Kita dihadapkan pada sebuah realitas teologis yang sangat penting dalam Yohanes 1:12. Ayat ini sering kali dibaca dengan tergesa-gesa, seolah-olah status sebagai anak Allah terjadi begitu saja tanpa dinamika. Namun, jika kita memperhatikan kata “supaya”, kita akan menemukan sebuah rahasia besar: menjadi anak-anak Allah bukanlah sebuah kejadian otomatis yang selesai saat kita mengangkat tangan atau mengucapkan doa pengakuan percaya. Kata “supaya” mengisyaratkan adanya sebuah tujuan, sebuah potensi, dan sebuah proses yang harus dijalani. Percaya kepada nama-Nya adalah pintu gerbang, tetapi melangkah di dalam “kuasa” yang diberikan-Nya untuk menjadi anak-anak Allah adalah perjalanan seumur hidup.
Tuhan Yesus menyelamatkan kita bukan sekadar untuk membebaskan kita dari hukuman neraka secara legalistik, melainkan untuk menebus kita agar kita dimiliki-Nya kembali secara utuh. Kita telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar, tetapi penebusan itu memiliki tujuan fungsional: Tuhan ingin “menggarap” kita. Istilah “menggarap” ini sangat kuat karena menyiratkan bahwa ada bagian-bagian dari hidup kita yang masih liar, duniawi, dan belum selaras dengan kehendak-Nya. Tuhan menggarap kita supaya kita hidup menurut pimpinan-Nya, sehingga kualitas sebagai “anak Allah” benar-benar nyata dalam karakter kita, bukan sekadar label agama.
Di sinilah peran justificatio atau pembenaran menjadi sangat krusial. Pembenaran berarti seseorang yang berdosa “dianggap benar” oleh Allah. Namun, status ini bukanlah tujuan akhir. Status dianggap benar tersebut adalah pemberian akses atau izin supaya kita dapat memasuki proses penggarapan itu untuk menjadi “sungguh-sungguh benar” dalam tindakan. Pembenaran inilah yang mengizinkan kita, yang tadinya terasing karena dosa, untuk kembali memanggil Allah sebagai Bapa dengan kepala tegak. Namun, setelah pintu akses itu terbuka melalui pengorbanan Kristus, Tuhan memberikan Penolong yang luar biasa, yaitu Roh Kudus. Peran Roh Kudus bukan sekadar memberikan perasaan nyaman atau karunia-karunia supranatural, melainkan membawa kita kepada seluruh kebenaran Injil yang kita dengar. Tujuannya sangat spesifik: agar kita mengalami pembaruan pikiran.
Masalah utama manusia sering kali terletak pada “warna” jiwanya yang telah tercemar oleh pola pikir duniawi. Melalui tuntunan Roh Kudus, pikiran kita diwarnai oleh Injil sehingga terjadi sinkronisasi antara jiwa dan Roh Kudus. Ketika jiwa kita diperbarui, warna jiwa kita pun menjadi sama dengan warna-Nya. Kondisi inilah yang memungkinkan roh kembali memegang kendali atas jiwa, dan jiwa kemudian mengendalikan seluruh hidup manusia secara fisik. Inilah gambaran manusia yang hidup menurut roh, bukan lagi menurut daging. Ketika hal ini terjadi, terjadilah apa yang disebut sebagai “kelahiran baru” yang sesungguhnya. Kelahiran baru bukan sekadar perubahan identitas agamawi, melainkan sebuah refleksi dari penciptaan awal yang telah rusak dan kini dipulihkan.
Alkitab menggunakan istilah yang sangat kaya dalam bahasa aslinya untuk menjelaskan hal ini. Dalam 1 Petrus 1:23, digunakan kata anagennao yang berarti “dilahirkan kembali” atau “dilahirkan dari atas”. Ini bukan kelahiran dari darah atau keinginan daging, melainkan kelahiran secara spiritual dari Allah sendiri. Lebih jauh lagi, dalam Matius 19:28, digunakan istilah palingenesia yang berarti “diciptakan ulang” atau regenerasi total. Inilah puncaknya: ketika manusia tidak hanya sekadar diperbaiki sedikit demi sedikit, melainkan mengalami sebuah penciptaan ulang di dalam batinnya. Dengan kekuatan dari atas ini, kita dimungkinkan untuk kembali pada rancangan semula Allah, yaitu menjadi makhluk yang memancarkan kemuliaan-Nya.
Menjadi anak Allah berarti kita sedang dalam perjalanan untuk menyamai “warna” Kristus dalam segala hal. Maka, marilah kita tidak berhenti pada status “percaya” saja, melainkan menyerahkan diri sepenuhnya untuk digarap oleh Tuhan. Biarlah Roh Kudus terus memperbarui pikiran kita hari demi hari, sehingga setiap keputusan, perasaan, dan kehendak kita tidak lagi digerakkan oleh dunia, melainkan oleh hidup yang telah dihidupkan kembali oleh Kristus. Dengan demikian, status kita sebagai anak-anak Allah bukan lagi sekadar harapan “supaya”, melainkan sebuah kenyataan hidup yang berbuah bagi kemuliaan Bapa di surga.