Skip to content

Standar Hidup Baru

 

Jadi, ketika Paulus mengatakan dalam Roma 3 bahwa “kamu dibenarkan oleh iman,” yang dimaksud adalah iman seperti iman Paulus, yaitu iman yang disertai tindakan. Jika jemaat Roma tidak setia kepada Kristus—artinya tidak bersedia hidup dalam kesucian dan tidak rela menderita bagi Kristus—maka perdamaian dengan Allah tidak akan terwujud atau berlangsung dengan benar. Banyak gereja dan orang Kristen tidak memahami hal ini, terlebih ketika para teolog merumuskannya secara redaksional bahwa “kita diperdamaikan oleh darah Yesus, berarti sudah damai.” Padahal, Roma 6:1–2 dengan sangat tegas mengatakan, “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?”

Selanjutnya, Roma 6:4 mengatakan, “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Pertanyaannya, apakah standar hidup baru itu? Apakah sekadar berpindah agama—dari agama lain lalu menjadi Kristen? Itu pun tidak menjadi jaminan. Tidak sedikit orang non-Kristen yang kemudian menjadi Kristen, tetapi justru hidupnya lebih rusak daripada sebelum menjadi Kristen. Banyak yang akhirnya terjerembab dalam dosa karena karakternya tidak diubahkan. Mereka mengira bahwa dengan percaya Yesus, otomatis mereka telah hidup baru. Demikian pula orang-orang yang tadinya tidak pernah ke gereja, lalu mulai rajin ke gereja, tetapi tidak mengalami perubahan hidup yang sejati.

Ada suami yang sebelumnya tidak pernah ke gereja dan hidup dalam dosa, lalu mulai datang ke gereja karena dorongan istrinya atau karena tekanan hidup—jatuh miskin, dikejar utang, dan sebagainya. Namun, jika ia datang ke gereja tanpa mengalami proses perubahan, ia justru bisa berbuat dosa di dalam gereja. Ada pula orang-orang yang tadinya tidak melayani Tuhan, lalu tergerak untuk melayani, tetapi karakternya belum diubahkan, belum hidup baru. Dulu berbuat dosa, lalu ketika menjadi pendeta, ia tetap berbuat dosa di dalam gereja. Mengapa? Karena karakternya belum diubahkan. Maka standar hidup baru adalah semakin serupa dengan Kristus.

Roma 6:5–6 mengatakan, “Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.”

Lalu, apakah yang dimaksud dengan dosa? Inilah persoalannya. Dosa bukan hanya pelanggaran terhadap hukum, melainkan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Memang Tuhan sudah mengatakan bahwa mengikut Dia adalah jalan yang sempit. Ungkapan “diselamatkan oleh hidup-Nya” dapat dimengerti bahwa kualitas hidup Yesus—yang taat kepada Bapa dan hidup dalam kesucian—harus menjalar ke dalam hidup orang percaya. Firman Tuhan mengatakan, “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Rm. 5:12).

Melalui Adam, dosa menjalar; itulah kodrat dosa (sinful nature). Sekarang, melalui hidup Yesus, kita dipanggil untuk menjalani kehidupan sesuai dengan rancangan Allah agar dapat diperdamaikan dengan-Nya. Jika hidup Yesus tidak menjalar dalam hidup kita, maka hidup siapa yang sedang menjalar dalam diri kita? Mari kita periksa keinginan, hasrat, dan nafsu apa yang menguasai hidup kita hari ini. Apa yang sedang menjalar dalam hidup kita? Apakah kita sungguh-sungguh mau berubah? Jika tidak, sampai mati kita akan terus hidup dalam dosa—dosa yang terus menjalar, kemelesetan demi kemelesetan. Untuk meneguhkan pemahaman ini, kita harus memperhatikan Roma 5:19–21, “Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.”

Menjadi benar bukan sekadar “dianggap benar.” Dan yang disebut beriman bukan hanya memiliki keyakinan, melainkan seperti jemaat Roma yang taat, rela menderita, dan rela kehilangan segala sesuatu demi Kristus. Bukan iman murahan seperti yang banyak dimiliki orang Kristen masa kini, yang menganggap bahwa asal menjadi Kristen saja sudah cukup untuk disebut beriman.