Selagi Masih Ada Kesempatan

Dalam kehidupan orang Kristen, yang menjadi pemicu mereka menunda pertobatan adalah pemikiran bahwa selalu ada kesempatan untuk bertobat dan mengalami perubahan. Padahal, kenyataan sebenarnya tidak selalu ada kesempatan untuk bertobat dan mengalami perubahan. Tidak seorangpun tahu kapan akhir perjalanan hidupnya, sehingga sebenarnya tidak seorangpun tahu kapan kesempatannya untuk bertobat dan berubah, sampai tidak akan ada lagi. Kuasa gelap menipu banyak orang dengan suara bahwa nanti selalu masih ada kesempatan untuk bertobat dan berubah. Padahal, sering kesempatan itu akan segera lenyap dan tidak pernah kembali lagi. Usaha kuasa gelap dimaksudkan agar orang Kristen tidak berjaga-jaga dengan sungguh-sungguh, dan tidak menggunakan kesempatan yang ada untuk bertumbuh. Maka sebagai akibatnya, kehilangan kesempatan sama sekali. Fakta yang tak dapat dibantah bahwa kuasa gelap telah berhasil menipu banyak orang sehingga mereka menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan. Hal tersebut mengakibatkan kebinasaan atas diri mereka sendiri. Dengan cara ini, kuasa gelap berhasil memisahkan manusia dari Allah Bapa.

Dalam Alkitab, kita menemukan kisah-kisah tradisi mengenai orang yang tidak memiliki kesempatan lagi untuk memperoleh berkat. Dalam Ibrani 12:15-17 tertulis, “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.” Ayat-ayat ini mengungkapkan kisah tragis dari Esau yang dengan cerobohnya menukar hak kesulungannya dengan semangkuk makanan. Ketika Esau menyadari kesalahannya dan mencoba untuk memperbaikinya, ia tidak memiliki kesempatan lagi. Ini benar-benar suatu ketragisan yang tak terbayangkan. 

Kalimat “tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya” dalam ayat di atas menunjukkan kenyataan pahit yang bisa dialami oleh setiap orang. Nasihat ini diberikan agar orang percaya jangan mengalami pengalaman pahit seperti yang dialami oleh Esau.  Oleh sebab itu, kita tidak boleh berpikir bahwa Allah sudah menentukan orang untuk diselamatkan, dan mereka yang ditentukan tidak mungkin bisa binasa. Kenyataannya, ada orang yang mestinya memiliki hak kesulungan sebagai anak-anak Allah dapat melepaskan hak kesulungan itu demi kesenangan atau percintaan dunia. Faktanya, hari ini dapat dilihat banyak orang Kristen yang telah hanyut dalam berbagai kesenangan dunia dengan segala hiburannya sehingga tidak menghargai nilai-nilai rohani. Hal ini sama dengan tidak menghormati Tuhan dan tidak menghargai nilai-nilai kekekalan di dalam Kerajaan Surga.

Kita harus selalu berpikir bahwa “seolah-olah hari ini adalah hari terakhir kita.” Dan memang faktanya, hal itu bisa benar-benar terjadi. Dengan berpikir demikian, kita akan berusaha untuk memanfaatkan kesempatan yang ada untuk perubahan guna menyenangkan hati Allah dengan hidup sesuai kehendak dan rencana Allah. Sering kali, karena setiap hari bisa datang dan pergi, banyak orang menjadi ceroboh. Banyak orang berpikir bahwa setiap hari ia akan memperoleh hari yang baru. Banyak orang tidak menyadari bahwa suatu saat, ia tidak akan lagi melihat matahari yang terbit di ufuk Timur, dan tidak lagi dapat menghirup segar sebab akhir hidupnya telah sampai. Tidak seorangpun tahu kapan hari terakhir hidupnya. Jadi, sangatlah tepat dan bijaksana kalau kita berpikir bahwa hari ini adalah hari terakhir kita.

Kita harus memandang bahwa setiap hari sangat berharga sebagai kesempatan untuk belajar mengalami perubahan, agar kita bisa menjadi anak-anak Allah yang sungguh-sungguh menyukakan hati Bapa. Kalau kita berpikir bahwa hari ini adalah hari terakhir kita, maka hari ini menjadi hari yang sangat berharga. Setiap menit dan detiknya menjadi berharga, dan kita berusaha untuk sungguh-sungguh menjadikan waktu hidup kita melayani perasaan Allah Bapa. Melayani perasaan Bapa artinya melakukan segala sesuatu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dengan cara hidup demikian, kita sama halnya dengan mengumpulkan harta di surga. Hidup kita menjadi bernilai bukan saja sementara kita hidup di bumi, tetapi juga bernilai sampai kekekalan. 

Orang yang melayani perasaan Bapa sejak hidup di bumi akan diperkenankan hidup bersama-sama dengan Bapa di dalam Kerajaan Surga. Orang yang tidak melayani perasaan Bapa, tidak akan diperkenankan hidup bersama-sama dengan Dia di dalam Rumah-Nya. Hal ini adalah pilihan masing-masing individu. Apakah seseorang melayani perasaan Allah atau perasaannya sendiri, tergantung pada kehendak bebas masing-masing individu tersebut. Dalam hal ini, hidup benar-benar memiliki risiko atau konsekuensi yang sangat tinggi, sebab masing-masing orang harus menentukan nasib atau keadaan kekalnya. Itulah sebabnya, berkali-kali Alkitab menulis bahwa setiap orang harus mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Allah.