Ketika kekristenan mulai diterima oleh masyarakat Romawi, bahkan oleh kaisar sendiri, terjadi perubahan besar dalam sejarah iman Kristen. Sejak dikeluarkannya Edict of Milan pada tahun 313 M oleh Kaisar Konstantinus, orang-orang Kristen diperbolehkan beribadah tanpa gangguan. Meski di beberapa wilayah mereka masih menghadapi tekanan dari penganut agama kafir, secara umum kekristenan mulai menikmati kedamaian dan penerimaan sosial. Kemudian, pada tahun 380 M, kenyamanan itu mencapai puncaknya ketika kekristenan ditetapkan sebagai agama resmi negara. Para uskup dan pemimpin gereja menjadi terhormat, mereka dapat menjumpai bahkan dijumpai oleh kaisar. Namun, justru di titik inilah kekristenan mulai kehilangan sesuatu yang berharga. Iman yang dahulu penuh api dan pengorbanan mulai berubah menjadi sekadar keberagamaan formal. Semangat rohani yang murni tergantikan oleh kenyamanan institusional. Padahal, gairah kita seharusnya sama seperti gairah Tuhan. Sejak kekristenan menjadi agama negara, banyak orang lebih sibuk dengan statusnya sebagai “orang Kristen” daripada hidup sebagai “pengikut Kristus.”
Kini, di abad ke-21, kita dipanggil untuk menyalakan kembali semangat itu—roh pengikutan kepada Kristus seperti pada abad mula-mula. Mekanisme dan kondisi zaman memang berubah, tetapi semangat dan jiwa pengikutan sejati harus tetap sama. Bayangkan keberanian orang-orang Kristen mula-mula yang menghadapi penganiayaan berat. Mereka tidak takut pada ancaman, bahkan rela mati demi Kristus. Sementara kita hidup di dunia yang penuh ketidakpastian—dunia yang tidak menjanjikan keamanan sejati. Banyak orang jahat, banyak yang menciptakan ketidakstabilan, bahkan dengan cara yang tidak tampak seperti teror fisik, tetapi menekan secara batin. Dunia ini mengancam dari berbagai arah: kekuasaan uang, kepentingan politik, dan moralitas yang membusuk. Namun, bila dibandingkan dengan penderitaan orang Kristen pada abad mula-mula, persoalan kita hari ini tidak ada apa-apanya. Kekejaman kekaisaran Romawi, kebengisan para penganut agama kafir yang berusaha melumatkan iman Kristen—semuanya jauh lebih berat. Tetapi mereka tidak takut. Mereka tetap kokoh karena memiliki penyerahan diri yang benar. Mereka memilih Kerajaan Surga, bukan dunia. Mereka tidak peduli apa yang akan terjadi pada hidup mereka di bumi. Inilah yang membuat mereka teguh.
Sebagai manusia, wajar bila kita masih bisa merasa takut atau cemas. Namun kita tidak boleh tenggelam dalam kegelisahan. Penyerahan yang benar bukan sekadar menyerahkan persoalan hidup kepada Tuhan untuk mendapat pertolongan dan perlindungan-Nya, melainkan menyerahkan seluruh fokus hidup kepada Kerajaan-Nya. Abraham menjadi contoh yang sempurna. Ia meninggalkan segala sesuatu demi menaati Allah. Keyakinannya begitu kokoh hingga ketika Allah, Elohim Yahweh, memerintahkannya mempersembahkan Ishak, ia taat tanpa ragu. Itulah puncak penyerahan yang sejati—ketika seseorang memilih Tuhan sepenuhnya tanpa kompromi dengan dunia.
Memindahkan fokus hidup dari dunia ke Kerajaan Surga bukanlah hal mudah. Bahkan, belum banyak orang yang benar-benar menyeberangkan hatinya. Selama ini, banyak orang Kristen memahami penyerahan sebagai kesediaan menyerahkan masalah hidup kepada Tuhan, padahal fokusnya masih duniawi. Penyerahan sejati adalah menyeberangkan seluruh minat, harapan, dan tujuan hidup kepada Kerajaan Surga. Inilah bentuk hidup yang berorientasi kekal. Namun, untuk sampai ke sana, diperlukan latihan rohani yang panjang dan konsisten. Seperti seorang pelukis yang tak bisa langsung menghasilkan karya agung dalam sehari, demikian pula hati kita memerlukan waktu, proses, dan disiplin untuk benar-benar berpaling kepada Allah.
Karena itu, mari kita belajar memindahkan hati kita dari dunia kepada Tuhan. Ketika hati sudah berpaling sepenuhnya, getar suara kita dalam doa dan penyembahan akan berbeda. Ada ketenangan, keberanian, dan keyakinan yang lahir dari penyerahan yang benar. Semua orang yang sungguh mengikut Yesus harus siap meninggalkan dunia ini—bukan dengan membenci kehidupan, tetapi dengan menolak menjadikan dunia sebagai pusat hidupnya. Tuhan akan mendidik dan melatih kita sampai memiliki karakter seperti Kristus. Setelah itu, barulah kita siap menderita bersama Dia, memikul salib, dan mempersembahkan seluruh hidup kita untuk kepentingan Kerajaan Surga. Dan ketika penyerahan itu menjadi nyata, kita tidak perlu menguat-nguatkan diri lagi. Keberanian itu akan hadir dengan sendirinya, sebab kita tahu bahwa hidup kita sepenuhnya ada di tangan Tuhan.