Skip to content

Taburan di Kekekalan

 

Hidup kita singkat dalam dunia ini, kita tidak punya kesempatan banyak, dan setiap saat kita bisa mati. Apa yang kita tabur bukan hanya kita tuai di bumi ini, namun yang paling penting adalah di kekekalan nanti. Kita tidak butuh balasan 30, 60, atau 100 kali lipat di bumi ini, tapi yang paling kita butuhkan adalah satu kalimat di mana Tuhan berkata, “Engkau anak yang Kukasihi, kepadamu Aku berkenan. Mari masuk dalam perhentian-Ku.” Kita tidak menuntut Tuhan memberkati kita berlipat ganda. Terserah Tuhan mau memberi berapa, karena semua yang Tuhan berikan kita harus kembalikan untuk Tuhan. Tugas kita adalah memperhatikan orang tua kita dan menjagai keluarga besar kita, karena pasti ada anggota keluarga besar kita yang kekurangan. 

Dan lihat sesama di sekitar kita. Jangan berbuat jahat. Miliki mental bangsawan surgawi. Firman Tuhan dalam Matius 7:12 mengatakan, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”  Kita mau benar dalam segala hal. Secara moral umum pun harus benar, apalagi dalam pemandangan mata Tuhan! Jangan sampai waktu kita bertemu Tuhan, lalu Tuhan berkata, “Kamu tidak pantas jadi anak-Ku. Karakter kamu bukan karakter Kerajaan Surga!” Oleh sebab itu, kita mesti belajar mengenal kebenaran. 

Filipi 3:10,”Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” 

Jadi, mengenal Dia—mengenal Tuhan dan kuasa kebangkitan-Nya— adalah bukti bahwa Dia hidup, sebab kita mengalami Dia hidup. Lalu, persekutuan dalam penderitaan-Nya, berarti kita ikut menderita bersama Tuhan. Kalau seandainya kita hidup pada zaman Tuhan Yesus memikul salib, apakah kita ada di samping Tuhan Yesus memikul salib? Ya memang waktu orang belum mengenal siapa Tuhan Yesus. Tapi sekarang kita mengenal-Nya, maka kita bisa berada di samping Tuhan. Kita bisa ikut mengambil bagian penderitaan-Nya untuk orang lain dan untuk sesama kita. Lalu, menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, artinya mati bagi diri sendiri dan hidup bagi Tuhan. 

Filipi 3:11-12, “Supaya aku akhirnya memperoleh kebangkitan dari antara orang mati. Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal itu atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.”

Semua dosa manusia telah dipikul oleh Tuhan Yesus di kayu salib. Selesai. Semua dosa, dosa siapa pun; setiap manusia yang lahir di muka bumi ini dosanya ditebus oleh Tuhan Yesus. Manusia tidak perlu menanggung dosa yang tidak dia lakukan. Yang salah Adam, mengapa kita yang menanggungnya? Tentu tidak, maka Tuhan Yesus diutus untuk memikul dosa. Adil, kan? Tapi kita masih punya sinful nature (kodrat dosa). Yang ketika kita lahir di dunia, si jahat menggiring manusia kepada kehancuran. Namun, Tuhan dalam keadilan-Nya akan menghakimi orang menurut perbuatannya. Kalau dia tidak pernah mendengar Injil, atau kalau dia salah mendengar Injil, maka yang penting dia tidak menzalimi, tidak menghina, tidak menyakiti Tuhan Yesus, asal kelakuannya baik, maka dia masih bisa dibawa ke langit baru bumi baru. 

Sebab ada ayat yang mengatakan, “Ketika Aku lapar, kau berikan Aku makan. Ketika Aku haus, kau berikan Aku minum. Ketika Aku bertelanjang, kau berikan Aku pakaian. Yaitu yang kau lakukan untuk Saudaramu yang membutuhkan pertolongan.” Tapi tentu tidak semudah itu. Sejujurnya, kita tidak tahu bagaimana mekanisme penghakiman itu, karena kita bukan Tuhan. Tapi yang jelas, orang-orang ini bisa mendapat kemungkinan masuk dunia yang akan datang. Itu baru namanya adil! Tuhan akan menghakimi, karena Tuhan mati untuk mereka semua. Ini prinsip penting. Akan tetapi, kalau bagi kita orang percaya, yang berlaku adalah ayat 12.

 

Filipi 3:13, “Saudara-Saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”

Akhirnya, kita mendapatkan panggilan untuk menjadi anak-anak Allah di dalam Kerajaan-Nya. Kita adalah orang-orang yang ditangkap Tuhan, supaya kita ini bukan hanya menjadi orang baik, melainkan menjadi orang yang sekarakter dengan Tuhan, sehingga kita bisa dinikmati oleh Tuhan. Kita punya pikiran dan perasaan seperti Tuhan sendiri. Maka, tugas gereja adalah untuk mendidik jemaat sampai hidup mereka dapat dinikmati Tuhan. Jangan jemaat hanya diajar bahwa Allah sungguh baik. Lalu menuntut berkat berlipat ganda; 30, 60, 100 kali lipat. Itu jahat, karena mengerdilkan jemaat dalam bertumbuh; menyesatkan. Yang harus kita urus adalah bagaimana batiniah kita diluruskan serta didewasakan.