Skip to content

Rasa Syukur Komparatif

 

Bentuk rasa syukur lain yang perlu kita waspadai adalah rasa syukur yang berangkat dari komparasi atau perbandingan antara keadaan hidup kita dan orang lain.

Suatu hari, di tengah geliat menembus kemacetan jalan di Kota Jakarta, saya dan anak perempuan saya melewati sebuah kawasan padat penduduk. Anak saya yang baru berusia empat tahun dengan polos memandangi jendela mobil dan melihat ke sekitar. Ketika melalui suatu tempat, ia berkata kepada papanya, “Papa, lihat, rumah orang itu kecil. Kita bersyukur ya, rumah kita besar.”

Memang, rumah itu sangat kecil. Rumah tersebut digunakan oleh seorang penjahit untuk menjahit banyak baju sekaligus menjadi tempat beristirahat. Kamar mandinya hanya dua sampai tiga langkah dari mesin jahitnya. Tidak ada televisi maupun ruang kosong—hanya satu ruangan sempit yang penuh sesak dengan kain dan potongan model pakaian. Ucapan anak itu tidak sepenuhnya salah; ia baru belajar tentang bersyukur di sekolahnya.

Dalam masyarakat kita, sering kali rasa syukur diajarkan melalui perbandingan. Dengan melihat orang yang memiliki keadaan lebih malang atau tidak seberuntung kita, kita diajari untuk mensyukuri apa yang Tuhan berikan. Paling tidak, kita tidak berada dalam keadaan seperti mereka; kondisi kita dianggap jauh lebih baik dan diberkati oleh Tuhan. Karena itu, kita merasa patut bersyukur dan mengucapkan terima kasih. Hal ini tidak sepenuhnya keliru. Keadaan yang lebih baik dari orang lain bisa saja merupakan hasil dari usaha dan kerja keras yang kita lakukan, dan itu memang patut disyukuri. Namun, jika perbandingan ini menjadi dasar utama bagi kita untuk terus bersyukur, mungkin saja kita tidak sedang benar-benar bersyukur, melainkan sedang mensyukuri kemalangan orang lain.

Ternyata, hal serupa juga dapat kita temukan dalam Alkitab, ketika ada seorang Farisi dan pemungut cukai yang berdoa kepada Allah (Luk. 18:9–14). Orang Farisi itu berkata, “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain: bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah, dan bukan juga seperti pemungut cukai ini. Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” Namun, apa yang Tuhan katakan? “Aku berkata kepadamu: Orang ini (pemungut cukai) pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah, dan orang lain itu (Farisi) tidak.”

Tidak semua ucapan syukur adalah ucapan syukur yang dewasa dan berkenan kepada Allah. Ucapan syukur yang berangkat dari kemegahan diri dan ketidakpekaan terhadap penderitaan sesama adalah penistaan terhadap Allah. Orang Farisi bersyukur atas keadaannya yang lebih baik, tetapi ia lupa bahwa keberadaan pemungut cukai di sampingnya adalah kesempatan baginya untuk menemukan kehendak Allah dengan merangkul mereka. Sebaliknya, ia justru menjadikan pemungut cukai itu dasar perbandingan untuk memegahkan diri di hadapan Allah dalam ucapannya yang disebut sebagai syukur. Allah tidak digirangkan oleh ucapan syukur yang lahir dari perbandingan diri, terlebih terhadap mereka yang lemah dan tertindas.

Rasa syukur yang dewasa lahir dari kesadaran bahwa keadaan kita hari ini adalah sebagaimana Allah mengizinkannya terjadi. Mungkin tidak sebaik yang kita bayangkan, tetapi tidak mungkin tanpa berkat Allah dalam bentuk lain. Jangan bersyukur karena keadaan kita lebih baik dari orang lain. Jangan pernah membandingkan berkat kita dengan berkat orang lain. Bersyukurlah atas apa pun keadaan kita hari ini. Selama masih dapat dikatakan “hari ini,” selalu ada alasan untuk melihat apa yang baik dalam hidup kita.

Ingatlah, kita adalah biji mata Allah. Kita menjadi biji mata-Nya bukan karena kuat, gagah, kaya, atau terkenal, melainkan sesederhana karena kita ada sebagaimana kita ada hari ini. Jika kita adalah biji mata Allah yang berharga, dengan siapakah lagi kita perlu membandingkan diri?