Dalam sistem keuangan dan ekonomi, terdapat suatu prinsip kaku yang disebut prinsip transaksional. Prinsip ini menggambarkan interaksi jual-beli antara pedagang dan pembeli. Ada rantai pasokan dan permintaan (supply-demand) yang mempertemukan keduanya. Melalui rantai tersebut, terjadi transaksi atau pertukaran antara apa yang dibutuhkan dan apa yang dimiliki. Tanpa kebutuhan dan persediaan, tidak akan ada pergerakan pada roda ekonomi. Sebaliknya, semakin tinggi kebutuhan dan persediaan, semakin cepat pula roda ekonomi berputar. Beginilah cara dunia bekerja pada umumnya. Tidak terbatas pada ranah ekonomi semata, pola serupa kini tampak berekspansi ke tatanan sosial, bahkan keagamaan.
Dalam tatanan sosial, kita menemukan orang-orang yang dicari karena memiliki kekayaan, popularitas, jabatan, atau jejaring yang kuat. Bersekutu atau berteman dengan mereka diyakini dapat membuka peluang baru bagi seseorang, entah peluang itu bersifat ekonomis atau tidak. Terhadap orang-orang yang menguntungkan ini, banyak orang berlomba-lomba memberikan sesuatu untuk membuktikan kesetiaan atau menjalin persahabatan. Hal itu dilakukan dengan harapan bahwa orang-orang berpengaruh tersebut akan memberikan sesuatu yang lebih besar sebagai balasan.
Sebaliknya, ketika seseorang berada pada titik nadir kehidupan, jarang ada yang menghampiri atau memedulikan mereka. Orang-orang di sekitarnya merasa khawatir untuk mendekat karena takut terseret dalam kesulitan atau terbebani. Jangankan memberi sesuatu, bahkan perhatian pun jarang diberikan. Akibatnya, orang-orang yang dianggap tidak lagi “menguntungkan” sering kali dipinggirkan dalam tatanan sosial.
Bagaimana dalam lingkup keagamaan? Ternyata, hal serupa juga berlaku—khususnya dalam kekristenan. Ada sekelompok orang yang mendekati Tuhan karena menyadari manfaat yang dapat diperoleh dari-Nya, terutama ketika hidup menemui jalan buntu. Tuhan diperlakukan layaknya “ban serep” yang dianggap dapat diandalkan saat apa yang dimiliki sudah tidak dapat membantu lagi. Karena itu, mereka berpikir perlu membangun hubungan dengan Tuhan sebelum kesulitan datang. Sayangnya, salah satu cara yang ditempuh untuk “membangun hubungan” tersebut adalah dengan mengucap syukur.
Sebagian orang Kristen mengucap syukur dengan motif tersembunyi agar dianggap “tahu diri” oleh Tuhan. Ucapan syukur dijadikan semacam mantra untuk menodong Tuhan agar menurunkan berkat yang lebih besar. Mereka beranggapan bahwa dengan mengucapkan terima kasih atas berkat-Nya, Allah akan merasa dihargai dan karena itu pasti akan membalas dengan berkat yang lebih besar lagi. Dalam hal ini, Allah diperlakukan sebagaimana mereka memperlakukan orang-orang berpengaruh di dunia—memberi sesuatu demi memperoleh sesuatu.
Ucapan syukur tersebut tidak hanya berupa kata-kata, tetapi juga persembahan yang umumnya berbentuk uang. Dengan memberikan persembahan ke gereja atau kepada pendeta sebagai tanda ucapan syukur, mereka merasa lega dan puas karena berpikir bahwa Allah berkenan atas diri mereka yang “tahu bersyukur dan mengembalikan.” Sebagian lagi berharap Allah akan membalas rasa syukur mereka dengan berkat jasmani yang lebih besar.
Sesungguhnya, ucapan syukur seperti ini tidaklah dewasa. Ucapan syukur yang bersifat transaksional tidak lebih dari usaha untuk menyogok dan mempermalukan Allah. Tidak salah bagi kita mengucap syukur dalam bentuk persembahan kepada gereja, hamba Tuhan, atau orang lain yang Tuhan arahkan. Akan tetapi, hendaknya kita tidak memandangnya sebagai komoditas transaksional. Jika kita mengucap syukur dan memberi persembahan, biarlah itu lahir dari dorongan Roh Kudus dan kepedulian terhadap pekerjaan Tuhan. Ketika melakukannya, kita tidak perlu merasa berjasa—apalagi berpikir bahwa Tuhan berutang sesuatu kepada kita.
Semua yang kita miliki adalah milik-Nya. Jika hari ini kita bersyukur melalui sikap hati, ucapan, atau pemberian, semua itu hendaknya didasari oleh sukacita atas kecukupan dan penyertaan Tuhan. Jangan pernah terbesit dalam hati niat untuk “menyogok” Tuhan demi “membeli” pertolongan atau berkat-Nya. Kita tidak sedang bertransaksi dengan Tuhan.
Hubungan kita dengan Tuhan bersifat relasional. Artinya, bahkan tanpa kebutuhan atau pergumulan yang belum dijawab, kita datang kepada-Nya untuk bersyukur dan merasa puas hanya karena Dia sendiri yang selalu hadir menyertai kita. Tidak ada alasan yang lebih besar untuk bersyukur selain karena diri-Nya yang setia di samping kita. Itu seharusnya sudah cukup bagi kita.