Menjadi orang Kristen yang sejati itu sangat berat, bahkan nyaris mustahil. Kita hanya memiliki satu kali kesempatan hidup, dan dalam hidup yang singkat ini kita tidak pernah tahu kapan akan berakhir. Bersyukurlah orang muda yang sudah belajar firman. Karena itu, belajarlah sampai mengerti keagungan dan kebenaran Kristus. Jika kita melihat hidup kita hari ini, seharusnya kita meratap. Namun ironisnya, yang terjadi bukan meratap, melainkan justru membela diri. Kita semua yang belum sempurna harus rendah hati dan belajar mengakui kekurangan kita, supaya kita dapat meratapi keadaan kita yang belum seperti yang Tuhan inginkan.
Ingat, firman Tuhan berkata, “Orang yang haus dan lapar akan kebenaran akan dipuaskan.” Baiklah kita belajar untuk mengerti dan mengenakan kebenaran. Selama kita belum hidup seperti yang Tuhan Yesus lakukan, selama kita belum mengenakan pribadi-Nya, kita harus terus berjalan, terus bertobat, dan terus mendesak diri supaya semakin mengenal Tuhan.
Secara literal kita bisa membaca buku dan mendengar khotbah, tetapi yang terutama adalah kita harus bersentuhan dengan Tuhan. Nanti kita akan tahu bahwa Tuhan berbicara langsung kepada kita, karena Roh Kudus ditempatkan di dalam diri kita. Oleh sebab itu, kita harus berjumpa dengan Tuhan, sebab ketika memandang keagungan Pribadi-Nya, barulah kita menyadari bahwa diri kita hanyalah bejana yang hancur. Walaupun menjadi pendeta, kita tetap menemukan kehancuran masa lalu kita—kesombongan, harga diri, dan keangkuhan. Jika kita merasa lebih baik, jangan menjadi sombong. Mari belajar bertobat setiap hari.
Apabila seseorang belajar mengalami dukacita jenis ini, ia akan kebal terhadap dukacita lain yang ditanamkan Iblis. Iblis akan membuat kita berdukacita atas hal-hal yang seharusnya tidak perlu kita ratapi. Jika hidup ini sering membuat kita kesal, jengkel, dan marah, kita sebenarnya tidak perlu demikian. Kita sering berdukacita untuk hal-hal yang tidak perlu. Orang seperti ini tidak tangguh menghadapi hidup. Namun jika kita kebal terhadap dukacita dunia—dan sebaliknya berdukacita karena kehendak Allah—kita akan semakin tangguh dalam menghadapi berbagai pergumulan hidup. Sejalan dengan itu, ketika seseorang mengutamakan Tuhan dan bergumul tentang Kerajaan Surga, seluruh persoalan hidup, betapa pun besarnya, menjadi kecil dan tidak berarti lagi.
Yang menjadi berhala bukan hanya kesenangan, melainkan juga hobi, uang, dan berbagai kenikmatan hidup. Berhala adalah sesuatu yang kepadanya hati kita tercurah atau terikat. Bahkan masalah atau perasaan kita sendiri bisa menjadi berhala. Orang yang suka memanjakan perasaan adalah orang yang tidak sungguh-sungguh menjadikan Yesus sebagai Tuhan. Ia hanyut dalam masalah dan berdukacita untuk hal-hal yang tidak perlu. Karena itu, ketika Tuhan mengizinkan kita “disengat” oleh ujian—motor hilang, mobil ditabrak, dikhianati orang yang dekat dengan kita—semua itu dapat menjadi latihan bagi kita. Karakter kita jauh lebih berharga daripada dukacita karena hal-hal duniawi.
Ketika usia kita semakin bertambah dan kita belum mencapai standar yang pantas, kita harus meratap. Jangan hanya membela kemalasan dan tidak bertumbuh secara normal. Pada akhirnya, untuk mencapai target yang Tuhan kehendaki—yaitu bermartabat sebagai anak-anak Allah—kita harus sungguh-sungguh berani memfokuskan hidup pada tujuan ini sebagai satu-satunya tujuan utama, sementara hal-hal lain hanyalah pendukung.
Ketika kita sungguh-sungguh menjadikan Tuhan sebagai tujuan hidup—di mana kita berusaha mencapai target hidup dalam perkenanan-Nya—kita akan terus membawa diri kepada terang kesucian Allah melalui kebenaran yang kita pelajari. Kita akan mengalami dukacita yang kudus seperti yang dimaksudkan dalam Injil Matius. Sebab jika kita tidak membawa diri kita kepada terang kesucian Tuhan dan tidak menjadikan Tuhan Yesus sebagai standar kesucian kita, kita tidak akan pernah mengalami dukacita yang demikian.