Skip to content

Serigala vs Domba

 

Jika kita membaca Injil-Injil Sinoptik dengan saksama, akan ditemukan bahwa pelayanan Tuhan Yesus selalu mendatangkan pertentangan. Ironisnya, pertentangan itu datang dari kaum moralis dan agamis, yakni para ahli Taurat serta orang-orang Farisi. Ahli-ahli Taurat adalah orang-orang yang ahli dalam hukum Musa, sedangkan kaum Farisi menjaga dengan ketat tradisi Yudaisme. Apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Tuhan Yesus hampir selalu mendapatkan pertentangan, perlawanan, dan puncaknya, pemufakatan untuk membunuh-Nya. Dalam dunia psikologi terdapat pembahasan tentang kesesatan berpikir atau logical fallacy, yang salah satunya disebut argumentum ad hominem, yaitu ketika seseorang tidak menyampaikan argumen terhadap suatu argumentasi, tetapi menyerang pribadi orang yang menyampaikannya. Ia tidak menjelaskan kesalahan sebuah pernyataan, tetapi menyerang secara pribadi.

Tuhan Yesus berkata dalam Matius 23:2–4, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.” Atas pernyataan itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membenci Tuhan Yesus. Logika sederhananya, jika ada satu pernyataan yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, hal itu harus dijelaskan, bukan dengan menyerang pribadi orang yang menyampaikannya. Kesesatan berpikir dapat melahirkan tindakan atau perbuatan yang tidak kalah sesatnya.

Dalam Yohanes 11:53 tertulis, “Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.” Latar belakang pemufakatan pembunuhan itu adalah ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendapati banyak orang Yahudi percaya kepada Tuhan Yesus setelah Ia membangkitkan Lazarus. Tuhan Yesus tidak memaksa orang-orang Yahudi itu untuk memercayai Dia. Mereka percaya kepada Tuhan Yesus atas keputusan sendiri setelah menyaksikan mukjizat kebangkitan orang mati. Mengapa imam-imam kepala dan orang-orang Farisi malah membenci Tuhan Yesus dan membuat kesepakatan untuk membunuh-Nya? Benar-benar sesat. Kita mesti berhati-hati jika terjadi kesesatan dalam alam pikiran karena hal itu akan berdampak pada tindakan atau perbuatan yang juga sesat.

Jadi, ketika Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya dalam Matius 10:16, “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati,” Tuhan Yesus sudah mengalaminya. Ia bukan sekadar menasihati atau mengingatkan tanpa mengalami terlebih dahulu. Tuhan Yesus tidak mengutus murid-murid-Nya sebagai serigala ke tengah-tengah serigala, tetapi seperti anak domba (Lukas 10:3)—bukan domba dewasa, melainkan anak domba—ke tengah-tengah serigala.

Domba dewasa saja tidak memiliki pertahanan ketika berhadapan dengan serigala, apalagi anak domba. Domba tidak mempunyai taring untuk menggigit dan larinya pun tidak secepat serigala. Benar-benar menjadi bulan-bulanan serigala. Perintah Tuhan Yesus ini bukan berarti mengutus murid-murid untuk mati sia-sia, tetapi Tuhan Yesus ingin mengingatkan bahwa Ia pernah melalui kondisi tersebut. Tidak bisa tidak, ketika Tuhan Yesus menyampaikan Injil Kebenaran, ketidakbenaran akan muncul dan memberikan perlawanan sengit.

Namun, Tuhan Yesus memberikan semacam clue atau petunjuk untuk menghadapi para serigala itu dengan cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Ular menggambarkan kewaspadaan atau kecerdikan, sedangkan merpati menunjuk pada kebijaksanaan, ketulusan, dan kerendahan hati. Kewaspadaan atau kecerdikan tanpa ketulusan akan melahirkan manipulasi. Sebaliknya, ketulusan tanpa kecerdikan akan melahirkan kenaifan atau kedangkalan, yaitu menjadi orang-orang baik yang terus-menerus dimanfaatkan atau bahkan tanpa sadar mencelakakan diri dan orang lain karena kurangnya pertimbangan.

Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Tuhan Yesus, orang-orang percaya masa kini pun akan berhadapan dengan serigala-serigala duniawi yang siap mengancam, menelan, dan membunuh. Kita hidup di tengah-tengah dunia yang jahat, tetapi jangan berubah atau ikut-ikutan menjadi jahat. Ketika orang-orang tertentu melakukan korupsi dan memaksa kita melakukan hal yang sama, cerdiklah dan tuluslah. Tuhan akan menolong kita menghindari tekanan untuk berbuat dosa.