Pikiran dan Perasaan Manusia

Dari segala sesuatu yang Allah percayakan kepada manusia, ada satu yang paling penting yang di dalamnya kita memiliki tanggung jawab untuk mengelola dengan benar. Jadi, alam semesta dengan segala isinya ini belumlah sesuatu yang bernilai dibanding dengan yang satu ini, yaitu pikiran dan perasaan manusia; kemampuan untuk bernalar dan kemampuan untuk merasakan. Dari dua komponen ini, manusia bisa memiliki kehendak. Kehendak manusia ini nanti akan membuahkan tindakan-tindakan atau membuahkan perbuatan-perbuatan yang nyata, yang pasti akan dirasakan oleh dirinya sendiri, orang lain, alam, dan juga Allah. Sejatinya, ini adalah kepercayaan terbesar yang Allah berikan kepada manusia. 

Natur dari kehendak manusia adalah bebas, artinya manusia dapat memproduksi sendiri kualitas dari kehendak tersebut yang nanti akan melahirkan perilaku atau perbuatan, dan itu tergantung dari individu tersebut. Kalau seseorang mengelola pikiran dan perasaannya dengan benar, ia dapat membuahkan kehendak yang benar pula. Dari kehendak yang benar, akan terekspresi dalam perilaku atau tindakan. Dalam hal ini, Allah tidak mengintervensi kehendak bebas manusia. Itulah sebabnya Allah berkata kepada manusia pertama, “Kamu boleh makan semua buah di taman ini, kecuali yang satu ini.” Jika kita membaca di dalam kitab Kejadian 3, ditulis “Perempuan itu melihat dengan mata.” Mata merujuk pada jendela jiwa dimana ada pikiran, perasaan; “bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya,” pikirannya bermain; “lagipula pohon itu menarik hati,” perasaannya bermain. Manusia mengambil keputusan dari kehendaknya. 

Jadi, kejatuhan manusia ke dalam dosa berangkat dari kegagalannya mengelola pikiran dan perasaannya sendiri. Dari hal ini, manusia tidak mampu memproduksi kehendak yang sesuai dengan apa yang Allah ingini. Tentu saja manusia yang tidak mampu memproduksi kehendak sesuai dengan apa yang Allah ingini, menjadi manusia yang tidak berkualitas. Itulah sebabnya dalam Roma 3:23 dikatakan, “semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah,” bukan “kemuliaan manusia.” Manusia masih bisa memproduksi kehendak yang baik dalam kualitas manusia, bukan kualitas Allah. Maka, manusia tidak memiliki keagungan Allah, kemuliaan Allah. Manusia pertama yang memiliki kemuliaan, keagungan Allah itu Yesus. Dari pikiran dan perasaan, manusia bisa dihasilkan sesuatu yang bernilai tinggi, bernilai kekal. Ibarat tambang, bisa ditambang dengan kekayaan yang tidak terbatas. Tergantung apakah seseorang mengelola dengan baik pikiran dan perasaannya, sehingga pikiran dan perasaan manusia itu menjadi berkualitas tinggi, bernilai tinggi, dan dapat menghasilkan kehendak. Setiap kehendak yang dihasilkan selalu sesuai dengan pikiran, perasaan Allah. 

Manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah, artinya manusia yang telah jatuh dalam dosa, tidak mampu memproduksi kehendak yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Itulah sebabnya, Yesus datang memberi keselamatan, artinya agar manusia diberi kemampuan untuk kembali bisa mengelola pikiran dan perasaan sesuai dengan standar yang Allah inginkan, seperti rancangan semula. Sehingga, manusia bukan hanya memiliki gambar Allah, yaitu memiliki komponen pikiran dan perasaan, tapi manusia juga memiliki keserupaan dengan Dia dalam kualitas pikiran dan perasaan tersebut. Jadi, keselamatan dalam Yesus Kristus berfokus pada keserupaan dengan Allah. Itulah sebabnya dalam Filipi 2 dikatakan, “Hendaknya kita memiliki pikiran dan perasaan Kristus.” Yesus Kristuslah manusia pertama yang bisa memiliki kemuliaan Allah itu. Di dalam Roma 8:28-29 dikatakan, “Dia menjadi yang sulung.” Di balik pernyataan itu, ada panggilan agar kita wajib—dan memang bisa—seperti Dia. Keselamatan memiliki fokus agar kita memiliki pikiran dan perasaan Kristus. 

Dalam Ibrani 2:17 dikatakan, “dalam segala hal disamakan dengan kita,” Dia bisa merasakan kelemahan-kelemahan kita. Kelemahan dalam hal apa? Kelemahan untuk mencapai rancangan Allah semula itu. Bukan sekadar kelemahan masalah fana, tapi masalah kekekalan. Kelemahan yang terkait dengan bagaimana manusia dapat menemukan kembali kualitas hidup seperti yang Allah rancang sejak semula. Jadi, sekarang kita harus sadar bahwa di dalam diri kita ini ada kekayaan kekal yang luar biasa. Sebab, apa artinya kita sebagai makhluk kekal kalau tidak berkualitas? Sungguh suatu kebanggaan apabila ketika kita masih hidup di bumi ini, pikiran dan perasaan kita bisa diolah sehingga menghasilkan pikiran dan perasaan yang berkualitas tinggi, dan dalam seluruh kehendak kita sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.

Kejatuhan manusia ke dalam dosa berangkat dari kegagalannya mengelola pikiran dan perasaannya sendiri.