Skip to content

Ragi Legalisme (1)

 

Kita tentu sangat akrab dengan kerahasiaan ibadah di hadapan Allah. Pada umumnya, seluruh agama setuju bahwa ibadah atau pengabdian kepada Allah ditunjukkan melalui cara yang tersembunyi. Ibadah atau pengabdian seseorang di hadapan Allah tidak untuk dipamerkan atau bahkan disombongkan. Ibadah yang diumbar di depan publik adalah kemunafikan, dan hal demikian tidak berkenan di hadapan Allah. Misalnya, ketika seseorang hendak membantu orang lain, ia harus sebisa mungkin menyembunyikannya. Namun, bagaimana jika suatu kegiatan ibadah memang sudah menjadi suatu rutinitas publik sehingga mereka yang tidak melakukannya dianggap bersalah?

Dalam Matius 9:14–17 terdapat suatu kisah tentang murid-murid Yohanes yang bertanya kepada Yesus mengenai murid-murid-Nya yang tidak berpuasa. Pada ayat ke-14 lahir suatu pertanyaan dari murid-murid Yohanes Pembaptis kepada Yesus: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Pertanyaan ini dapat ditafsirkan dalam dua cara. Pertama, mungkin saja murid-murid Yohanes tersebut memang hanya ingin tahu tanpa ada tendensi tertentu. Kedua, mereka memang dengan sengaja ingin mengonfrontasi Yesus dan murid-murid-Nya karena tidak melakukan apa yang telah menjadi konsensus umum. Yang pertama sifatnya netral, sedangkan yang kedua mengandung maksud untuk mengkritik Yesus. Dilihat dari konteks dekatnya pada ayat sebelumnya, sangat besar kemungkinan pertanyaan tersebut merupakan kritik kepada Yesus dan murid-murid-Nya. Pada ayat sebelumnya, orang-orang Farisi mengkritik Yesus yang makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa. Ayat ke-14 ini hadir sebagai sambungan dari peristiwa tersebut. Jadi, besar kemungkinan bahwa Rasul Matius memang menempatkan kisah ini sebagai satu rangkaian kritik terhadap Yesus.

Terhadap kritik tersebut, Tuhan Yesus menjawab, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” Di sinilah Tuhan Yesus menjawab kritik tersebut dengan sebuah pertanyaan yang tepat menghujam legalisme murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi pada hari itu. Legalisme adalah paham yang menekankan kepatuhan yang kaku, literal, atau berlebihan terhadap hukum, aturan, atau kode moral maupun agama. Alih-alih merasa bersalah dan segera menetapkan jadwal berpuasa, Yesus memberikan jawaban yang menekankan otentisitas ibadah.

Tuhan Yesus mengibaratkan murid-murid-Nya sebagai sahabat mempelai pria. Dalam tradisi Israel, selama masa menyambut pernikahan, para sahabat mempelai pria akan bersukacita bersama sang mempelai. Tidak lazim bagi orang Israel untuk melakukan hal yang sebaliknya. Berdukacita melalui ratap tangis dilakukan pada saat-saat tertentu, seperti kematian anggota keluarga ataupun saat berpuasa. Dalam Alkitab, kita menemukan kebiasaan serupa ketika orang yang berpuasa digambarkan berada dalam suasana dukacita (2 Samuel 1:12; 12:22; Nehemia 9:1; Daniel 9:3). Di sini terdapat semacam kesepahaman bahwa berpuasa sejajar dengan berada dalam perasaan dukacita. Oleh karena itu, tidak heran apabila Tuhan Yesus berkata bahwa jika mempelai pria (menunjuk kepada Yesus sendiri) masih bersama para sahabat-Nya, maka mereka belum berpuasa. Namun, ketika nanti mempelai itu diambil dari mereka, yang menunjuk pada masa setelah kematian Yesus, barulah mereka akan berpuasa.

Melalui perumpamaan tersebut, Yesus hendak menekankan bahwa ibadah bukan dilakukan karena semua orang sedang melakukan hal yang sama, melainkan harus timbul dari hati yang tulus dan merindu untuk melakukan ibadah itu sendiri. Berpuasa ketika Yesus masih bersama para murid pada akhirnya hanya bertujuan untuk menyenangkan massa. Bukan berarti bahwa beribadah dalam kebiasaan adalah suatu hal yang keliru. Namun, beribadah hanya karena suatu kebiasaan yang kering dari kerinduan, itulah yang ditentang oleh Yesus.

Kita harus sungguh mewaspadai seluruh motivasi kita dalam melakukan sesuatu yang dilabeli “rohani.” Kita perlu dengan sungguh-sungguh memperkarakan apakah yang kita lakukan tersebut dilandasi oleh kerinduan dan cinta kita kepada Tuhan. Tanpa kerinduan dan cinta, segala aktivitas rohani yang kita lakukan di hadapan Tuhan minim makna. Ibadah dan segala kegiatan rohani hanya menjadi tindakan membeo dalam kurungan legalisme. Tekanannya pada “aku harus,” bukan “aku haus.”