Satu hal yang harus kita sadari dan kita akui ialah bahwa kita adalah orang-orang yang sudah keracunan. Jika tubuh kita telah mengonsumsi banyak makanan yang tidak sehat, menghirup udara kotor, serta meminum minuman yang tidak sehat, maka tubuh kita akan teracuni oleh banyak zat beracun yang masuk ke dalamnya. Demikian juga dengan jiwa kita. Apa yang masuk dan mengisi jiwa kita menentukan kualitas jiwa itu sendiri. Jiwa yang tidak sehat pasti menghasilkan karakter yang buruk; tidak mungkin memiliki karakter seperti yang Tuhan kehendaki. Pikiran dan perasaan manusia yang telah banyak diracuni oleh dunia akan membuat karakter seseorang menjadi rusak atau berkualitas rendah.
Di dalam Filipi 2:5–8, firman Tuhan mengatakan agar kita memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Artinya, kita melakukan kehendak Bapa. Untuk dapat melakukan kehendak Bapa, dibutuhkan pikiran yang bersih, perasaan yang bersih, dan jiwa yang sehat. Namun, apabila jiwa seseorang penuh dengan racun—yang di dalamnya terdapat pikiran dan perasaan—maka tidak mungkin ia memiliki kemampuan untuk bertindak dan berperilaku serupa dengan Yesus. Sejak kecil, sejak masa kanak-kanak, jiwa kita telah menyerap dan mengonsumsi makanan jiwa yang tidak sehat, atau bahkan lebih banyak yang tidak sehat.
Memang ada orang-orang yang sejak kecil sudah diajar mengenal Tuhan, dibawa ke Sekolah Minggu, diajar berdoa sebelum tidur, serta mendengar cerita-cerita dari Alkitab. Namun, ketika dalam proses pertumbuhan mereka memasuki berbagai pengalaman hidup, mendengar, melihat, dan mengalami banyak hal yang membuat jiwanya teracuni, akhirnya mereka pun menjadi rusak. Sejak kanak-kanak, kita telah menyerap cara hidup yang kita warisi dari nenek moyang, juga dari lingkungan sekitar.
Keselamatan dalam Yesus Kristus dimaksudkan agar jiwa kita menjadi sehat, tanpa racun-racun yang memengaruhi kesehatannya. Tujuannya ialah supaya kita memiliki karakter seperti Bapa, yaitu sempurna seperti Bapa. Dengan kata lain, memiliki kesucian dan kemampuan untuk sepikiran serta seperasaan dengan Allah. Namun, banyak orang tidak menyadari keadaan dirinya yang telah diracuni oleh dunia, sehingga mereka tidak melakukan usaha untuk membersihkan racun-racun yang ada di dalam diri mereka.
Di dalam 1 Petrus 1:16, firman Tuhan mengatakan, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Kekudusan bukan sekadar keadaan tidak berbuat salah, melainkan kemampuan untuk mengerti kehendak Allah dalam segala hal dan melakukannya sesuai dengan apa yang Allah kehendaki. Jika seseorang masih menyimpan banyak racun di dalam dirinya, ia tidak akan memiliki kepekaan untuk mengerti kehendak Allah; ia menjadi bodoh dan tidak sensitif.
Namun, pada ayat 18 tertulis, “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia, yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu, bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus sebagai Anak Domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” Banyak orang merasa bahwa karena dirinya sudah ditebus oleh darah Yesus, maka semuanya sudah selesai; ia merasa sudah menjadi anak tebusan. Perhatikan kalimat ini: “ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia.” Masalahnya ialah banyak orang tidak menyadari bahwa ia harus berusaha meninggalkan cara hidup yang diwarisi dari nenek moyang.
Ayat 17 mengatakan, “Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.” Artinya, Allah akan menghakimi dan menilai perbuatan kita. Tentu, jika seseorang masih menyimpan banyak racun akibat mewarisi cara hidup yang sia-sia dari orang tua, maka perbuatannya tidak mungkin sesuai dengan apa yang Allah kehendaki.
Dalam 1 Petrus 1:13 tertulis, “Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya pada kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.” Akal budi menunjuk pada pikiran. Ketika kita masih mengharapkan kebahagiaan dari sumber lain selain perjumpaan dengan Tuhan, itu adalah racun. Berarti kita masih keracunan. Orang yang tidak merindukan Tuhan sesungguhnya adalah orang yang berkhianat. Namun, dalam kesabaran-Nya, Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita untuk berubah. Jika seseorang tidak merindukan perjumpaan dengan Tuhan, dapat dipastikan bahwa ia tidak memiliki kesetiaan.