tuhan sebagai kebutuhan kita setiap hari. Semakin kita hidup dekat dengan-Nya, semakin mata hati kita dimurnikan untuk menyadari bahwa Dialah tujuan hidup kita yang sejati.

Namun, ketergantungan kepada Tuhan tidak berarti mengabaikan tanggung jawab yang telah Allah percayakan kepada kita. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab. Tidak mungkin kita dapat bermalas-malasan dan tidur-tiduran saja, lalu ketika kita berseru memohon berkat kepada-Nya, Ia mencurahkan berkat-Nya. Ia menginginkan kita bekerja mencari nafkah dengan penuh tanggung jawab. Ia tidak menghendaki kita hidup bermalas-malasan sambil menunggu berkat turun dari langit. Sebaliknya, Ia memanggil kita untuk bekerja dengan tekun, mengembangkan potensi yang telah dikaruniakan-Nya, dan mengusahakan kehidupan dengan penuh tanggung jawab.

Kita yakin bahwa Allah menciptakan kita sebagai makhluk yang bertanggung jawab. Masalahnya adalah, apakah hubungan antara tanggung jawab manusia mencari nafkah dan ketergantungan manusia kepada Tuhan? Lalu, bagaimana hubungan antara tanggung jawab manusia untuk bekerja dan ketergantungannya kepada Tuhan?

Dengan kalimat “Berikanlah kami pada hari ini,” kita menemukan adanya hubungan antara keduanya. Keduanya bukanlah hal yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Sementara kita bekerja dengan sungguh-sungguh, kita tetap mengakui bahwa setiap kemampuan, kesempatan, kekuatan, dan hasil yang kita peroleh berasal dari anugerah Tuhan. Ketergantungan kepada Allah membuat kita terus menerima pembentukan rohani dari-Nya. Di situlah mental dan karakter kita dibentuk agar semakin serupa dengan kehendak-Nya. Sementara kita bergantung kepada Tuhan, kita juga menyerap berkat-berkat rohani dari-Nya. Di sinilah mental kita diubahkan-Nya. Memang, setelah mental seseorang diubahkan, tidak otomatis ia lantas menjadi kaya raya. Akan tetapi, mental ini akan membuatnya mau bekerja dan mengoptimalkan diri untuk mencari nafkah.

Jadi, ada dua wilayah hidup yang harus kita penuhi. Pertama, wilayah tanggung jawab. Di wilayah ini kita dipanggil untuk bekerja, belajar, berkarya, dan mengusahakan segala sesuatu dengan penuh kesungguhan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Kedua, wilayah ketergantungan kepada Tuhan. Di wilayah ini kita membangun persekutuan yang intim dengan-Nya, menyadari bahwa tanpa anugerah-Nya kita tidak dapat melakukan apa pun yang bernilai kekal. Orang yang memahami keseimbangan antara tanggung jawab dan ketergantungan akan membangun karakter yang sehat. Ia bekerja dengan maksimal, tetapi tidak mengandalkan kekuatannya sendiri. Ia bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, tetapi tidak menjadikan ketergantungan itu sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Seluruh hidupnya dipersembahkan bagi Tuhan.

Oleh sebab itu, marilah kita menjaga keseimbangan antara tanggung jawab dan ketergantungan kepada Tuhan. Jangan terjebak pada dua ekstrem: mengaku bergantung kepada Tuhan tetapi enggan bekerja keras, atau bekerja keras tanpa mengandalkan Tuhan. Kehidupan yang berkenan kepada Allah adalah kehidupan yang memadukan keduanya—bekerja dengan segenap kemampuan yang Tuhan berikan, sambil tetap menyadari bahwa hanya Dialah sumber kekuatan, hikmat, dan segala berkat dalam hidup kita.