Skip to content

Realitas Kekekalan

 

Sejatinya, tujuan utama dari pelayanan adalah membawa semua orang percaya masuk ke dalam kehidupan yang akan datang. Oleh sebab itu, kesadaran kita akan hal ini harus kuat dan kokoh.  Kesadaran akan realitas kekekalan yang berada di luar dunia ini sangat jarang disampaikan, meskipun banyak orang tahu tentang surga dan neraka. Namun mereka gagal menghayati realitas kekekalan ini karena suara dunia lebih nyaring, lebih dominan, dan lebih memengaruhi pikiran manusia.  Itulah sebabnya, sangat jarang orang yang benar-benar menghayati kekekalan secara mendalam dan konsisten. Bahkan ironisnya, hanya sedikit gereja—atau hampir tidak ada—yang benar-benar menekankan realitas kekekalan ini. 

Akibatnya, semua terlihat seolah-olah aman-aman saja, seakan semuanya akan baik-baik saja. Kita pun jadi terfokus pada aktivitas teknis, fasilitas, dan prasarana. Memang hal-hal duniawi tersebut perlu dikelola dengan baik, namun jangan sampai itu menjadi pusat perhatian utama.  Banyak orang Kristen telah dirusak oleh dunia, dan di balik semua pengaruh dunia itu ada kuasa kegelapan yang sangat aktif bekerja. Maka, kita harus bertanya kepada diri sendiri: kita ingin menjadi Kristen yang seperti apa?  Bagaimana potret atau model orang Kristen yang benar dan diperkenan masuk surga? Itulah pertanyaan yang seharusnya kita gumuli. Maka dari itu, kita harus terus bergerak, berubah, dan bertransformasi sampai menjadi sosok yang layak masuk Rumah Bapa dan dimuliakan bersama Yesus. 

Dalam Mazmur 23:5a tertulis, “Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku.” Ini berarti kita pasti memiliki lawan, dan lawan kita adalah kuasa kegelapan.  Orang Kristen sejati pasti akan mengalami pergumulan, terutama melawan kedagingan. Di sinilah musuh memiliki “pangkalan” atau foothold. Sejak kecil, Iblis telah menanamkan benih-benih kejahatan—kebencian, dendam, ketidakjujuran, perzinahan, pemberontakan terhadap orang tua, pengkhianatan, dan lainnya.  Benih itu kemudian diperkuat oleh tontonan, pergaulan, media sosial yang buruk—semuanya membentuk sistem berpikir duniawi dalam diri seseorang.

Roma 12:2 berkata, “Berubahlah oleh pembaharuan budimu.” Oleh karena itu, gereja harus menemukan potret manusia yang benar—khususnya para pelayan—untuk membimbing jemaat mencapai model tersebut. Ini adalah sesuatu yang mutlak dan tidak dapat dikurangi.

Kata “hidangan” dalam Mazmur 23:5 menunjuk pada firman Tuhan. Hanya firman yang dapat membuat kita mampu melawan Iblis. Setan sangat berusaha mencegah kita menjadi pangeran Kerajaan Surga.  Maka, setiap hari kita harus menjaga diri. Bahkan satu kata pun tidak boleh kita ucapkan jika itu tidak berkenan di hadapan Tuhan. Kita harus menyediakan waktu khusus untuk berdoa, supaya penghayatan terhadap kekekalan dapat tumbuh.  Di situlah Tuhan akan mengajarkan potret yang seharusnya kita capai. Api dari penghayatan itu akan membakar semangat kita: “Saya harus menjadi sempurna!” Fokus kita adalah Langit Baru dan Bumi Baru.  Kita memang belum sempurna, tetapi kita harus terus berjuang menuju kesempurnaan. Jangan terikat oleh dunia. 

Roma 8:17, “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.”

Kita adalah ahli waris—pangeran-pangeran Kerajaan Bapa. Maka kita harus mencari dan menemukan seperti apa profil seorang pangeran Kerajaan Surga itu.  Setan itu sangat cerdik, melebihi kecerdikan kita. Tanpa Tuhan, kita pasti kalah. Setan bisa menyamar sebagai malaikat terang. Ia dapat memalsukan segalanya—malaikat, pendeta, bahkan aktivis.  Setan terus memantau kelemahan kita. Maka kita harus diam di kaki Tuhan, bertemu Tuhan, dan menerima impartasi dari-Nya.  Anak-anak kita harus melihat potret hidup kita sebagai orang tua. Jemaat harus melihat potret hidup para hamba Tuhan yang layak diteladani.  Warisan kita seharusnya adalah potret Tuhan—dan itulah warisan abadi. Maka, jadilah potret Tuhan bagi anak-anak dan sesama kita.