Skip to content

Resolusi Tahun Baru

 

Awal tahun biasanya membawa nuansa segar yang memberi energi baru untuk berjanji melakukan perubahan positif. Kalender baru, rencana baru, ditambah dengan semangat yang juga baru. Tidak sedikit dari kita menetapkan target, seperti membaca Alkitab lebih konsisten, lebih sungguh-sungguh menjaga hidup kudus, menata pelayanan lebih rapi, mengelola waktu secara bijak, serta membangun hubungan yang lebih baik dengan keluarga, kolega, dan sahabat.

Di sisi lain, awal tahun tidak jarang menjadi pengingat bahwa banyak komitmen yang belum dipenuhi pada tahun lalu: rencana-rencana untuk memperbaiki diri yang terabaikan, resolusi-resolusi yang pernah kita susun setahun sebelumnya, yang pada akhirnya tidak terealisasi. Sebagian gagal murni karena kelalaian kita, ada pula karena semangat yang pudar, dan ada juga yang “berantakan” akibat terlalu banyak beban hidup. Bukan tidak mungkin kita mulai bertanya-tanya: apakah masih relevan menyusun resolusi di awal tahun ini? Apakah saya masih pantas mencoba lagi? Atau ini hanya sekadar membuang waktu dan energi?

Ratapan 3:22–23 memberi jawaban yang menenangkan hati kita: “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan bukan hanya memberi kita kesempatan baru di awal tahun, tetapi bahkan setiap pagi, setiap pergantian hari, selalu menjadi awal baru yang Tuhan sediakan bagi kita untuk memperbarui komitmen. Jika Tuhan memberi kita anugerah baru setiap hari, maka kita pun dapat menata ulang komitmen yang sempat gagal pada tahun atau masa-masa yang lalu.

Kuat tidaknya komitmen kita tidak ditentukan oleh seberapa sering atau jarangnya kita jatuh, melainkan oleh berapa kali kita bangkit dari keterpurukan dan kembali setia kepada Pribadi yang kepada-Nya kita mengikat janji. Banyak orang menganggap komitmen hanya berbicara tentang keberhasilan menjaga dan memenuhi janji, padahal sejatinya komitmen lebih dekat dengan ketekunan. Tidak ada komitmen tanpa pengulangan; umpan balik dan evaluasi menjadi faktor penting yang tidak boleh dikesampingkan. Wajar apabila komitmen diwarnai kegagalan-kegagalan kecil yang terjadi tanpa unsur kesengajaan. Justru hal itu menjadi pembelajaran penting agar kita menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang. Tidak ada komitmen yang berjalan mulus tanpa kelelahan, bahkan keputusasaan, namun semuanya harus diteruskan dengan kekuatan yang diperbarui oleh kuasa Roh Kudus.

Awal tahun adalah momen yang tepat untuk meninjau kembali, komitmen mana yang tidak perlu dipertahankan atau “dipaksakan” karena tekanan sosial? Komitmen mana yang masih penting dan sesuai panggilan Tuhan? Komitmen apa yang Tuhan ingin kita hidupkan kembali? Tuhan tidak meminta kita membuat banyak janji; Ia hanya meminta kita setia pada apa yang Ia percayakan. Sedikit, tetapi dilakukan dengan konsisten, jauh lebih berharga daripada banyak, tetapi hanya bertahan beberapa saat.

Jika tahun lalu kita dibayangi kegagalan, jangan lantas menyerah. Kegagalan tidak mendefinisikan identitas kita; kegagalan hanya mengingatkan bahwa kita tidak mampu berjalan sendiri, karena itu kita harus terus bersandar pada Tuhan. Tahun ini, marilah melangkah dengan komitmen yang realistis, bertahap, tetapi penuh dedikasi. Mintalah Tuhan memberi kekuatan untuk menjalani dengan setia apa yang telah Ia percayakan kepada kita.

Sebagai penutup, mari kita merenungkan beberapa hal berikut. Yang pertama, komitmen apa yang perlu saya hidupkan kembali pada tahun ini? Kedua, langkah kecil apa yang dapat saya lakukan hari ini untuk memulainya? Ketiga, bagian mana yang harus saya serahkan lagi kepada Tuhan, bukan memaksakan kemampuan sendiri?

Melalui renungan singkat ini, kiranya kita semakin menyadari bahwa resolusi atau pembaruan komitmen yang sejati bukan sekadar tekad manusia, melainkan respons setia terhadap kasih karunia Tuhan yang selalu baru setiap pagi. Karena itu, pada tahun yang baru ini kita dapat melangkah kembali dengan hati yang diperbarui dan pengharapan yang teguh.