Matius 1:1-17 bukanlah narasi yang hanya berisi daftar nama atau sekadar memuat silsilah sebuah “keluarga”, melainkan terdapat cerita dan pemaknaan yang mendalam. Perikop ini merupakan “pintu gerbang” dari Injil Matius. Dengan demikian, untuk menemukan pemahaman “ruang-ruang” yang terdapat di dalam Injil Matius, setiap pembaca harus melalui pintu gerbang tersebut terlebih dahulu. Semua tema besar yang terdapat dalam Injil Matius, yang terdiri atas dua puluh delapan pasal, diorkestrasi oleh perikop awal ini.
Dalam tradisi sastra Yahudi, diksi atau kata silsilah bukan hanya berisi dokumen genealogis atau kajian tentang asal-usul, sejarah keluarga, dan penelusuran jalur keturunan seseorang atau sekelompok orang berdasarkan ikatan darah. Namun, silsilah juga memuat sebuah pernyataan teologis: hakikat Tuhan, sifat-sifat-Nya, serta relasi-Nya dengan manusia dan alam semesta. Silsilah yang tercantum, yang terdiri atas tujuh belas ayat, mengungkap siapa orang-orang ini dan apa kepentingan nama mereka dicatat. Dengan demikian, penempatan daftar nama dalam silsilah pada bagian awal tulisan hendak menyampaikan: “Anda perlu tahu siapa Dia dan dari mana Ia berasal, sebelum mendengar seluruh perkataan dan pengajaran-Nya.”
Penempatan Injil Matius dalam kanonisasi di bagian awal Perjanjian Baru merupakan positioning yang strategis. Di sini, penjelasan silsilah menjadi narasi pertama yang dibaca untuk menelusuri perjalanan panjang kitab-kitab yang terdapat di dalam Perjanjian Baru. Perikop ini menjadi jembatan penghubung antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Ia menarik benang merah dari Abraham dalam kitab Kejadian, melalui Daud dalam kitab 2 Samuel, melalui para nabi dan raja, hingga tiba pada sosok sentral, pusat dari dua perjanjian, yakni Tuhan Yesus Kristus.
Mari kita melakukan pendalaman dengan menelusuri ayat-ayat pada perikop Injil Matius 1:1-17. Ayat 1: “Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.” Kalimat pembuka ini secara harfiah menunjuk pada sebuah kitab asal-usul atau daftar kelahiran. Nampaknya, apa yang ditulis oleh Matius sebagai pembuka pintu gerbang dalam Perjanjian Baru ini tidak dapat dilepaskan dari pernyataan-pernyataan yang terdapat dalam era Perjanjian Lama. Terdapat setidaknya dua referensi yang relevan, yaitu Kejadian 2:4: “Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan” dan Kejadian 5:1: “Inilah daftar keturunan Adam.”
Matius sedang mengetengahkan sesuatu yang sangat penting dalam keseluruhan perjanjian Allah, yakni bahwa dengan kelahiran, keberadaan, atau eksistensi Tuhan Yesus, sebuah episode penciptaan baru dimulai. Mekanisme atau proses penyelamatan manusia dimulai. Tuhan Yesus bukan sekadar masuk dalam rangkaian sejarah manusia yang sudah ada, tetapi Ia memulai sebuah sejarah yang baru.
Pernyataan “Yesus Kristus” menunjuk kepada Yesus yang diurapi. Inilah gelar yang disandang oleh Tuhan Yesus. Dengan demikian, penempatan gelar ini pada kalimat pertama dalam seluruh Injil merupakan sebuah deklarasi, klaim, atau pernyataan inti: “Kitab ini adalah tentang Yesus yang diurapi.” Ini adalah narasi penting sebagai penggenapan nubuatan yang dinantikan sejak era Perjanjian Lama.
Secara kronologis, Adam eksis terlebih dahulu daripada Abraham, tetapi Matius menuliskan nama Daud, kemudian nama Abraham. Dalam tradisi lisan dan literasi Yahudi, gelar “Anak Daud” merupakan gelar kemesiasan yang langsung dan kuat. Dalam Injil Lukas 18:38, seorang buta berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Seruan orang buta itu mencerminkan pengakuan mesianis yang berkembang pada masa itu kepada Yesus. Dengan demikian, memosisikan Daud pada urutan pertama dalam silsilah menunjuk pada klaim mesianis yang paling mendesak untuk ditegaskan. Namun, penyebutan Abraham setelah Daud tidak berarti ia menjadi tidak penting. Dalam Kejadian 12:3 tertulis: “Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Dengan memasukkan nama Abraham, Matius hendak menyampaikan pesan penting bahwa kehadiran Tuhan Yesus bukan hanya sebagai penyelamat bagi bangsa Israel semata, tetapi sebagai penggenapan berkat bagi semua kaum, seluruh umat manusia, dan segala bangsa.