Skip to content

Selalu Memperkarakan Diri

 

Mengapa seseorang tidak memiliki kehausan dan kelaparan akan kebenaran? Pertama, karena ia belum memiliki kehidupan ilahi di dalam dirinya. Ia termasuk kelompok manusia duniawi yang tidak mengenal kebenaran. Mereka hanya menjalankan kehidupan keberagamaan tanpa sungguh-sungguh memahami kebenaran. Mereka merasa puas berada di lingkungan yang baik, padahal hidupnya belum seperti yang Allah kehendaki. Kedua, karena ia mengalami kesuaman rohani. Kerohaniannya sedang sakit sehingga tidak merasakan haus dan lapar akan kebenaran. Dalam hidupnya masih ada dosa-dosa yang merusak hubungannya dengan Tuhan. Karena itu, setiap orang harus selalu memperkarakan dirinya: mengapa ia tidak memiliki rasa haus dan lapar akan kebenaran?

Ketika kita hidup tidak bercacat dan tidak bercela, kita pasti haus dan lapar akan kebenaran. Namun ketika kita mulai menyukai sesuatu—terlebih lagi dosa—kehidupan rohani kita menjadi hambar dan lumpuh. Kehausan akan Tuhan diawali ketika seseorang mengakui dosa dan kesalahannya, saat Allah menerangi hatinya sehingga ia menyadari bahkan kesalahan-kesalahan kecilnya. Karena itu, kita harus memiliki kesadaran seperti anak bungsu yang sadar dan kembali kepada ayahnya (Luk. 15:17). Dalam Lukas 16, orang kaya berkata agar Lazarus mencelupkan ujung jarinya ke dalam air untuk menyejukkan lidahnya. Air di sini bukan sekadar air jasmani, melainkan gambaran kebutuhan rohani.

Kehausan rohani manusia hanya dapat dijawab oleh Tuhan Yesus. Ia berkata kepada perempuan Samaria di sumur Yakub, “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi; tetapi barangsiapa minum air yang Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya” (Yoh. 4:13-14). Kehausan akan Tuhan dapat diibaratkan seperti seseorang yang semakin minum, semakin ingin minum lagi. Semakin seseorang berjumpa dengan Tuhan, maka tingkat kehausannya akan semakin tinggi pula. Tuhan adalah Pribadi yang dapat dinikmati dan dikasihi. Ketika seseorang semakin mengasihi Tuhan, ia melihat cakrawala yang tidak terbatas dalam Pribadi Allah Yang Maha Agung. Hal ini hanya dialami oleh mereka yang sungguh haus dan lapar akan kebenaran serta rindu hidup tidak bercacat dan tidak bercela.

Ketika seseorang mengembangkan kebutuhan untuk haus dan lapar akan kebenaran, berarti ia merindukan kehidupan yang benar-benar menemukan Tuhan. Seseorang mungkin memiliki definisi tentang Tuhan, tetapi tanpa pengalaman pribadi, itu hanya sebatas konsep. Orang Kristen bisa berkhotbah atau mendengar khotbah tentang haus dan lapar akan kebenaran, tetapi kenyataan apakah ia benar-benar haus dan lapar adalah hal yang berbeda. Karena itu, orang percaya harus berani melangkah dalam gaya hidup anak-anak Allah: rajin berdoa, setia bersekutu, mendengarkan Injil yang murni, dan hidup sesuai kehendak Allah. Langkah-langkah ini mengawali kehidupan rohani yang sehat sampai akhirnya seseorang benar-benar memiliki kehausan akan Tuhan.

Seperti halnya orang yang jatuh cinta, pasti memiliki kehausan dan kelaparan di dalam jiwanya terhadap orang yang dikasihinya untuk bisa selalu bersama. Kecintaan yang mendalam kepada Tuhan adalah prestasi hidup yang tiada duanya. Dahulu kita mungkin mengasihi Tuhan karena menginginkan kuasa-Nya menopang kehidupan kita. Kita menjadikan Tuhan sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan. Namun sejatinya, Tuhan harus menjadi satu-satunya kebutuhan hidup kita. Jiwa kita hanya memiliki satu tujuan, yaitu Tuhan semata.