Saudaraku,
Deklarasi iman yang sangat fundamental dan mendasar terlahir dari hati seseorang yang kelihatan biasa-biasa saja dan sederhana, yaitu Daud. Mazmur yang dinarasikan Daud ini bukan sekadar puisi religius, melainkan autobiografi spiritual, kisah perjalanan kerohanian sebagai pengalaman, baik keberhasilan hingga kegagalan yang dialami. Daud menarasikannya dengan perspektif ganda, yaitu Daud sebagai mantan penggembala yang tahu persis sifat domba, dan sebagai manusia yang membutuhkan perlindungan untuk “digembalakan” oleh kekuatan sejati dari Yang Maha Tinggi.
Pengakuan Daud tersebut bukan spontanitas, secara tiba-tiba, sekonyong-konyong, atau seketika muncul begitu saja tanpa perjuangan, melainkan dari suatu proses perjalanan panjang di realita kehidupan yang terus terakumulasi dari waktu ke waktu. Daud menegaskan dengan terang benderang bahwa Tuhan adalah gembalanya, bukan gembala orang lain. Ini merupakan sebuah pengakuan yang bersifat rahasia, sangat confidential dari hubungan yang berelasi dengan Tuhan yang terbangun sedemikian rupa seiring berjalannya waktu.
Daud tadinya bukan siapa-siapa, tetapi ketika Allah berkenan atasnya, maka tiada yang dapat membendungnya dalam meraih keberhasilan, kesuksesan yang begitu nyata dalam hidupnya. Kedekatan, keakraban, keintiman Daud dengan Tuhan jelas teridentifikasi dalam reaksi, bukan aksi, melalui ketaatannya dan ketertundukannya kepada Tuhan. Kedekatan, keintiman dengan Sang gembala termanifestasikan sangat jelas oleh Daud, bukan pernyataan retorika semata melainkan sebuah fakta realita. Lika-liku perjalanan yang panjang telah membentuk Daud sebagai orang yang berkenan di hadapan Allah.
Saudaraku, mari kita memperhatikan dengan seksama Mazmur 23:1-6, yang diawali dengan sebuah pernyataan yang berbobot yaitu: “Tuhan adalah gembalaku” dan diakhiri pula dengan pernyataan iman yang tajam: “aku akan tinggal bersama Tuhan sepanjang masa.” Sekalipun waktu itu Daud belum mengalami realita ayat 6 tersebut, bahkan di antara ayat 1 dan 6, ia tetap konsisten melibatkan Tuhan dengan menggunakan kata ganti orang ketiga yaitu Ia, Engkau. Sehingga tidak berlebihan Allah berkenan atas hidupnya Daud.
Di Mazmur 122:1, Daud sebagai seorang gembala menggunakan metafora sebuah kiasan yang dipahaminya secara tepat dan benar, yaitu hubungan antara gembala yang berdedikasi tinggi terhadap domba gembalaannya. Ketika kambing domba gembalaannya menghadapi binatang buas seperti singa dan beruang, Daud tampil dengan penuh tanggung jawab untuk menghadapinya. Pengalaman tersebut terbingkai sebagai bentuk nyata perlindungan Tuhan atas hidupnya (1Sam. 17:37).
Jadi, kalimat “Tuhan adalah gembalaku” tidak boleh hanya menjadi pernyataan retorika dalam bertutur kata, melainkan fakta realita dari pertumbuhan kedewasaan rohani orang yang percaya kepada Tuhan.
Teriring salam dan doa,
Tim Penggembalaan Rehobot
Kalimat “Tuhan adalah gembalaku” tidak boleh hanya menjadi pernyataan retorika dalam bertutur kata, melainkan fakta realita dari pertumbuhan kedewasaan rohani orang yang percaya kepada Tuhan.