Skip to content

Setia Mengabarkan Injil, Apa Pun Responsnya

 

Salah satu bagian paling realistis dari pengutusan murid-murid adalah bahwa Yesus tidak pernah menjanjikan bahwa semua orang akan menerima mereka. Justru, Yesus mempersiapkan mereka untuk menghadapi penolakan. Ia berkata bahwa apabila ada orang yang tidak menerima mereka dan tidak mendengarkan perkataan mereka, mereka harus meninggalkan tempat itu dan mengebaskan debu dari kaki mereka. Mengapa Yesus perlu mengatakan hal ini? Karena Yesus mengetahui sesuatu yang sering kali sulit kita terima: kesetiaan kepada Tuhan tidak selalu menghasilkan penerimaan manusia.

Kadang-kadang kita berpikir bahwa jika pelayanan kita benar, semua orang akan menyambut. Jika khotbah kita baik, semua orang akan setuju. Jika kita sudah melayani dengan kasih, semua orang akan menghargai. Namun, kenyataan tidak selalu demikian. Yesus sendiri ditolak. Para nabi ditolak. Para rasul juga mengalami penolakan. Karena itu, murid-murid harus belajar membedakan antara kesetiaan dan keberhasilan menurut ukuran manusia. Tanggung jawab mereka adalah memberitakan, sedangkan respons orang lain berada di luar kendali mereka.

Prinsip ini sangat penting dalam pelayanan. Seorang guru sekolah minggu mungkin sudah mengajar dengan sungguh-sungguh, tetapi belum melihat perubahan pada anak didiknya. Orang tua mungkin sudah berulang kali menasihati anaknya dengan kasih, tetapi anaknya masih memilih jalan yang berbeda. Seorang pelayan mungkin sudah berusaha mendamaikan dua orang, tetapi keduanya tetap mempertahankan konflik. Apakah itu berarti pelayanan kita sia-sia? Tidak selalu. Kita harus berhati-hati agar tidak mengukur kesetiaan kepada Tuhan hanya berdasarkan hasil yang dapat kita lihat.

Ada benih yang baru tumbuh bertahun-tahun kemudian. Ada perkataan yang baru dipahami seseorang setelah melewati pergumulan panjang. Ada kesaksian yang mungkin baru dikenang ketika seseorang berada dalam keadaan yang sangat membutuhkan Tuhan. Karena itu, tugas kita adalah menabur dengan setia. Namun, ada sisi lain yang juga perlu diperhatikan. Ketika Yesus berbicara tentang penolakan, Ia tidak menyuruh murid-murid untuk memaksa. Mereka tidak diperintahkan untuk berdebat tanpa akhir atau menggunakan tekanan supaya orang menerima berita Kerajaan Allah. Ada waktunya untuk berbicara. Ada waktunya untuk pergi. Ini mengajarkan kedewasaan rohani. Kita harus memiliki keberanian untuk memberitakan kebenaran, tetapi juga kerendahan hati untuk menerima bahwa setiap orang memiliki responsnya sendiri. Kita tidak dapat memaksakan iman. Kita dapat menyampaikan Injil, tetapi hanya Allah yang bekerja dalam hati manusia. Karena itu, jangan sampai keinginan untuk melihat hasil membuat kita menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan karakter Kristus.

Pelayanan bukan manipulasi. Penginjilan bukan paksaan. Kesaksian bukan tekanan. Kita memberitakan karena kita mengasihi dan karena Kristus telah mempercayakan berita itu kepada kita. Yang lebih penting lagi, jangan biarkan penolakan manusia mengubah hati kita menjadi pahit. Ada pelayan Tuhan yang berhenti melayani bukan karena Tuhan menyuruhnya berhenti, tetapi karena ia kecewa terhadap manusia. Ada orang yang tadinya penuh kasih, tetapi setelah beberapa kali disalahpahami, ia menjadi keras. Ada orang yang tadinya melayani dengan sukacita, tetapi karena tidak dihargai, akhirnya kehilangan motivasi. Kita harus kembali kepada sumber panggilan. Kita melayani bukan supaya manusia menerima kita. Kita melayani karena Kristus telah mengutus kita. Jika diterima, kita bersyukur. Jika ditolak, kita tetap setia. Jika dihargai, kita tidak menjadi sombong. Jika tidak dihargai, kita tidak menjadi pahit.

Sebab, keberhargaan pelayanan kita tidak ditentukan oleh tepuk tangan manusia. Pada akhirnya, Tuhan tidak terutama bertanya, “Berapa banyak orang yang menerima?” melainkan apakah kita telah menjadi hamba yang setia terhadap apa yang dipercayakan-Nya. Fokus kita bukan pada seberapa besar respons yang kita terima, melainkan pada kesetiaan dalam menjalankan panggilan yang telah Tuhan percayakan. Karena itu, tetaplah memberitakan Injil. Tetaplah mengasihi. Tetaplah menjadi saksi. Tetaplah melakukan yang benar. Hasil berada di tangan Tuhan; kesetiaan berada di tangan kita.