Dunia tidak pernah absen untuk terus merayu, menggoda, dan memengaruhi orang-orang percaya agar memiliki warna yang sama dengan dunia. Dengan berbagai manuvernya, kuasa kegelapan akan terus bekerja agar misinya berhasil dengan membawa sebanyak-banyaknya manusia terseret ke dalam api kekal. Inilah yang menjadi tujuan dan misi Allah mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus, yaitu menyelamatkan dan mengeluarkan sebanyak-banyaknya orang dari penjara dosa. Namun, untuk tujuan dan misi itu, Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya akan dihadapkan pada musuh yang tidak dapat dianggap sepele.
Bahkan, Tuhan Yesus menggambarkan pengutusan itu seperti anak domba di tengah-tengah serigala (Lukas 10:3). Gambaran “anak domba di tengah-tengah serigala” bukan gambaran yang menenangkan. Domba tidak memiliki cakar, taring, atau kecepatan lari seperti serigala. Secara alami, domba berada dalam posisi rentan ketika berhadapan dengan serigala. Tuhan Yesus tidak hanya memberi nasihat, tetapi Ia juga pernah berada dalam kondisi tersebut. Nasihat yang paling bijak adalah nasihat dari seseorang yang telah mengalaminya sendiri.
Seperti Allah Bapa menyertai Anak Tunggal-Nya dalam menghadapi serigala-serigala dunia, demikian pula Ia akan menjaga dan melindungi murid-murid yang diutus oleh Tuhan Yesus. Allah tidak menjanjikan bahwa jalan yang dilalui oleh Tuhan Yesus akan bebas dari rintangan dan hambatan. Demikian pula dengan apa yang akan dihadapi oleh murid-murid-Nya dalam pengutusan, tidak ada jaminan bahwa perjalanan mereka akan selalu aman dan damai. Namun, Allah menjanjikan penyertaan-Nya, baik kepada Tuhan Yesus maupun kepada murid-murid-Nya. Orang-orang percaya adalah utusan-utusan Kristus di muka bumi ini. Kehadiran orang percaya di bumi tidak terjadi tanpa maksud atau tujuan, apalagi sebagai sesuatu yang kebetulan. Allah memiliki visi dan tujuan menghadirkan orang-orang percaya di muka bumi ini. Seperti Tuhan Yesus berkata, “Akulah terang dunia,” orang-orang percaya harus memancarkan terang di tengah-tengah gelapnya dunia. Orang percaya dipakai Allah untuk menjadi terang yang menerangi dunia, bukan berubah menjadi gelap seperti dunia.
Menjadi terang di tengah kegelapan dunia bukan berarti tanpa risiko dan tantangan. Bahkan, yang terjadi bisa berupa perlawanan, pertentangan, dan permusuhan. Perlawanan dapat datang dari kuasa kegelapan, lingkungan yang toxic atau beracun, orang-orang jahat yang memusuhi, sampai teman, sahabat, bahkan saudara sekandung. Dalam Matius 10:21–23 tertulis, “Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka. Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang.”
Orang-orang percaya sedang hidup di tengah dunia yang fasik, dunia yang tidak takut akan Tuhan. Karena itu, orang percaya tidak boleh mengikuti warna dunia dengan menjadi manusia yang tidak takut akan Tuhan. Panggilan sebagai utusan-utusan Tuhan Yesus di tengah-tengah dunia yang fasik harus senantiasa diingat. Jangan pernah berubah, apalagi meninggalkan panggilan tersebut, bahkan dalam keadaan yang paling menyakitkan, seperti pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang terdekat. Hal itu pun pernah dialami oleh Tuhan Yesus.
Ini bukan realisme yang mengejutkan, melainkan fakta yang memperingatkan murid-murid-Nya tentang kemungkinan yang akan dialami secara langsung. Ini bukan hanya gambaran tentang orang asing yang memusuhi, melainkan juga gambaran meja makan keluarga yang bisa terbelah karena iman. Bagi sebagian orang, hal ini mungkin terasa jauh dari pengalaman sehari-hari. Namun, bagi banyak saudara seiman, bagian firman Tuhan ini terasa sangat dekat dan nyata. Mereka harus menghadapi pilihan yang berat untuk tetap setia kepada Tuhan Yesus, walaupun ikatan keluarga, kekayaan, bahkan nyawa menjadi taruhannya. Setialah sampai akhir. Jangan setengah-setengah, apalagi seadanya.