Dalam Lukas 19:42 dikatakan, “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu!” Namun mereka tidak tahu apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Hal itu tersembunyi dari mata mereka, karena mereka memiliki keinginan sendiri — dan mereka memaksakan keinginan tersebut: kemerdekaan politik, ekonomi, sosial, dan hal-hal lain yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Padahal, Tuhan Yesus menawarkan kemerdekaan lain, yang lebih tinggi, lebih sesuai dengan kebutuhan terdalam manusia. Inilah kemerdekaan sejati yang sesungguhnya perlu untuk damai sejahtera mereka.
Apakah orang-orang Yahudi salah menyambut Yesus sebagai Raja? Tidak. Yang keliru adalah mereka menyambut Raja versi mereka sendiri. Mereka menciptakan figur “Tuhan” sesuai kehendak sendiri. Inilah kesalahan besar.
Ini menjadi pelajaran yang mahal. Orang bisa saja memuji Tuhan dengan seruan seperti, “Hosana! Hosana! Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan! Haleluya! Allah Maha Besar!” — tetapi apakah itu berarti mereka sungguh dekat dengan Tuhan? Firman Tuhan dalam Matius 15:8 berkata, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, tetapi hatinya jauh dari pada-Ku.” Gerakan praise and worship di Indonesia melahirkan banyak lagu baru yang indah, dengan spontanitas luar biasa dan nuansa emosi yang kuat. Banyak orang merasa begitu intim dengan Tuhan saat menyanyi. Tapi apakah itu benar-benar berarti mereka mengenal Tuhan dengan benar?
Orang Yahudi menyambut Yesus dengan penuh sanjungan, tapi konsep mereka salah. Ini mirip dengan banyak orang Kristen masa kini — (tentu tidak semua) — yang menyebut Yesus sebagai Tuhan, tetapi harus dipertanyakan: “Tuhan versi siapa?” Versi manusia atau versi Allah?
Jika kita mengaku Yesus sebagai Juru Selamat, maka kita harus memahami keselamatan versi Tuhan. Keselamatan bukan berarti diselamatkan dari masalah-masalah duniawi, tetapi diselamatkan untuk dipulihkan kembali ke rancangan Allah semula. Itulah makna keselamatan yang sejati. Jangan fokus kepada pemenuhan kebutuhan jasmani, namun bukan berarti lalu kita jadi hidup ceroboh. Memperjuangkan kebutuhan jasmani tidak salah, tetapi bukan dengan cara mistis. Kita harus melakukannya dengan usaha sungguh-sungguh, kerja keras, dan cara berpikir yang logis dan realistis.
Sebagai contoh, negara-negara seperti Jepang dan Cina, yang sering dianggap tidak religius, justru maju karena masyarakatnya pekerja keras dan penuh tanggung jawab. Ini seharusnya menjadi teladan, bukan sesuatu yang diremehkan. Pemenuhan kebutuhan jasmani tidak boleh dicapai dengan cara instan atau irasional. Kita miris melihat banyak orang Kristen yang salah konsep. Mereka menyanyi, “Allah itu baik, sungguh baik,” tetapi pertanyaannya: baik menurut siapa? Menurut manusia, atau menurut Tuhan?
Firman Tuhan itu luar biasa. Injil itu indah. Tapi kalau kita tidak mengeksplornya secara benar, kita tidak akan melihat keindahannya. Penduduk Yerusalem adalah gambaran orang Kristen hari ini yang tampak dari luar seperti umat pilihan, tetapi cara berpikirnya seperti anak-anak dunia yang tidak mengenal Tuhan. Mereka menyangka bahwa damai sejahtera berasal dari kesenangan dunia, dan pikiran mereka pun tertuju kepada perkara-perkara duniawi.
Namun ini tidak berarti kita tidak perlu uang, rumah, mobil, atau fasilitas lainnya. Pertanyaannya adalah: apa motivasi kita memilikinya? Apa tujuan kita memiliki uang? Apakah uang itu menjadi alat atau tujuan? Jangan hanya jadi orang kaya, jadilah orang yang sangat kaya. Jangan hanya jadi orang cerdas, tetapi sangat cerdas. Tuhan memberikan kita potensi besar, dan kita harus mengembangkannya secara sehat dan realistis — bukan mistis.