Harus diakui, menjelaskan sesuatu yang disebut realitas itu sulit. Sebab, ketika berbicara mengenai realitas, fokus orang biasanya tertuju pada apa yang sedang berlangsung, apa yang menjadi tren, apa yang dipandang memiliki nilai bagi dirinya, yang menurutnya membahagiakan, dan bisa membawa prestis. Realitas yang seperti ini yang diburu oleh banyak orang. Padahal, kita melihat bahwa realitas manusia itu selalu berubah sebab manusia itu dinamis, bahkan sangat dinamis. Seperti LGBT yang kita pahami sebagai suatu yang amoral, namun sekarang sudah mewabah seperti penyakit dan sudah dapat diterima dengan damai.
Pemahaman manusia tentang realitas sering kali membuatnya menutup mata terhadap hal-hal yang dianggap bukan bagian dari realitas. Hal-hal yang dianggap bukan realitas sering kali dianggap tidak nyata—bukan sesuatu yang bisa diraba disentuh—dan bukan sesuatu yang bisa memberi nilai diri. Bukan sesuatu yang bisa membawa kebahagiaan sesuai dengan kebahagiaan yang dirasa, dialami oleh orang lain. Biasanya, orang yang terjebak dalam realitas hidup tidak akan memahami hal-hal yang tidak kelihatan, atau hal-hal yang tidak logis atau tidak masuk akal. Padahal justru itu juga realita. Mereka tidak memikirkan bahwa manusia itu sebenarnya bukan makhluk yang hanya terbelenggu oleh nilai-nilai yang sedang berlangsung.
Namun, mata kita harus terbuka terhadap realitas, terutama saat menghadapi situasi sulit, seperti ketika didiagnosis menderita penyakit berat stadium akhir. Itu adalah realitas juga, dan jangan dianggap sepele. Tetapi banyak orang sulit diajak bicara begitu, apalagi kalau sedang dalam keadaan senang. Maka kita harus berpikir realistis. Hidup adalah hidup, hidup ini bukan mimpi, supaya kita sungguh-sungguh berjaga-jaga di dalam melewati kehidupan ini. Segala sesuatu ada masanya untuk apa pun di bawah langit ini.
Dan sejujurnya, mereka yang banyak mengalami kesulitan hidup lebih mudah diajak berpikir mengenai realitas hidup ketimbang mereka yang sudah terbiasa hidup dalam kenyamanan. Sebab mereka hanya melihat bagian yang menyenangkan, sehingga dia seperti sedang bermimpi. Namun ketika dia menikah dan pasangannya berkhianat, di situlah baru dia menemukan realitas. Di saat itulah dia baru mulai berpikir. Tapi kita tidak usah menunggu mengalami hal demikian, apalagi gerbang kematian, untuk dapat melihat realitas hidup. Untuk itu, gereja dan hamba Tuhan harus berbicara tegas dan jelas mengenai apa hidup itu, sehingga kalau kita mengerti bagaimana kita mengisi hidup, maka walaupun dalam keadaan sakit parah, kecelakaan, jatuh miskin, itu akan diubah Tuhan menjadi sarana kita menjadi dewasa dan sempurna, dan menemukan tujuan hidup yang sejati.
Jadi, jangan merasa miskin kalau kita lahir dari keluarga miskin. Kemiskinan itu bukan karena kita tidak punya uang. Sebab nilai hidup kita tidak terletak pada jumlah kekayaan yang kita miliki, atau keadaan hidup yang sangat mengecewakan. Sekalipun kita dalam keadaan keluarga yang tidak baik di mata manusia, jangan kita merasa sebagai orang yang tidak bernilai atau sampai merasa sebagai orang yang terbuang atau tersisih. Sebab nilai diri kita bukan pada keluarga kita. Nilai diri kita terletak pada diri kita sendiri. Sebaliknya, meskipun kita bahagia, tetapi jikalau kita punya jiwa yang rapuh, kita tergolong miskin. Maka, realitas hidup harus dilihat dengan kacamata yang benar.
Lulus dari sekolah terbaik dengan gelar kesarjanaan tertinggi tidak menjamin orang sukses. Realitas itu bisa beda. Kenapa? Karena di atas realitas hidup ini ada Tuhan yang hidup. Maka kita harus mengenal realitas Tuhan sebagai pusat realitas kita. Jadi kalau ada orang sekarang ini sombong, karena dia sehat, ganteng, dia kaya juga tapi dia tidak menerima Tuhan sebagai realitas hidup di atas segalanya, itu hanya soal waktu sebelum semua menjadi nyata.. Sebab kalau sudah sampai ujung kehidupan, dia tidak dapat mengandalkan siapapun dan apa pun lagi kecuali Tuhan. Iblis membuat manusia rusak karena hal itu.