Skip to content

Perspektif Lain

Ada satu hal yang bisa kita temukan dari tulisan Paulus yang begitu kaya dengan hikmat Allah, yang selama ini dilihat hanya dari perspektif dogmatis sehingga dilahirkannya doktrin teologi sistematika yang membangun teologia di dalam pikiran atau nalar. Memang bisa menjadi satu keasyikan, menyenangkan untuk dibahas, kemudian dikhotbahkan, diseminarkan, dijadikan buku, kemudian juga menjadi kurikulum dalam salah satu mata kuliah di perguruan tinggi keagamaan Kristen atau STT. Para sarjana di bidang teologi pun tidak habis-habisnya menggali tulisan Rasul Paulus dari perspektif dogmatis. 

Tetapi setelah melewati tahun panjang melayani Tuhan, melihat dan mengalami realitas hidup, juga realitas dalam hidup orang-orang Kristen di lingkungan gereja, realitas hidup para pelayan jemaat atau pejabat gereja, dan realitas hidup para dosen dan pengajar Sekolah Tinggi Teologi, kita bisa menemukan bahwa mestinya tulisan Paulus tidak hanya dilihat dari perspektif dogmatis, tetapi juga harus dilihat dari perspektif lain. 

Apa yang ditulis oleh Rasul Paulus harus dilihat dari perspektif lain, yaitu bagaimana menemukan implementasi konkret dalam kehidupan, sehingga apa yang dialami Paulus, juga kita alami. Paulus adalah model atau potret dari standar orang percaya. Tidak diragukan, Paulus mengikuti jejak Gurunya, sehingga ia bisa berkata, “Ikutilah teladanku seperti aku mengikuti teladan Kristus. Ikutlah aku seperti aku ikut Kristus.” Kita harus bisa mengambil inti dari tulisan Paulus dan menerapkannya di dalam kehidupan kita, sehingga menjadi gerak hidup yang menyenangkan Tuhan. 

Setiap perilaku dari hidup manusia—dalam konteks ini orang percaya—tercatat. Tentu yang tercatat bukan sesuatu yang buruk, sebab sesuatu yang buruk akan dibuang ke dalam api kekal. Hidup kita harus bisa ditorehkan dengan tinta emas, sebab perilaku kita yang agung yaitu perilaku yang juga dikenakan oleh Yesus, akan mengikuti kehidupan orang yang percaya. Seperti yang dikatakan oleh firman Tuhan, “Berbahagialah orang yang mati dalam Tuhan sejak sekarang ini. Sungguh, kata Roh, supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.” Perilaku orang ini—yaitu orang yang mati dalam Tuhan—ditoreh dengan tinta emas karena membahagiakan dan menyukakan hati Bapa di surga. 

Perpustakaan secara harfiah yang memuat buku-buku dan data-data tertulis, akan lenyap. Sehebat apa pun doktrin, sistematika teologi yang ditulis, akan lenyap. Tetapi perilaku kehidupan seseorang, buah dari pengertian atas kebenaran yang ditulis oleh Paulus, akan menjadi dokumen kekal di dalam Kerajaan Surga. Bagaimana kita bisa menangkap nafas dan jiwa kebenaran yang termuat dalam tulisan Paulus? Tentu bukan hanya diutak-atik dalam nalar, tetapi harus mengubah, mewarnai manusia batiniah kita. Semakin kita mempelajari tulisan Paulus dari sudut pandang atau perspektif ini, maka kita menemukan bahwa apa yang dikatakan Tuhan Yesus benar sekali. 

Ketika orang bertanya, “Sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Yesus menjawab, “Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Berjuanglah untuk masuk melalui pintu sesak itu. Sebab Aku berkata kepadamu: banyak orang berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.” Kehidupan Paulus itu standar; standar hidup orang percaya. Sebab, Paulus benar-benar menjadi pengikut Kristus, mengikut jejak-Nya. Yesus adalah Anak Allah yang menjadi manusia dan juga disebut Anak Manusia. Dia telah menunjukkan model dari hidup yang harus dimiliki oleh anak-anak Allah yang taat kepada Bapa. Paulus adalah model dari pengikut Yesus; anak manusia yang dilahirkan dalam darah dan daging seperti kita, yang berhasil, yang berprestasi meneladani Tuhan Yesus. Maka, dia yakin bahwa mahkota kebenaran tersedia baginya. 

Mari kita melihat tulisan Paulus dari perspektif yang lain, yaitu bagaimana kita bisa menangkap nafas, jiwa kebenaran yang akan mendesak kita untuk memperagakan atau melakukannya. Sebab kalau hanya di nalar menjadi pengetahuan teologi, sehebat apa pun susunan sistematika teologi tersebut, tidak akan mendesak kita untuk mengimplementasikan di dalam hidup. Sudah berabad-abad tulisan Paulus hanya menjadi khasanah ilmu pengetahuan yang melahirkan perdebatan-perdebatan yang berekor pada pengucilan, penghukuman, pembunuhan, pertikaian. Jauh dari nafas kebenaran yang termuat di dalam tulisan Paulus. 

Tulisan Paulus itu standar. Tetapi bagi manusia modern, mustahil untuk dilakukan. Kalau kita mengikuti apa yang ditulis oleh Paulus, pasti kita menjadi orang-orang yang memiliki kehidupan yang tidak wajar. Paulus sendiri juga dipandang tidak wajar. Gurunya sendiri juga dicap “gila.” Tetapi tidak ada pilihan kalau kita mengaku percaya Tuhan Yesus dan kita memiliki Alkitab Perjanjian Baru yang sepertiganya ditulis oleh Rasul Paulus. Kita harus mengikuti jejak Tuhan Yesus dan meneladani kehidupan Paulus yang memang merupakan standar hidup orang percaya. 

Apa yang ditulis oleh Rasul Paulus harus dilihat dari perspektif lain, yaitu bagaimana menemukan implementasi konkret dalam kehidupan, sehingga apa yang dialami Paulus, juga kita alami.