Skip to content

Pribadi Allah

 

Nampaknya, perdebatan mengenai “nama Tuhan” di kalangan kekristenan telah berlangsung sejak lama dan masih terus bergema hingga hari ini. Masing-masing pihak sering kali mengklaim dirinya paling benar, sementara pihak lain dianggap salah. Menurut penulis, sikap seperti ini justru menunjukkan arogansi yang dapat menumpulkan nilai-nilai rohani yang sejati. Tidak jarang perdebatan tersebut melahirkan perselisihan, pertengkaran, bahkan pemisahan di antara anak-anak Allah. Ironisnya, sesuatu yang seharusnya membawa orang semakin dekat kepada Allah justru dapat menjadi sumber perpecahan.

Padahal, ketika Tuhan Yesus mengajarkan doa, “Dikuduskanlah nama-Mu,” fokusnya bukan pada sebutan, gelar, atau pengucapan nama Allah yang mana yang harus digunakan. Pernyataan tersebut menunjuk kepada sesuatu yang jauh lebih mendasar, yaitu pengenalan akan Pribadi Allah itu sendiri. Dalam tradisi Yahudi, nama bukan sekadar label identitas, melainkan representasi dari keseluruhan pribadi seseorang—karakter, reputasi, otoritas, kehendak, dan keberadaannya. Karena itu, ketika Allah menyatakan nama-Nya kepada Musa dalam Keluaran 3:14, “AKU ADALAH AKU,” Allah sedang menyatakan hakikat diri-Nya sebagai Pribadi yang kekal, mandiri, dan tidak bergantung kepada siapa pun.

Dengan demikian, ketika orang percaya menyebut nama Allah, sesungguhnya ia sedang berhadapan dengan Pribadi yang diwakili oleh nama tersebut. Kalimat “Dikuduskanlah nama-Mu” mengandung komitmen untuk mengenal Allah secara pribadi, bukan sekadar mengetahui nama-Nya. Pengenalan itu mencakup pengenalan akan kehendak-Nya, karakter-Nya, dan tujuan-Nya, lalu menyelaraskan hidup dengan pengenalan tersebut.

Inilah yang dialami oleh Rasul Paulus. Dalam Filipi 3:8 ia berkata, “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya.” Pengenalan yang dimaksud Paulus bukan sekadar pengetahuan teologis, melainkan pengalaman pribadi yang mengubah seluruh sistem nilainya. Segala sesuatu yang dahulu dianggap berharga menjadi tidak berarti dibandingkan dengan mengenal Kristus. Pengenalan yang sejati selalu menghasilkan transformasi hidup. Karena itu, seseorang yang hanya mengakui keagungan Allah dengan mulutnya, tetapi tidak mengenal kehendak-Nya dan tidak hidup sesuai dengan firman-Nya, belum sungguh-sungguh menguduskan nama Tuhan. Sebaliknya, orang yang terus bertumbuh dalam pengenalan akan Allah melalui firman, doa, dan perjalanan iman akan semakin dimampukan untuk memuliakan-Nya dalam seluruh aspek kehidupannya.

Perlu dipahami bahwa manusia tidak dapat menambah atau mengurangi kekudusan nama Allah. Dari mulanya nama-Nya kudus, tetap kudus, dan akan selamanya kudus. Yang perlu berubah bukanlah Allah, melainkan manusia. Ketika kita berdoa, “Dikuduskanlah nama-Mu,” sesungguhnya kita sedang menyatakan kesediaan untuk hidup kudus sesuai dengan karakter Allah yang kita sembah. Inilah konsekuensi dari relasi dengan Tuhan: kita dipanggil untuk hidup selaras dengan-Nya. Karena itu, gereja tidak boleh memandang kekudusan hanya sebagai rangkaian program, kegiatan, atau ritual keagamaan. Kekudusan harus menjadi holiness movement, sebuah gerakan hidup suci yang nyata dalam kehidupan setiap orang percaya. Sebab pengudusan nama Tuhan dimulai dari pengenalan yang benar akan Pribadi-Nya, lalu diwujudkan melalui kehidupan yang mencerminkan karakter-Nya.

Pada akhirnya, menguduskan nama Tuhan bukanlah proyek mempertahankan suatu istilah atau sebutan tertentu, melainkan perjalanan relasional seumur hidup bersama Allah. Semakin seseorang mengenal-Nya, semakin ia diubahkan. Dan seperti Paulus yang rela melepaskan segala sesuatu demi Kristus, demikian pula setiap orang percaya dipanggil untuk terus bertumbuh dalam pengenalan akan Allah dengan menanggalkan manusia lama dan mengenakan kehidupan yang baru di dalam Dia.