Skip to content

Selama Kita Mempunyai Tuhan

 

Jangan merasa kehilangan apa pun selama kita mempunyai Tuhan. Jangan merasa gagal selama kita masih mempunyai kesempatan menemukan Tuhan. Ilmu teologi tidak membuat kita mulia, tapi perjumpaan kita dengan Tuhan dan pengalaman dengan Tuhan, membuat kita kaya. Jadi jangan sombong karena mempunyai ilmu teologi, jangan sombong karena mempunyai doktrin yang kuat di pikiran kita, jangan sombong karena pintar berbicara. Temui Tuhan, sampai Tuhan mengatakan, “kamu kekasih-Ku.” Maka tidak ada yang bisa lawan kita, sampai anak cucu kita pun akan diingat Tuhan. Kita tidak bisa selalu menjaga orang yang kita kasihi, namun kalau kita jadi kekasih Tuhan, Tuhan akan menjagai. 

Ilmu teologi sebanyak apa pun, semahir apa pun pendeta berkhotbah, tidak membuat kita berubah, kecuali kita bertemu Tuhan langsung. Maka tidak boleh pendeta sentris, tapi harus teosentris, Allah sentris, Kristus sentris. Dan itu bisa kita alami kalau kita mengalami Dia, mengecap Dia. Dia hidup, senyata orang tua yang bisa kita jumpai, begitu pun Tuhan kita bisa jumpai. Tapi ironis, kita telah banyak membuang waktu untuk nonton TV, gadget, media sosial, yang mana tidak berguna bagi kedewasaan rohani kita. Maka kita harus berani membuangnya, sebab kalau kita mau dipisahkan dari dunia ini, harus seekstrem-ekstremnya. 

Sejatinya, kalimat-kalimat ini belum bisa mewakili bagaimana seharusnya kita ekstrem.  Allah terlalu dahsyat, terlalu besar, tak ternilai harganya. Kita harus mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Jangan merasa malang, tersingkir, tersisih, tidak mempunyai siapa-siapa. Ingat, kita mempunyai satu yaitu Tuhan. Dia lebih dari seribu orang, seribu anak, bahkan lebih dari sejuta kawan. Sebab mempunyai satu Tuhan itu cukup. Jangan kecilkan Tuhan. Tuhan yang kita miliki satu, dan memang Dia Allah Yang Esa, Yahweh, lebih dari seluruh kekayaan jagat raya ini. Kita harus berambisi mengalami Tuhan dan bertemu dengan-Nya. 

Dan ketika kita berbaring di tempat tidur, kita berkata, “Roh Kudus, jangan berhenti berbicara denganku. Kita bercakap-cakap sampai aku terlelap. Bangunkan aku saat aku harus bangun.” Sehingga bagaimana Allah yang dikisahkan di dalam Alkitab adalah Allah yang benar-benar kita alami. Namun memang, kita harus dibawa ke pantai Laut Kolsom, di mana kita harus mengangkat tangan dan membelah laut itu. Tanpa persoalan berat, sulit mengalami Tuhan yang besar, karena masalah besar membuka mata kita untuk menemukan Allah yang besar.  

Namun ironis, banyak yang jauh dari pengalaman besar ini, pengalaman mereka sendiri saja tidak bisa mereka tanggulangi. Pengalaman besar ini adalah pengalaman untuk pelayanan dan pekerjaan Tuhan. Mereka sudah terlalu lambat dan lamban, sehingga mereka tidak dipercayai Tuhan untuk pekerjaan-pekerjaan-Nya. Padahal, kita hanya mempunyai satu kali kesempatan untuk hidup. Mereka takut mempertaruhkan hidup, waktu, milik, dan perasaannya. Namun di satu sisi ingin mengalami Tuhan yang besar. Tidak bisa. Seseorang tidak bisa mengalami Tuhan banyak kalau pertaruhannya sangat kecil. Untuk pasangan hidup, orang tua, anak, bahkan untuk teman mereka bisa memberi porsi yang besar, tapi untuk Tuhan mereka kasih remah-remah. 

Kita sudah harus berkata kepada Tuhan, “Tuhan, kurang apa lagi? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lepaskan? Apa yang harus aku perbuat?” Namun dengan itu pun tidak mudah untuk menjangkau ketinggian Allah dan hadirat-Nya. Apalagi kalau kita memberikan hanya remah-remah. Doa hanya seadanya dan baca Alkitab hanya sekadarnya, namun kalau untuk yang lain bisa menikmati sebanyaknya. Kita harus menutup pintu hati terhadap kesenangan apa pun. 

Buktikan kalau Tuhan tidak menjadi satu-satunya harta kita, pasti kita akan memanipulasi pelayanan. Kita pasti korupsi, korupsi waktu, uang, dan lain sebagainya. Kita bisa lihat dan buktikan itu. Ini bukan hanya untuk pendeta, kalau kita mau mencapai tingkat rohani yang tinggi, kita lakukan ini. Sebab, hanya dengan demikian kita menjadi kekasih Tuhan dan kita pun berkata “Engkau satu-satunya hartaku, Tuhan.”