Skip to content

Perjuangan

 

Wahyu 3:21

“Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.”

Kita sering mendengar pernyataan para pembicara, pengkhotbah, atau jemaat yang berkata, “Kita lebih dari seorang pemenang.” Pernyataan ini sebenarnya perlu dipahami dengan benar maknanya. Sebab jika isi pemaknaannya keliru, dampaknya dapat sangat merusak pertumbuhan rohani pendengarnya. Pada umumnya, makna yang sering dilekatkan pada kalimat “kita lebih dari seorang pemenang” adalah memperoleh berkat: kelimpahan ekonomi, kesembuhan, atau berbagai pencapaian hidup. Ada pula yang menafsirkannya sebagai kemenangan atas konflik dengan sesama—perkara hukum, disharmoni rumah tangga, atau relasi antarmanusia.

Namun, ketika firman Tuhan berkata “Barangsiapa menang,” kalimat ini sekaligus menegaskan bahwa ada potensi seseorang dapat kalah. Kemenangan bukan sesuatu yang otomatis. Kita harus realistis bahwa setiap bentuk kemenangan memerlukan perjuangan. Seorang petinju tidak akan menang hanya dengan berdoa dan berpuasa. Meskipun ia seorang Kristen, ia tetap harus berlatih, bekerja keras, dan bertanggung jawab atas setiap usahanya. Doa bukan substitusi dari usaha. Begitu pula dengan firman “Barangsiapa menang” dalam Wahyu 3:21. Kemenangan rohani harus diisi dengan usaha, kesungguhan, dan kerja keras rohani.

Pernyataan dalam Wahyu 3:21 ini diberikan kepada jemaat Laodikia—jemaat yang merasa dirinya sudah menang karena berbagai kepemilikan dan kenyamanan yang mereka miliki. Namun Tuhan menegur mereka, karena apa yang mereka anggap sebagai kemenangan tidak sesuai dengan apa yang Allah kehendaki. Mereka gagal paham. Kita tidak boleh merasa pemenang atau merasa “diberkati” hanya karena memiliki segala keindahan fasilitas duniawi. Paradigma seperti itu merendahkan hakikat Allah dan menyesatkan. Yang Allah kehendaki dari anak-anak-Nya adalah sehakikat dengan-Nya, satu perasaan, satu pikiran dengan Kristus. Kita harus berjuang keras untuk mencapai apa yang Tuhan inginkan, yakni kesempurnaan seperti Bapa dan keserupaan dengan gambar Anak Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus.

Ada kalimat yang sangat meneguhkan dalam ayat ini: “sebagaimana Akupun telah menang.” Ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus pun melalui proses perjuangan. Kemenangan-Nya dalam mengenakan kodrat ilahi bukan pemberian cuma-cuma. Tidak ada kolusi antara Allah Bapa dan Sang Anak. Untuk membuktikan kebenaran ini, Tuhan Yesus harus berjalan di Via Dolorosa dan disalibkan. Ia menang karena Ia taat penuh kepada kehendak Bapa, bahkan sampai mati. Karena itu, perkara “masuk dan duduk dalam Kerajaan Allah” bukan sekadar anugerah pasif, tetapi pilihan dan perjuangan yang harus dimulai sejak sekarang.

Ingat! Apa pun yang kita lakukan sebagai orang percaya akan bergema sampai kekekalan—apakah itu gema perbuatan baik atau justru perbuatan jahat. Banyak hal dalam hidup boleh dianggap sepele, tetapi jangan main-main dengan perkara yang berkaitan dengan kekekalan. Ini bukan sekadar tentang hidup 70, 80, atau 100 tahun; ini tentang nasib kekal selama-lamanya. Karena itu, kita harus sungguh-sungguh mengerjakan keselamatan kita menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Jangan berbuat dosa lagi, sebab orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa—hamba dari Sang Penguasa Kegelapan, Lusifer.

Memasuki tahun 2026 yang penuh misteri, marilah kita berjalan bersama Tuhan dengan tekun: mencari Dia dalam doa pribadi dan doa bersama, membaca firman-Nya setiap hari, dan berhimpun dengan orang-orang benar yang tulus. Dengan demikian, kita akan memasuki dan menjalani tahun yang penuh rahasia ini dalam penyertaan Allah Yang Maha Kuasa.