Skip to content

Spirit Natal yang Benar

 

Tuhan Yesus harus meniti perjalanan panjang yang dimulai dari Nazaret, Sungai Yordan ketika dibaptis, melewati pergumulan berat menghadapi bangsa Yahudi yang tegar tengkuk dan keras kepala. Ia harus masuk Taman Getsemani, Ia harus menghadapi Pilatus dan imam besar. Ia harus terseok-seok di sepanjang Via Dolorosa sampai di bukit Golgota. Akhirnya, kebangkitan-Nya di taman makam Yusuf Arimatea. Dan bukan hanya sampai di situ. Kebangkitan-Nya kemudian memberikan mandat kepada orang percaya: “Sekarang segala kuasa di surga dan di bumi di tangan-Ku.” Pernyataan ini mengandung panggilan dan tanggung jawab bagi kita, bahwa Yesus sudah menyelesaikan karya-Nya di kayu salib, dan Iblis tidak mendapat tempat lagi di surga. Sekarang, di bumi, kitalah yang harus meneruskannya. Sebagaimana Bapa mengutus Yesus, sekarang Yesus mengutus kita.

Jadi, ketika hari ini kita merayakan Natal, kita sedang memperingati langkah awal bagi Yesus. Itu juga bisa menjadi inspirasi bagi kita: ini langkah awal bagi kita. Kitalah yang harus meneruskan karya keselamatan ini. Sebab dengan kita merayakan Natal bukan berarti kita sudah selamat. Justru karena keselamatan diberikan Tuhan, kita mempunyai tanggung jawab untuk masuk dalam proses mengerjakan keselamatan. Bagaimana kita mencapai maksud keselamatan itu diadakan? Yaitu agar karakter kita diubah. Sebab kita tidak mungkin menjadi utusan Tuhan Yesus tanpa memiliki kualitas seperti Pengutus kita.

Dalam Wahyu 12:10–11, Iblis dikalahkan dengan dua faktor. Yang pertama, darah Yesus. Yang kedua, kesaksian orang-orang yang tidak menyayangkan nyawanya. Yang pertama jelas: darah yang ditumpahkan di bukit Kalvari. Yang kedua adalah kesaksian orang percaya yang tidak menyayangkan nyawanya. Siapa mereka? Kita. Kita yang harus meneruskan perjuangan ini. Seharusnya, ketika kita merayakan Natal, ada beban di dalam hati kita, sebab perjuangan itu belum selesai. Kita baru mulai. Namun kita harus berani “kehilangan nyawa” seperti Yesus mengosongkan diri. Bagaimana kita menyelesaikan tugas itu? Pertama, tidak memberi tempat berpijak kepada Iblis. Iblis jangan punya tempat berpijak dalam hidup kita. Untuk menjadi utusan Tuhan, kita tidak boleh membuka diri terhadap kuasa kegelapan. Kita harus hidup seperti Yesus hidup. Kita harus berubah.

Seiring dengan pertumbuhan iman dan kedewasaan rohani, setiap tahun kita merayakan Natal, seharusnya kita semakin memiliki beban yang dalam. Bukan dalam euforia atau sukacita kosong. Setiap kali kita merayakan Natal, kita melihat kembali perjuangan Tuhan Yesus—bagaimana Ia memulai dengan mengosongkan diri. Dan setelah Ia menyelesaikan semuanya, segala kuasa di surga dan di bumi ada di tangan-Nya. Ia sudah mengalahkan Iblis dan menarik Iblis dari surga turun ke bumi. Sekarang, kitalah yang harus menyelesaikan bagian ini.

Betapa berat beban ini. Tidak bisa disangkal, sering kali kebaktian dan perayaan Natal hanya menempatkan Yesus sebagai objek. Jauh dari menjadikan Dia sebagai subjek dalam hidup kita. Jika demikian, sesungguhnya lebih baik kita tidak merayakan Natal sama sekali, daripada merayakan Natal tetapi hanya menjadikan Dia sebagai objek.

Padahal Dia bukan lagi bayi kecil. Ia seakan sedang “menangisi” dunia, seolah berkata, “Lihat bagaimana Aku mengosongkan diri, meninggalkan segala kemuliaan. Aku sudah menyelesaikan tugas ini. Sekarang engkau, yang mengaku percaya kepada-Ku, yang mengaku mengikut Aku, lakukan seperti yang Aku lakukan.” Sebab mengikut Tuhan Yesus berarti harus terus mengikut Dia di Via Dolorosa, bahkan sampai disalib, seperti yang Paulus saksikan: menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya. Ia bukan bayi kecil lagi, dan kita pun jangan menjadi orang Kristen bayi—Kristen tanpa tanggung jawab, Kristen tanpa beban—yang tidak melihat betapa jahatnya dunia ini menyeret banyak orang menuju kegelapan abadi.

Dia sedang menantikan orang-orang yang bersedia menderita bersama-sama dengan Dia. Sebab Kerajaan-Nya pasti akan hadir, ketika jumlah orang-orang yang seperti Dia sudah genap. Justru ketika kita merayakan Natal seperti ini, hati kita menjadi sedih, kita merasa susah—bukan dalam euforia. Orang Kristen baru, yang masih bayi, mungkin berpesta.

Spirit Natal seperti apa yang kita miliki? Penderitaan, perendahan diri, pengosongan diri. Itulah spirit Natal yang benar. Bila kita menyanyi dan memuji Tuhan, itu bukan sesuatu yang salah, tetapi di balik semua sukacita itu spirit yang benar harus tetap dihadirkan, yaitu beban ilahi yang kita pikul bersama Kristus.