Jangan mengecilkan Tuhan. Dan bagi siapa pun di antara kita yang sekarang sedang mendengar Tuhan Yesus bicara, “marilah kita bertolak ke seberang,” percayalah bahwa perahu hidup kita tidak akan tenggelam. Mengapa? Sebab, Yesus ada di dalam perahu itu. Namun masalahnya adalah kalau kita tidak mau ikut bertolak ke seberang, lalu kita tetap mau mendapat jaminan perlindungan. Hal ini tidaklah bisa. Sebab jikalau demikian, berarti kita merendahkan Tuhan dan memperlakukanNya seperti budak. Kita mempunyai tujuan hidup sendiri, memiliki keinginan dan arah sendiri, tetapi minta perlindungan Tuhan. Tidak bisa sebab hal itu tidak layak. Jadi kalau Tuhan berkata, “marilah kita bertolak ke seberang,” maksudnya Tuhan ingin ke arah itu kita pergi, dan Tuhan pasti ada di situ. Mari, sejak hari ini kita benar-benar mengarahkan diri kepada tujuan di mana Tuhan menghendaki kita mengarahkan diri.
Dan tujuan kita, tak lain dan tak bukan, Langit Baru Bumi Baru. Seharusnya, hidup kita hanya disita oleh proses perjalanan ini. Bagaimana kita membangun hidup yang berkualitas, bukan nanti setelah mati, melainkan sejak hidup di bumi kita sudah memiliki hidup yang berkualitas agar kita layak masuk Rumah Bapa. Kalau orang hidupnya tidak berkualitas, tidak bisa masuk Rumah Bapa. Jadi tidak dadakan untuk bisa masuk surga. Kepastian masuk surga dibangun mulai sekarang. Tidak ada kata “mudah-mudahan,” tapi harus suatu kepastian. Karena kalau untuk hal yang lain kita bisa gambling, tapi untuk kehidupan kekal, tidak boleh gambling. Ini prinsip yang harus kita bangun mulai sejak kita hidup, yaitu memiliki hidup yang berkualitas.
Jadi kalau Tuhan Yesus berkata, “Mari bertolak ke seberang,” kita harus benar-benar menujukan tujuan hidup kita pada arah yang benar. Di mana kita harus memberi hidup kita disita untuk proses perjalanan ini sehingga hidup kita makin berkualitas. Ini paralel atau simetris dengan perjalanan bangsa Israel menuju Kanaan. Mereka tidak menuju tempat lain. Tuhan mempersiapkan mereka menjadi bangsa yang besar. Sebab dari bangsa budak selama 430 tahun di Mesir—di mana mereka terbiasa dengan mental budak yang primitif—Tuhan memberikan Taurat-Nya, dan Taurat itu mencerdaskan. Jadi tidak mungkin tidak ada campur tangan Tuhan di sini. Pada masa itu, tidak ada yang bisa melepaskan bangsa Israel dari cengkaman Mesir, karena Mesir sangat kuat dan berjaya. Tetapi tangan Allah yang lebih kuat, mengangkat mereka, membawa mereka ke Kanaan.
Arah mereka jelas, Kanaan. Ada tiang awan dan tiang api yang menuntun mereka. Namun bukan berarti lalu tidak ada masalah. Sekalipun mereka menujukan tujuan ke arah yang benar, tapi bukan berarti tidak ada masalah. Kalau Yesus berkata, “marilah kita bertolak ke seberang,” itu bukan berarti jalan kita nyaman, rata atau tidak ada gangguan. Pada saat itu, Yesus sedang tidur pada sebuah tilam di buritan. Kalau taufan yang dahsyat dan ombak menyembur masuk, maka logikanya, Yesus bangun. Tetapi Yesus tidak bangun, murid-murid-Nya harus membangunkan-Nya. Masalahnya adalah cara murid-murid-Nya membangunkan Yesus, sebab sikap mereka tidak patut. Mereka semestinya berkata, “Guru, ada badai yang sangat dahsyat, bangun, Guru.” Namun mereka berkata, “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Betapa kurang ajar.
Sejujurnya, bukankah kalimat itu yang tanpa sadar sering kita ucapkan di dalam hati? “Mengapa, Tuhan, Engkau tidak peduli? Mengapa Engkau tidak membela aku? Aku melakukan pekerjaan-Mu, tapi Engkau membiarkan keadaan ini sulit, terseok-seok, dan saya bisa malu, Tuhan.” Kita tidak terus terang maki-maki Tuhan, tapi di hati kita ada kekecewaan terhadap Tuhan dan kurang percaya kepada Dia. Seakan-akan Tuhan membiarkan keadaan yang menyusahkan, menyengsarakan dan bahkan bisa membunuh mereka. Persis seperti orang-orang Israel yang berkata kepada Musa, “Musa, apakah tidak ada kuburan di Mesir?” Maka, arah kita harus jelas dan marilah kita bertolak ke seberang, ke arah yang Tuhan kehendaki walau keadaan tidak selalu baik atau lancar, karena Tuhan mau mendidik kita.