Skip to content

Rasa Syukur Oportunis

 

Bersyukur adalah pelajaran teologi dasar dalam setiap agama. Kita dapat menjumpai berbagaiajaran tentang syukur pada seluruh aliran kepercayaan, bahkan pada aliran yang mendaku tidakmemiliki Allah dalam sistem kepercayaannya. Sebagai orang Kristen, tentu rasa syukur juga merupakan hal yang lazim ditemui dalam setiap ibadah, konseling, maupun interaksi. Bersyukurmenjadi semacam template yang mudah ditemukan dan diucapkan, baik sebagai nasihat kepadaorang lain maupun kepada Tuhan sebagai bentuk ucapan syukur. Namun, tidak semua rasa syukur bersifat dewasa.

Salah satu bentuk ucapan syukur yang belum dewasa ialah ucapan syukur yang oportunis. Oportunis adalah sikap, pemikiran, atau tindakan yang berorientasi pada kepentingan diri sendiriatau kelompoknya. Orang-orang yang oportunis akan melakukan segala sesuatu bagi dan demi kepentingannya. Jika dikaitkan dengan rasa syukur, maka rasa syukur yang oportunis adalahekspresi ucapan syukur yang lahir karena seseorang memperoleh hal yang baik ataumenguntungkan bagi dirinya sendiri. Dengan kata lain, ia bersyukur hanya atas hal-hal yang baik.

Tentu, di satu sisi, harus diakui bahwa hal-hal yang baik lebih mudah membawa kita pada ucapan syukur. Tidak salah bagi seseorang untuk menyampaikan syukur atas sesuatu yang iaperoleh. Bisnis yang berhasil, rumah tangga yang harmonis, usaha yang dipulihkan, keuanganyang menanjak, dan kesehatan yang prima dapat menjadi hal-hal yang kita syukuri. Mensyukurihal-hal tersebut bukan berarti kita menjadi oportunis. Semua hal itu memang merupakanperistiwa dan pengalaman yang menyenangkan, sehingga wajar bila ucapan syukur dinaikkan. Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan mengucap syukur atas hal-hal demikian.

Namun, yang menjadi masalah adalah ketika ucapan syukur hanya dinaikkan atas hal-haltersebut. Ketika rasa syukur mulai sulit terucap saat bisnis tak kunjung membaik, rumah tanggamasih penuh gonjang-ganjing, keuangan naik-turun, dan kesehatan tak menentu, maka ada yang keliru dengan ucapan syukur kita selama ini. Jika pada pengalaman atau peristiwa yang kurangmenyenangkan rasa syukur kita sulit terucap, di situlah kita menyadari bahwa mungkin saja rasa syukur kita selama ini bersifat oportunishanya muncul saat keadaan baik.

Syukurlah, rasa syukur yang oportunis dapat dikenali dan diubah. Melalui pengalaman buruk dan keadaan yang kurang menyenangkan, motivasi kita dimurnikan. Kita semakin mengenal dirisendiri, dan lebih lagi, kita dapat mengenali motif rasa syukur yang kita naikkan kepada Tuhan. Ternyata, mungkin selama ini kita lebih mudah (dan memang sangat mudah) mensyukuri hal-halbaik yang Tuhan berikan, tetapi sulit menemukan berkat Tuhan di tengah kesulitan dan ketidaknyamanan. Padahal, kita sepakat bahwa bukan hanya lewat hal-hal baik Tuhan memberkati kita, melainkan juga melalui hal-hal yang tidak baik. Yang baik membawa sukacita, yang kurang baik memberi pelajaran. Keduanya adalah berkat yang semestinya dapat kitasyukuri dengan tulus.

Kiranya kita dapat meneladani Ayub. Ia tidak hanya mensyukuri berkat yang ia peroleh sebelumjatuh miskin; bahkan dalam kemiskinan dan kejatuhannya, ia tetap berkata bahwa apa yang iaalami adalahsatu paketdengan apa yang baik (Ayb. 2:10). Ia menolak untuk bersyukur atashal-hal baik saja. Baginya, menerima yang baik berarti bersedia pula menerima yang buruk. Meski Ayub tidak sempurna sepanjang kisahnya, ucapannya ini dapat menginspirasi kita agar terhindar dari rasa syukur yang oportunis. Tuhan memang ingin kita mengalami kebaikan-Nya, tetapi jangan samakan kebaikan Tuhan dengan keadaan yang selalu baik. KebaikanTuhan dapat juga muncul dalam wajah yang muram, namun mendatangkan pendewasaan yang luar biasa ketika kita memperoleh pengertian dari setiap cobaan tersebut.