Skip to content

Sunat Hati

 

Kalimat “Carilah dahulu Kerajaan Allah” sebenarnya sama dengan “Usahakanlah supaya kamu menjadi anggota Kerajaan Allah.” Untuk menjadi anggota Kerajaan Allah, hati kita harus disunat sehingga kita memiliki karakter kerajaan itu. Jadi, kita harus menghayati bahwa kita ini bukan bangsa gelandangan; kita memiliki status. Persoalannya, apakah kita memenuhi status sebagai anak-anak Allah? Gereja harus terus mengusahakan, mengkampanyekan, dan mendorong jemaat agar menjadi warga Kerajaan Allah. Firman yang disampaikan harus terus menyunat batin dan hati. Karena itu, pembicaranya sendiri harus mengalami sunat hati terlebih dahulu. Pertobatan kita bukan hanya satu kali; pertobatan adalah proses yang berlangsung terus-menerus.

Jika kita tidak menyadari bahwa kita adalah anggota keluarga Kerajaan Allah dan tidak mau mengenakan status melalui sunat hati, pasti kita tidak akan mengalami proses perubahan. Ketika kita meninggal dunia, Tuhan bisa berkata, “Aku tidak mengenal kamu. Kamu tidak melakukan kehendak Bapa dan tidak mengalami sunat batin.” Jangan hanya sibuk menjadi pendeta atau melayani kegiatan gereja, tetapi tidak mempersoalkan apakah hidup kita berkenan atau tidak di hadapan Tuhan. Banyak masalah yang kita hadapi, dan sering kali kita hanyut di dalamnya. Padahal kita tidak akan pernah benar-benar bebas dari masalah; selalu akan ada masalah. Jangan sampai kita memberhalakan masalah itu.

Apa pun yang terjadi, biarlah terjadi. Yang penting adalah bagaimana sunat batin kita berlangsung, bagaimana kita terus diperbarui untuk memiliki karakter sebagai anggota Kerajaan Allah. Jika kita hanya fokus pada masalah, kita tidak akan bertumbuh. Seharusnya masalah yang kita hadapi justru menjadi pemicu pertumbuhan rohani, sebab Allah memakai semua peristiwa dalam hidup kita untuk menyempurnakan kita. Persoalannya, bagaimana seseorang dapat berada di Kerajaan Surga jika ia tidak memenuhi karakteristik dan kualifikasi Kerajaan Allah? Karena itu kita harus hidup di hadirat Allah dan hidup dalam kesucian. Demikian juga bagi para orang tua: mereka harus menjadi alat di tangan Tuhan untuk menjadi berkat bagi keluarganya, menjadi teladan dan sosok yang dapat dicontoh. Gereja harus memiliki pribadi-pribadi seperti itu. Karena itu kita harus serius memiliki sifat-sifat Allah sehingga kita layak disebut anak-anak Allah karena memiliki moralitas dan kesucian-Nya.

Dalam Filipi 3:6–9 dikatakan bahwa Paulus melepaskan semua kebanggaannya dan menganggapnya sebagai sampah supaya ia memperoleh Kristus. Ada semacam pertukaran atau transaksi rohani. Jika seseorang masih terikat dengan kebanggaan dunia dan percintaan dunia, ia tidak akan memiliki Kristus. Kehidupan Paulus menjadi standar hidup orang beriman—standar hidup warga Kerajaan Allah atau anggota keluarga Kerajaan Allah. Ia berkata, “… ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.” Di sini Paulus membuka ruang bahwa bukan hanya dirinya yang menjadi teladan, tetapi ada juga orang-orang lain yang hidup seperti dia dan dapat menjadi teladan—termasuk kita.

Setiap kita harus dilepaskan dari pola pikir duniawi. Bersyukurlah jika kita masih memiliki kesempatan mendengar firman ini dan masih dapat ditarik keluar dari cara berpikir dunia. Namun jangan sampai kita tidak merespons firman ini. Pikirkanlah kekekalan. Jangan sombong, sebab jika kita tidak menjadikan Tuhan sebagai Tuhan dalam hidup kita, maka yang menjadi tuhan adalah diri kita sendiri. Sebaliknya, jika kita adalah anggota keluarga Kerajaan Allah, kita harus tunduk kepada Allah. Setiap negara atau kerajaan memiliki hukum dan undang-undang. Demikian pula negara kita memiliki hukum.

Jika kita adalah anggota keluarga Kerajaan Surga, maka hukum kita adalah Tuhan sendiri yang menaruh Roh Kudus di dalam hati kita. Roh Kudus akan menyatakan apa yang berkenan dan apa yang tidak berkenan kepada Tuhan. Kecuali jika kita tidak pernah berurusan dengan Roh Kudus—tidak pernah berdoa, tidak pernah mempersoalkan apakah yang kita lakukan berkenan di hadapan Tuhan atau tidak. Jika demikian, berarti kita sebenarnya tidak mencari Kerajaan Allah. Orang yang benar-benar mencari Kerajaan Allah akan tekun membedakan apakah yang ia pikirkan, renungkan, ucapkan, dan lakukan sesuai dengan kehendak Allah atau tidak.